Current Issues

Efek Pandemi Paling Terasa untuk Orang yang Beranjak Dewasa, Kalian Juga?

Dwiwa

Posted on February 1st 2021

 

Pandemi Covid-19 menjadi tantangan berat bagi anak-anak dan orang dewasa. Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang memiliki usia tanggung antara anak-anak dan dewasa?

Dilansir dari AP, pergeseran demografi seabad terakhir telah memunculkan tahap perkembangan yang berbeda disebut “masa dewasa yang baru muncul”. Ini termasuk mereka yang berada di akhir remaja dan awal 20-an.

Masa ini merupakan periode transisi yang ditandai dengan penjelajahan kehidupan dan cinta, pekerjaan dan pandangan terhadap dunia. Namun karena pandemi yang lama mengganggu pendidikan, pekerjaan, dan lan sebagainya, anak muda yang bukan lagi remaja tetapi tidak cukup dewasa tengah berjuang menemukan pijakan mereka.

“Generasi ini kehilangan periode transisi kunci,” ujar Kathryn Sabella, direktur penelitian di Transtitions to Adulthood Center for Research. Dia telah mempelajari efek pandemi pada kaum mudah dengan kondisi kesehatan mental dan menemukan pola isolasi, kecemasan dan ketidakpastian.

“Kami melihat banyak tekanan tentang sekolah, mencari pekerjaan dalam jangka pendek, dan jangka panjang, seperti apa ini semua?” ujarnya. “Ada rasa kehilangan harapan dan putus asa.”

Beranjak dewasa adalah waktu kunci untuk mengeksplorasi karir, tetapi pandemi menahannya. Sementara beberapa peserta studi Sabella mendapatkan lebih banyak jam kerja di sektor jasa, yang lain berjuang bekerja dari rumah atau menganggur.

Misalnya saja Connor Payne asal Texas yang baru diberhentikan dari pekerjaan perencana acara dan mempertimbangkan meninggalkan industri sampai pandemi berlalu.

“Saat ini saya sedang duduk dengan kemarahan dan membiarkan diriku merasakannya,” ujar pria berusia 23 tahun tersebut. “Tetapi aku memiliki kepercayaan diri di masa depan, aku sangat berharap.”

Di Redland, California, Hans Westenburg juga berharap bisa tetap berada di jalurnya untuk menjadi seorang dokter meski dia khawatir kualitas pendidikannya menurun karena kelas online.

“Ini tidak buruk, tetapi aku merasa agak tertinggal, aku tidak bisa benar-benar menjelajahi ambisiku,” ujar pria 19 tahun yang menjadi mahasiswa tingkat dua di University of California-Irvine.

Sementara itu di Universitas Boston, Hyeouk Chris Hahm tengah meneliti bagaimana pandemi terjadi di antara orang-orang muda yang merupakan bagian penting dari angkatan kerja saat ini dan masa mendatang.

Hampir setengah peserta survei melaporkan depresi, kecemasan dan kesepian dan pertanyaan terbuka yang memungkinkan peserta untuk mengekspresikan apa pun yang  ada di pikiran mereka menghasilkan semburan negatif yang mengejurkan. “Orang benar-benar perlu melampiaskannya ke suatu tempat. Mereka ingin didengarkan,” ujarnya.

Jeffrey Arnett, psikolog yang menciptakan istilah “masa dewasa yang baru muncul” dua dekade lalu, memperkirakan populasi ini akan bangkit kembali. Sementara orang yang beranjak dewasa cenderung pesimis tentang masyarakat, tetapi seringkali cukup optimis tentang situasi individu mereka.

“Aku tidak akan mengecilkan kesulitahn mereka,” ujar Arnett, profesor tamu di Tufts University. “Aku hanya ingin menekankan bahwa mereka tangguh, dan mereka berada di titik kehidupan di mana bisa pulih dari satu tahun atau bahkan dua tahun penundaan.”

Arnett dan para ahli pun sepakat pandemi telah menimbulkan tantangan khusus bagi beberapa kelompok di populasi ini, termasuk orang-orang muda dengan penyakit mental serius.

Tingkat masalah kesehatan mental memang meningkat selama periode ini. Kondisi menjadi lebih kompleks dan gangguan paling serius bermunculan, namun kelompok usia ini cenderung tidak mencari dan menerima bantuan.

Kalau kalian bagaimana? Jangan putus asa ya. Terus pupuk harapan dan ingat bahwa tidak masalah jika perjuangan di waktu ini cukup berat. Namun jika terasa sangat berat, mintalah bantuan kalau memang diperlukan. (*)

Related Articles
Lifestyle
Sering Merasa Gelisah? Hilangkan 5 Mindset Negatif Ini Untuk Lawan Anxiety

Current Issues
Meski Banyak yang Menyangkal, Kaum Muda Juga Meninggal Karena Covid-19

Current Issues
Studi: 1 dari 3 Penyintas Covid Mengalami Gangguan Otak atau Kesehatan Mental