Current Issues

Tantangan Baru Covid-19: Kasus Menggila, Mutasi Makin Menjadi

Dwiwa

Posted on January 20th 2021

 

Perlombaan melawan virus penyebab Covid-19 telah memasuki babak baru. Mutasi yang bermunculan dengan cepat dan semakin lama waktu vaksinasi, akan memperbesar kemungkinan munculnya varian yang bisa mengelabui tes, perawatan, dan vaksin yang sudah ada.

Dilansir dari AP, virus corona jadi semakin beragam secara genetik dan pejabat kesehatan menyebut ini akibat tingginya kasus baru. Setiap infeksi baru memberi kesempatan virus untuk bermutasi saat membuat salinan diri sendiri, mengancam untuk memundurkan kemajuan yang dibuat sejauh ini dalam mengendalikan virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat mendesak agar lebih banyak upaya untuk mendeteksi varian baru. Salah satu varian baru yang cukup membuat khawatir adalah varian asal Inggris yang telah menyebar ke banyak negara di dunia.

Virus ini diketahui bisa menular dengan lebih mudah meskipun tidak menyebabkan penyakit lebih parah. Tetapi ini juga menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara akan meningkatkan kasus rawat inap dan kematian.

“Kita harus melakukan segala yang kita bisa sekarang... untuk mendapatkan transmisi serendah mungkin. Cara terbaik untuk mencegah munculnya strain mutan adalah dengan memperlambat transmisi,” ujar Dr Michael Mina dari Universitas Harvard.

Sejauh ini, vaksin tampaknya masih tetap efektif, tetapi ada tanda-tanda bahwa beberapa mutasi baru dapat mengganggu tes untuk virus dan menurunkan efektivitas obat antibodi sebagai pengobatan.

Menurut Dr Pardis Sabeti, ahli biologi evolusi di Broad Institute of MIT dan Harvard, saat ini kita sedang berlomba melawan waktu. Sebab, virus mungkin bermutasi menjadi lebih berbahaya.

Mungkin saat ini, kaum muda masih enggan mematuhi protokol karena merasa virus ini tidak terlalu berdampak pada mereka, tetapi Sabeti memperingatkan dalam perubahan mutasi, bisa saja menjadi berbeda. Seperti memburuknya wabah Ebola pada 2014 yang dia dokumentasikan.

 

Mutasi terus meningkat

Bukan hal yang aneh jika virus melakukan perubahan kecil atau mutasi pada alfabet genetiknya saat bereproduksi. Ini membantu virus berkembang dan memberikan keuntungan kompetitif untuk menyingkirkan versi lain.

Pada Maret, beberapa bulan setelah virus corona ditemukan di Tiongkok, mutasi yang disebut D614G muncul dan membuatnya lebih dominan karena mudah menyebar.  Dan sekarang, setelah berbulan-bulan relatif tenang, kita mulai melihat beberapa evolusi yang mencolok.

Ahli biologi Trevor Bedford dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle menulis di Twitter jika mereka telah mengamati tiga varian yang menjadi pusat perhatian sejak September yang menunjukkan bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak lagi.

Varian yang diidentifikasi di Inggris dengan cepat mendominasi Inggris dan sekarang dilaporkan setidaknya di 30 negara, termasuk Amerika Serikat. Segera setelahnya, Afrika Selatan dan Brasil melaporkan varian baru.

Pada Selasa, para peneliti di Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles mengatakan varian baru lain telah ditemukan pada sepertiga dari kasus Covid-19 di kota itu dan mungkin memicu lonjakan kasus baru-baru ini.

Mutasi utama pada varian Inggris juga muncul di versi lain yang telah ditemukan di Ohio setidaknya sejak September. Menurut Dan Jones, ahli patologi molekuler di Ohio State, ini mungkin tidak berkaitan dengan perjalanan melainkan mencerminkan virus yang melakukan mutasi serupa secara independen akibat banyaknya infeksi.

 

Pengobatan, vaksin, dan risiko reinfeksi

Beberapa tes laboratorium menunjukkan jika varian yang diidentifikasi di Afrika Selatan dan Brasil mungkin kurang rentan terhadap obat antibodi atau plasma konvalesen, darah kaya antibobi dari penyintas Covid-19, yang selama ini membantu orang melawan virus.

Ini membuat para ilmuwan melakukan pengamatan ketat terhadap kemungkinan tersebut. Di Amerika Serikat misalnya, selain mengamati dengan ketat, pemerintah juga mendorong pengembangan pengobatan multi-antibodi daripada obat tunggal untuk memiliki lebih banyak cara untuk menargetkan virus seandainya terbukti tidak efektif.

Meski begitu, banyak ilmuwan yang yakin jika vaksin yang saat ini mulai digunakan masih akna tetap efektif. Perubahan genetik yang cukup mungkin memerlukan penyesuaian formula vaksin, tetapi ini mungkin bertahun-tahun di masa datang jika kita bisa menggunakan vaksin dengan benar, menurut Dr Andrew Pavia dari Universitas Utah dalam webcast yang dibuat oleh Infectious Disease Society of America.

Para pejabat kesehatan juga khawatir jika virus bisaberubah cukup banyak sehingga orang bisa tertular Covid-19 dua kali. Saat ini kasus ini memang jarang terjadi, tetapi Brasil telah mengonfirmasi kasus pada seseorang dengan varian baru yang telah sakit dengan versi sebelumnya beberapa bulan lalu.

 

Lalu apa yang harus dilakukan?

Loyce Pace, kepala lembaga nirlaba Global Health Council mengatakan jika tindakan pencegahan yang selama ini disarankan masih bekerja dan tetap penting.

“Kami masih ingin orang-orang memakai masker. Kita masih butuh orang-orang membatasi nongkrong dengan orang yang tidak serumah. Kita masih butuh orang mencuci tangan dan benar-benar menerapkan praktik kesehatan masyarakat tersebut, terutama saat varian ini muncul,” ujarnya dalam webcast yang diselenggarakan John Hopkins Bloomberg School of Public Health.

Related Articles
Current Issues
Jangan Kasih Kendor, Ini Saran WHO Tentang Kapan Harus Memakai Masker

Current Issues
Seminggu Cetak 3 Kali Rekor! Yuk Makin Disiplin Protokol Covid-19

Current Issues
Waspada, 7 Gejala Tersembunyi Ini Bisa Jadi Tanda Terinfeksi Covid-19