Opinion

Kenapa sih WNA Tinggal di Bali Jadi Viral di Twitter? Ini Sederet Pelanggarannya

Kezia Kevina Harmoko

Posted on January 18th 2021


(Mengandung gambar dari Shutterschock)

Kata "Bali" dan "Bule" jadi trending di Twitter selama beberapa hari belakangan. Keramaian ini diawali oleh sebuah thread yang dibuat akun @kristentootie. Dia seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Amerika yang mempromosikan betapa nyaman dan murahnya hidup di Bali. Nah, apa yang salah dari thread tersebut dan memicu perdebatan di antara warganet? Ini beberapa poin yang dipertanyakan.

1. Menyalahgunakan visa dan tinggal melewati batas waktu

Awalnya, Kristen Gray dan pacarnya berkunjung ke Indonesia pada 2019. Alasannya adalah ia sulit menemukan pekerjaan di Amerika Serikat. Dia ingin meningkatkan gaya hidup. Sampai di bulan Maret 2020, pandemi Covid-19 merebak, dan mereka pun memilih tetap tinggal di Bali.

Semua informasi ini disampaikan melalui thread yang dibuat Gray, namun saat ini Twitter miliknya tidak bisa diakses (lihat di sini untuk hasil capture salah satu warganet).


(Tangkapan layar dari Twitter @gastricslut)

Kalau diasumsikan saat pertama kali datang ke Indonesia pada 2019 ia menggunakan visa kunjungan, kedua WNA tersebut hanya bisa tinggal selama 60 hari. Dan harusnya dia bisa memperpanjang maksimal 30 hari untuk empat kali (totalnya 180 hari). Ini artinya ada indikasi mereka tinggal melewati batas waktu.

Indonesia memang punya beberapa jenis visa, namun yang bisa didapatkan saat ini hanya visa B221A. Visa untuk tugas resmi dinas dalam bidang humaniora, volunter, bisnis, dan investasi. Padahal melalui thread tersebut Gray menyebut ia punya bisnis desain grafis secara daring. Berarti bidang pekerjaannya di luar dari syarat visa tersebut dan artinya menyalahgunakan visa kunjungan.

 

2. Tidak bayar pajak

Pemilik akun Twitter @Saundraaa yang diduga adalah pacar dari Gray sempat mengetwit kalau ia tidak bayar pajak Indonesia karena menghasilkan uang dalam kurs USD. Walaupun kini Twitternya di-private, warganet banyak menyebarkan screenshoot dari pernyataannya tersebut.

(Tangkapan layar dari Twitter @hoyomangeung)

Menurut UU nomor 36 tahun 2008 pasal 2, WNA yang tinggal lebih dari 183 hari di Indonesia dalam jangka waktu dua belas bulan sudah menjadi subjek pajak Indonesia.

Artinya mereka harus bayar pajak juga nih. Anggap aja Gray dan pacarnya sudah tinggal sejak 2019. Sekarang sudah 2021. Pastinya lebih dari 183 hari kan?

 

3. Tidak punya izin kerja

Izin kerja di Indonesia untuk WNA disebut dengan IMTA (Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing) atau Work Permit. Untuk punya IMTA, seseorang harus punya sponsor atau penjamin dari perusahaan Indonesia. Prosesnya ribet dan sulit.

Karena Gray menyebut dirinya sebagai pengusaha bisnis desain grafis, ia tidak punya perusahaan yang menjamin. Artinya jelas, ia belum punya izin kerja.

 

4. Mengajak WNA lain untuk tinggal di Bali


(Tangkapan layar dari Twitter @gastricslut)

Bisa dibilang ini yang paling fatal. Pasangan tersebut merilis sebuah eBook berjudul Our Bali Life Is Yours yang isinya perjalanan mereka hidup di Bali, lengkap dengan semua informasi yang diperlukan untuk masuk ke Bali, bahkan di masa pandemi.

Dalam kata lain, mereka mengajak orang asing untuk pindah ke Bali secara ilegal, persis seperti yang mereka lakukan. Halo? Pandemi masih ada.

 

Terus kenapa kalau banyak WNA pindah?

Mungkin ada yang berpikir kalau semakin banyak WNA tinggal di Bali, warga setempat akan untung dong karena pasti butuh tempat tinggal, makanan, dan lain sebagainya. Kalau dilihat secara dangkal, memang ada pemasukan di sana. Tapi, denda overstay dan pajak yang seharusnya dibayar pasti punya nominal yang jauh lebih besar daripada semua biaya tersebut.

Kedua, Indonesia sebenarnya masih tergolong negara berkembang. Sedangkan Amerika Serikat? Negara maju. Negara adidaya. Mata uang mereka punya kekuatan jauh lebih besar dari Rupiah. Orang dengan penghasilan dolar AS punya kemampuan finansial jauh dari orang yang pemasukannya Rupiah.

Bayangkan orang yang penghasilannya dolar AS, tapi pengeluarannya Rupiah. Jadi kaya raya kan? Mereka jadi mampu membeli banyak hal yang mungkin orang lokal sendiri tidak mampu. Lama kelamaan, daerah Bali bukan lagi dimiliki penduduk asli, melainkan diduduki kekayaan warga asing. Atau disebut juga gentrifikasi. Apa yang tersisa buat orang lokal—warga di negara sendiri? (*)

Related Articles
Current Issues
Berlaku Mulai 1 April, Ini Aturan Baru Jika Ingin Melakukan Perjalanan

Lifestyle
Wisata Bali Bakal Dibuka untuk Turis Domestik Akhir Juli, Asing September

Entertainment
Sinopsis 'Kajeng Kliwon': Pernikahan Agni dan Nicho Terancam Makhluk Halus