Interest

Peneliti: Mood Jelek Gampang Menular di Kalangan Remaja

Jingga Irawan

Posted on January 21st 2021


Simon Maage (Unsplash)

Masa remaja bagi banyak orang merupakan masa melakukan pencarian jati diri, dan membangun hubungan sosial dengan banyak teman. Jadi wajar gengs, jika pada usia remaja kalian sering bandel. Seperti misalnya nih, pulang larut malam, nggak mematuhi aturan orang tua hingga suka bolos sekolah. Terkadang, perilaku-perilaku tersebut juga dipengaruhi oleh ajakan teman sebaya kalian. Bener nggak?

Dan nggak hanya perilaku saja lho. Mood seorang remaja itu juga mudah menular ke teman-teman di sekitarnya. Hal ini setidaknya sudah ada penelitiannya, yakni studi yang dilakukan Universitas Oxford dan Birmingham. Penelitian itu menyelidiki "penularan emosional" untuk melihat dampak suasana hati seorang individu dalam hubungan sosial di dekatnya.

Hasilnya, mood seseorang akan menjadi mirip ketika mereka menghabiskan waktu bersama-sama. Remaja dengan suasana hati pemarah juga mudah memengaruhi teman sebayanya dibandingkan dengan remaja yang memiliki suasana hati lebih ceria.

Penelitian itu melibatkan remaja berusia 15-19 tahun yang ikut tur konser di luar negeri pada musim panas 2018 silam. Selama tur tersebut, masing-masing dari 79 peserta diminta menyimpan buku harian untuk mencatat suasana hati dan interaksi sosial sehari-hari mereka.

"Studi kami menunjukkan secara meyakinkan bahwa individu dipengaruhi oleh perasaan orang lain di sekitar mereka. Suasana hati itu menular, dan meskipun suasana hati positif dan negatif 'tertangkap', suasana hati yang buruk lebih kuat (mendominasi),” Kata Dr. Per Block, dari Oxford's Leverhulme Center for Demographic Science, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (21/1).

Penelitian ini juga menemukan sisi positif dari penularan mood. Jadi, meskipun seorang remaja berisiko terkena mood buruk dari temannya, mereka juga dapat memengaruhi temannya itu dengan mood yang lebih positif. Sehingga, kegelisahan maupun amarah dari suasana hati yang buruk itu bisa pergi guys.

"Kami berharap (penelitian) ini merupakan langkah untuk memahami mengapa orang jatuh ke dalam kondisi keterpurukan yang panjang, serta faktor sosial yang memengaruhi emosional pada remaja. Dan, dalam jangka panjang, kami berharap mungkin dapat memberi petunjuk bagaimana memberikan dukungan emosional yang mengarah pada peningkatan kesehatan mental," kata Block.

Kondisi emosional anak-anak dan orang dewasa menjadi sumber perhatian utama di kalangan peneliti kesehatan mental, serta pendidikan akhir-akhir ini. Sebab, pembatasan berjarak di tengah pandemi ini mengganggu pembelajaran dan hubungan sosial remaja dan anak-anak di seluruh dunia.(*)

Related Articles
Interest
Lagi Merasa Stuck? Lima Hal Ini Bakal Bantu Balikin Mood Kalian

Portrait
Becky G, Musisi Muda Inspiratif yang Vokal tentang Isu-isu Sosial

Interest
Love Yourself ala Tara Basro