Current Issues

Vaksin Dosis Tunggal Johnson & Johnson 66 Persen Efektif Lawan Covid-19

Dwiwa

Posted on January 30th 2021

 

Johnson & Johnson baru saja mengumumkan jika vaksin dosis tunggalnya 66 persen efektif dalam mencegah Covid-19. Dilansir dari Reuters, hasil itu berdasarkan uji coba global yang dilakukan terhadap berbagai varian pada hampir 44 ribu relawan.

Hasil yang didapat oleh tim uji klinis Johnson & Johnson bervariasi di berbagai negara. Di antaranya Amerika Serikat yang memberikan perlindungan mencapai 72 persen. Lalu di beberapa negara Amerika Latin angkanya 66 persen. Dan, hanya 57 persen di Afrika Selatan, tempat varian yang mengkhawatirkan berasal.

Data menunjukkan jika efek vaksin pada varian Afrika Selatan berkurang dibandingkan dengan virus yang tidak bermutasi. Tetapi ahli penyakit menular dan kesehatan masyarakat mengatakan itu masih dapat membantu menekan penyebaran virus dan mencegah kematian.

Data interim yang dipublikasikan Novavax, Kamis (28/1) juga menunjukkan jika vaksin buatan mereka memiliki efektivitas yang lebih rendah terhadap varian virus dari Afrika Selatan.

Saat ini Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 102 juta orang di seluruh dunia dengan total kematian di atas 2,2 juta. Angka itu berdasar catatan Worldometers.

Ahli penyakit menular Amerika Serikat Anthony Fauci mengatakan, dunia membutuhkan vaksin dengan cepat sebagai usaha dalam melawan perubahan yang terjadi pada virus. "Ini benar-benar peringatan bagi kami untuk menjadi lebih gesit dan dapat menyesuaikan diri karena virus ini akan terus berkembang," kata Fauci.

Tujuan utama dari Johnson & Johnson membuat vaksin itu adalah mencegah Covid-19 sedang hingga berat. Dan, vaksin tersebut 85 persen efektif menghentikan penyakit parah dan mencegah rawat inap di semua wilayah terhadap berbagai varian 28 hari setelah imunisasi.

"Itu berpotensi melindungi ratusan juta orang dari keparahan dan kematian akibat Covid-19," ujar Paul Stoffels, kepala petugas ilmiah Johnson & Johnson. Saat ini, perusahaan itu tengah mencari persetujuan izin penggunaan darurat (EUA) dari pihak berwenang di Amerika Serikat, Eropa, hingga berbagai negara lain di dunia.

Sebagai informasi, vaksin Johnson & Johnson menggunakan adenovirus untuk mengirimkan kode genetik ke protein spike virus corona, yang itu bisa memicu respon imun tubuh.

Tetapi dibanding vaksin lain yang saat ini sudah mendapatkan EUA, vaksin Johnson & Johnson memiliki keunggulan tersendiri. Yakni, hanya membutuhkan satu suntikan saja. Sementara vaksin lain seperti Pfizer/BioNTech dan Moderna memerlukan dua suntikan.

Kehadiran vaksinJohnson & Johnson juga menjadi angin segar bagi berbagai negara di belahan dunia, di mana transportasi dan penyimpanan dingin tidak memadai. Sebab, vaksin ini bisa stabil selama tiga bulan saat disimpan pada suhu 2 hingga 8 derajat celcius. (*)

Related Articles
Current Issues
Johnson & Johnson Berencana Uji Coba Vaksin Pada Remaja hingga Bayi

Current Issues
Inggris Teliti Kombinasi Penggunaan Dosis Dari Dua Vaksin Covid-19 yang Berbeda

Current Issues
WHO Setujui Vaksin Sinovac Biotech untuk Penggunaan Darurat Lawan Covid-19