Hobi

7 Manga Ini Dikerjakan Komikus Populer, tapi Gagal di Pasaran. Kok Bisa?

Ahmad Redho Nugraha

Posted on January 31st 2021

Majalah Komik Mingguan Shonen Jump adalah platfrom paling populer dalam memfasilitasi penerbitan karya pertama para mangaka shonen terkenal. Manga seperti Naruto, One Piece dan Bleach mengawali kepopuleran mereka di majalah ini.

Meski demikian, tidak semua mangaka (komikus) Jepang profesional berhasil dalam debut karyanya. Beberapa mangaka bahkan harus gagal dalam beberapa judul manga pertama yang dibuatnya, sebelum karyanya dapat meledak di pasaran.

Selain pada aspek gambar dan cerita, keberhasilan di pasar juga menjadi pertimbangan bagi penerbit manga dalam memutuskan apakah suatu judul manga layak diterbitkan terus atau tidak.

Mainmain.id kali ini merangkum 7 judul karya mangaka populer yang tidak berhasil di pasaran pada saat debut!

 

1. Tetsu No Don Quixote (Tetsuo Hara)

Mungkin tidak banyak yang mengenal manga ini, karena Tetsu no don Quixote diterbitkan pada 1982 dan tidak memiliki banyak volume maupun chapter. Meski demikian, pembaca manga di tanah air mungkin akan mengenali gaya gambar pada cover manga ini.

Testuo Hara, pengarang manga ini adalah orang yang mengarang berbagai judul manga yang terbit di Indonesia dengan label Level Comic, seperti contohnya Fist of The North Star.

Tetsu no Don Quixote bercerita tentang seorang pebalap motor muda bernama Kurasu Gen yang mendalami olahraga balap motor off-road. Gen berhasil naik dari Liga B ke Liga A, dan akan menghadapi berbagai pembalap yang lebih tangguh, termasuk Red Army, kelompok pembalap yang mendominasi Liga A.

Meski gagal dengan manga ini, Tetsuo Hara mampu memperbaiki reputasinya dengan manga Fist of the North Star yang juga tayang di majalah Shonen Jump.

 

2. Otoko-Zaka (Masami Kurumada)

Sama seperti Tetsuo no Don Quixote, Otoko-Zaka juga terbit di Majalah Komik Mingguan Shonen Jump pada tahun 1980-an. Manga ini dibuat oleh Masami Kurumada sebelum masa keemasan Saint Seiya, yang baik manga maupun animenya sukses di Indonesia dan sudah sering diadaptasi ke berbagai jenis spin-off.

Otoko-Zaka bercerita tentang Jingo Kikukawa, seorang siswa SMP berusia 13 tahun yang memiliki kekuatan fisik luar biasa. Jingi merasa dia adalah anak muda paling kuat, hingga pada suatu hari dia bertemu siswa sekolah lain yang lebih kuat, dan dia pun dikalahkan dalam perkelahian. Jingi lalu berlatih lebih keras agar dapat menjadi lebih kuat, sehingga dia dapat mengalahkan semua orang di Jepang.

Berbeda dengan banyak manga di daftar ini, meski Otoko-Zaka dihentikan penerbitannya setelah satu tahun akibat minimnya jumlah pembaca, namun manga ini kembali diteruskan pada athun 2014 dan selesai pada volume ke-11 pada 2020.

 

3. Baoh (Hirohiko Araki)

Baoh terbit di tahun yang sama dengan Otoko-Zaka, yaitu tahun 1984. Namun manga ini menemui ajalnya jauh lebih cepat. Baoh hanya bertahan di Majalah Komik Mingguan Shonen Jump selama 10 bulan.

Manga ini bercerita tentang Ikurou Hashizawa, seorang remaja 17 tahun yang mencoba kabur dari sebuah laboratorium misterius dengan bantuan Sumire, seorang gadis psychic berusia 9 tahun. Tubuh Ikurou ternyata telah disuntik dengan parasit bernama Baoh, senjata mematikan yang dapat mengakhiri peradaban manusia. Manga bergenre horor ini dipenuhi dengan adegan kekerasan brutal dan body horror.

Hirohiko Araki adalah sosok mangaka yang berada di balik manga Baoh. Hanya beberapa tahun setelah Baoh, Araki dapat meraih kesuksesan dengan manga JoJo's Bizzare Adventure yang masih ongoing hingga saat ini, bahkan animenya digandrungi oleh banyak orang.

 

4. Tende Shōwaru Cupid

Siapa sangka jika Yoshihiro Togashi, mangaka bergelar "The King of Hiatus" yang menciptakan Yuyu Hakusho dan Hunter x Hunter ternyata pernah membuat manga bergenre shonen love?

