Current Issues

COVAX, Sebuah Jawaban untuk Pemerataan Distribusi Vaksin di Dunia

Jingga Irawan

Posted on January 19th 2021

WHO

Negara-negara di dunia sudah memulai vaksin Covid-19 sejak Januari 2021 ini. Dan faktanya, yang memulai vaksinasi sebagian besar adalah negara-negara maju saja. Hal ini menarik perhatian sejumlah aktivis hingga pengamat kesehatan.

Sebelumnya, kritik datang dari Amnesty International serta Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika yang menyatakan bahwa distribusi vaksin Covid-19 tak merata. Hanya difokuskan pada sejumlah negara maju.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus juga mengatakan tidak adil jika orang berusia muda dan sehat di negara kaya terlebih dahulu mendapatkan suntikan dibandingkan orang rentan di negara berkembang.

Menurutnya, skema penyebaran vaksin seperti ini hanya akan memperpanjang masa Pandemi Covid-19. Lebih dari 39 juta dosis vaksin telah diberikan kepada 49 negara maju. Sedangkan negara berkembang sisanya tidak sampai mendapatkan seperempat dari jumlah tersebut.

Pemerintah negara-negara maju di dunia meyakini prinsip "saya harus lebih dulu divaksin". Dan hal ini ditakutkan dapat menyebabkan penimbunan serta membuat harga vaksin menjadi lebih mahal.

"Pada akhirnya, tindakan ini hanya akan memperpanjang pandemi, pembatasan yang diperlukan untuk mengatasinya, serta penderitaan manusia dan ekonomi," kata Tedros, dalam sesi Dewan Eksekutif WHO, Senin (18/1) dikutip dari BBC.

WHO menyerukan komitmen penuh terhadap skema pembagian merata untuk vaksin lewat program bernama COVAX. Program itu mulai diluncurkan bulan depan.

COVAX merupakan sebuah inisiatif yang dipimpin oleh aliansi vaksin GAVI, WHO, dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI). Tujuan utama dari dibentuknya aliansi ini adalah untuk memastikan akses yang adil ke vaksin Covid-19 untuk negara-negara miskin dan berkembang.

"Seruan saya kepada semua negara anggota adalah memastikan saat Hari Kesehatan Dunia tiba pada 7 April, vaksin Covid-19 telah diberikan di setiap negara. Hal itu sebagai simbol harapan untuk mengatasi pandemi dan ketidaksetaraan yang ada di akar dari begitu banyak tantangan kesehatan global," lanjut Tedros.

Sebanyak 180 negara telah menandatangani kesepakatan program COVAX, yang didukung WHO dan advokasi vaksin internasional. Tujuannya adalah mempersatukan negara menjadi satu komando sehingga mereka memiliki kekuatan lebih untuk mendapatkan dan melakukan distribusi vaksin.

Sebanyak 92 dari 180 negara tersebut berstatus negara berkembang. Mereka termasuk yang memiliki akses kecil untuk mendapatkan vaksin. Sebagian besar pembelian vaksin mereka pun akan didanai oleh sponsor.

Namun seruan ini rupanya telah mendapatkan tanggapan pedas dari beberapa pemimpin dunia negara maju. Inggris misalnya, yang mengaku telah mendukung penuh program COVAX.

"Inggris adalah pendukung terbesar dunia, pendukung keuangan, program global (COVAX) untuk memastikan akses ke vaksin di semua negara di dunia,” kata Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock.

Tanggapan Inggris ini menegaskan bahwa negara-negara maju di dunia sebenarnya tidak pernah melupakan negara berkembang. Bahkan, Pemerintah Inggris telah menyediakan USD 734 juta atau setara dengan Rp 10 triliun untuk program COVAX.

Sejauh ini, Tiongkok, India, Rusia, Inggris, dan AS telah mengembangkan vaksin Covid-19. Hampir semua negara ini memprioritaskan distribusi kepada penduduknya sendiri. Sementara negara lain harus bersusah payah mencari akses untuk mendapatkan vaksin Covid-19.(*)

Related Articles
Current Issues
Varian Delta Picu Lonjakan Kasus, Perlukah Booster Vaksin Covid-19?

Current Issues
CEO AstraZeneca Klaim Vaksinnya Ampuh untuk Varian Baru Covid-19

Current Issues
Studi: Kombinasi Vaksin AstraZeneca dan mRNA Covid-19 Efektif Lawan Virus Corona