Current Issues

Inggris Teliti Kombinasi Penggunaan Dosis Dari Dua Vaksin Covid-19 yang Berbeda

Dwiwa

Posted on February 6th 2021

 

Inggris tengah melakukan uji coba baru terkait vaksin Covid-19. Menurut laporan BBC, para peneliti di negara ini sedang mencari tahu apakah mencampurkan dan menggunakan dua vaksin Covid-19 yang berbeda untuk dosis pertama dan kedua akan efektif.

Vaksin yang saat ini digunakan uji coba adalah Pfizer/BioNTech dan Oxford/AstraZeneca, yang sama-sama membutuhkan dua dosis. Pada studi yang dilakukan oleh National Immunisation Schedule Evaluation Consortium ini, relawan akan dapat masing-masing satu dosis.

Sebanyak 800 sukarelawan berusia 50 tahun atau lebih yang belum mendapat vaksin dilibatkan dalam penelitian ini. Mereka akan menerima dua dosis vaksin seperti biasa dengan selang waktu empat atau 12 minggu, dengan satu suntikan Oxford dan satu lagi Pfizer.

Penelitian akan berlangsung 13 bulan tetapi ilmuwan berharap dapat mendapatkan temuan awal pada Juni. Sementara itu, tidak ada perubahan yang dilakukan pada proses vaksinasi saat ini.

Jika nantinya efektif, ini akan memberikan lebih banyak fleksibilitas dalam peluncuran vaksin. Ilmuwan juga mengatakan menggabungkan vaksin mungkin memberi perlindungan yang lebih baik.

Wakil kepala petugas medis Inggris, Profesor Jonathan Van-Tam menyebut pihaknya masih mempelajari apakah bisa atau tidak mencampur vaksin bisa memberikan keuntungan yang pasti. Sebab banyak orang yang membutuhkan vaksin, tapi kondisinya pasokan vaksin saat ini terbatas.

Menteri Vaksin Nadhim Zahawi mengatakan kepada BBC bahwa pendekatan pencampuran vaksin telah digunakan sebelumnya untuk penyakit lain. Misalnya hepatitis, polio, campak, gondok, dan rubela. Beberapa program imunisasi Ebola juga mencampurkan berbagai vaksin untuk meningkatkan perlindungan.

Profesor Matthew Snape dari Universitas Oxford sekaligus kepala peneliti studi mengatakan, penelitian terhadap hewan menunjukkan respon antibodi yang lebih baik dengan penjadwalan yang beragam. Dibanding jadwal langsung dari dosis vaksin.

Dia mengatakan ini adalah studi yang sangat menarik yang akan memberikan informasi untuk peluncuran vaksin di seluruh dunia.

Di belahan dunia lain, penelitian serupa, juga dilakukan oleh ilmuwan Inggris dan Rusia, di Rusia. Mereka menguji kombinasi vaksin Oxford/AstraZeneca dan Sputnik V Rusia.

Sementara itu, Amerika Serikat yang saat ini menggunakan vaksin Covid-19 Pfizer/BioNTech dan Moderna sepertinya tidak tertarik dengan penelitian penggabungan vaksin. Komite Penasihat Praktik Imunsasi (ACIP), mengatakan jika kedua vaksin yang mereka pakai saat ini tidak bisa ditukar. Selain itu, keamanan dan kemanjuran vaksin yang dicampur juga belum dievaluasi.

Meski begitu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) telah memperbarui pedoman untuk memungkinkan dalam situasi luar biasa seseorang bisa mendapat dosis kedua dari merk yang berbeda.

"Dalam kondisi sangat jarang, beberapa orang mungkin tidak memiliki dokumentasi atau mengetahui vaksin mana yang mereka dapatkan pada dosis pertama," jelas pembaruan mereka.(*)

Related Articles
Current Issues
Vaksin Pfizer Diklaim Bisa Lindungi dari Mutasi Baru Covid-19

Current Issues
Ini Risiko dan Efek Samping yang Mungkin Dialami Saat Vaksinasi Covid-19

Current Issues
Vaksin Covid-19 Terbukti Penting Atasi Pandemi, Turunkan Infeksi Sampai Kematian