Tende Shōwaru Cupid karangannya bercerita tentang seorang putra Yakuza, Ryuji yang sangat pemalu di hadapan perempuan. Ayahnya yang muak dengan sifat Ryuji ingin dia menjadi playboy sejati, sehingga dia pun menyewa jasa Maria, seorang perempuan yang akan mengajari Ryuji caranya menjadi seorang playboy sejati.

Berbeda dengan manga lain di daftar ini, Tende Shōwaru Cupid tidak berhenti tayang karena pemutusan kontrak, melainkan karena Togashi merasa anxious selama mengerjakan manga bergenre percintaan.

Dia sendiri menyebut Tende Shōwaru Cupid sebagai kegagalan total, meski kenyataannya manga debutnya tersebut cukup sukses di pasaran, bahkan mungkin termasuk karya terbaiknya selama membuat komik untuk majalah Shonen Jump.

Setelah berhenti membuat Tende Shōwaru Cupid, Togashi langsung membuat Yu Yu Hakusho yang manga dan animenya sukses di Indonesia. Bahkan adaptasi movie live action Yu Yu Hakusho dikabarkan akan tayang dalam beberapa waktu mendatang.

 

5. Kyūkyoku!! Hentai Kamen

Di Indonesia, judul Hentai Kamen mungkin lebih dikenal berkat film live action-nya yang pernah muncul di situs film Jepang bajakan Indonesia. Hentai Kamen pada mulanya adalah serial manga komedia bsurd yang bercerita tentang Kyosuke, seorang siswa SMA yang bergabung di klub beladiri, namun sangat pemalu di hadapan perempuan.

Pada suatu ketika, gebetan Kyosuke yang bernama Aiko terjebak sebagai sandera dalam sebuah aksi perampokan. Kyousuke yang ingin menyelamatkan Aiko kemudian menyelinap lewat belakang dan berusaha menyamar dengan benda apapun yang dia temukan disana untuk dijadikan topeng.

Dia lalu tanpa sadar mengenakan celana dalam perempuan di wajahnya, yang tanpa dia duga, ternyata justru memberikannya kekuatan super.

Manga aneh ini tayang di Jepang pada tahun 1992 dan berhenti tayang pada 1993, lalu dibuat remake oleh Jin Kobayashi, mangaka School Rumble dan Natsu no Arashi pada tahun 2008. Hentai kamen telah diadaptasi ke dalam beberapa film live action.

 

6. Doll Puppeteer Sakon

Manga Doll Puppeteer Sakon adalah manga shonen misteri yang hanya bertahan 8 bulan di Majalah Komik Mingguan Shonen Jump. Manga karangan Masaru Miyazaki ini bercerita tentang Sakon, seorang detektif sekaligus pemain boneka (puppeteer) yang memiliki boneka magis berusia 100 tahun yang dapat menjadi hidup saat dia sentuh.

Meski ceritanya dikerjakan oleh Miyazaki, Doll Puppeteer Sakon adalah salah satu manga pertama yang digambar oleh ilustrator Death Note, Takeshi Obata. Di karya-karya berikutnya yang dia kerjakan seperti Death Note, Bakuman dan Platinum End, nama Takeshi Obata melambung berkat kemampuan menggambarnya yang luar biasa dan kombinasi cerita apik tulisan Tsugumi Ohba.

 

7. Samurai 8

Sejak tahun 2019 lalu, mangaka Naruto, Masashi Kishimoto memang telah mengerjakan serial manga berikutnya, yaitu Samurai 8. Sesuai namanya, manga ini memang bercerita tentang dunia samurai, hanya saja dengan unsur fiksi ilmiah penuh teknologi canggih dari masa depan.

Samurai 8 menceritakan tentang Hachimaru, seorang remaja difabel yang hidupnya bergantung pada teknologi penyokong kehidupan. Meski demikian, Hachimaru bertekad untuk menjadi seorang samurai kosmis.

Sayangnya, Kishimoto gagal mendapat atensi pembaca lewat manga karangannya satu ini. Kebanyakan pembaca dan reviewer mengeluhkan jalan cerita Samurai 8 yang berantakan, world building yang tidak terfokus dan artwork-nya yang alih-alih dikerjakan oleh Masashi Kishimoto langsung, justru dikerjakan oleh mangaka lain bernama Akira Okubo.

Dan tentu saja, kebanyakan pembaca membandingkan langsung Samurai 8 dengan Naruto, dan itu sangat membanting ekspektasi semua pembaca Samurai 8.

Samurai 8 hanya bertahan hingga 43 chapter dan terpaksa berakhir secara prematur karena penjualannya yang rendah. (*)

Related Articles
Hobi
Oktober 2021, 'Platinum End' Karya Mangaka 'Death Note' Bakal Jadi Anime

Hobi
Mengapa Anime Sangat Populer di Amerika Latin?

Hobi
Sega akan Rilis Mesin Dingdong Game Initial D Juli Ini