Lifestyle

Terlalu Banyak Informasi Negatif Bikin Stres? Cobain Tips Sederhana Ini

Dwiwa

Posted on January 18th 2021

Kasus Covid-19 yang belum usai dan banyaknya bencana yang menimpa Indonesia di awal 2021 ini mungkin membuat beranda berbagai media sosial kita dipenuhi dengan berita buruk.

Karena rasa ingin tahu dan simpati, tanpa sadar kita selalu mencari berita-berita yang berkaitan dengan kejadian tersebut tanpa menyadari jika sebenarnya kita sedang menuju jalan yang akan menjerumuskan kita dalam sebuah situasi negatif.

Dilansir dari Healthline, ahli kesehatan mental mengatakan jika salah satu cara yang dilakukan orang dalam merespon berita negatif adalah dengan melakukan doomscrooling berita di sosial media.

Doomscrooling adalah sebuah istilah yang diciptakan untuk menggambarkan cara orang menggulir media sosial dan sumber berita online lain yang hanya berfokus pada berita buruk atau menyeramkan.

Tonya C. Hansel, PhD, LMSW, direktur doctorate of social work program di Universitas Tulane mengatakan kecenderungan ini mungkin berkaitan dengan respon “lawan atau kabur”. Saat seseorang menghadapi situasi tertekan, kecenderungan bawaan mereka adalah melarikan diri atau bersiap untuk bertarung.

Doomscrooling mungkin merupakan cara yang aman untuk melawan mekanisme stres atau menyiapkan mental untuk situasi negatif,” ujar Hansel. Dia juga menyebutkan gagasan bahwa membandingkan kehidupan seseorang dengan yang lebih negatif berperan dalam validasi diri.

Menurut Hansel, kedua respon ini sangat alami dan membantu kita menghindari menjadi Pollyannaish atau optimis yang tidak realistis. “Masalahnya, menjadi terlalu sibuk dan terlalu fokus pada berita negatif,” ujarnya.

Allison Holman, PhD, FNP, profesor di Sue and Bill Gross School of Nursing di Universitas California mengatakan jika terjebak dalam berita buruk bisa menjadi masalah karena ini berhubungan dengan peluang lebih besar untuk terjadinya gejala stres akut.

Menurut Holman, ini merupakan gejala awal dari stres pasca-trauma dan dikaitkan dengan masalah kesehatan mental selanjutnya. Di antara masalah tersebut bisa berupa depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Selain itu, masalah kesehatan fisik seperti nyeri tan peningkatan risiko penyait kardiovaskuler mungkin juga terkait dengan stres yang tinggi.

Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak terjebak dalam lingkaran berita buruk di media sosial? Menurut Holman, berikut beberapa tips yang bisa membantu.

 

- Matikan halaman berita.

- Pilih satu atau dua sumber terpercaya sebagai sumber informasi terpercaya.

- Pilih waktu satu atau dua kali sehari untuk membuka berita. Matikan di waktu lainnya.

- Batasi jumlah waktu kalian membaca berita.

- Jika kalian tergoda untuk memeriksanya, coba lakukan hal lain yang bisa mengalihkan, seperti jalan-jalan atau bermain dengan hewan peliharaan.

- Hindari berita dari sosial media. Ini sering bias dan dipenuhi informasi keliru.

- Gunakan situs pengecekan fakta seperti Snopes sebelum membagikan berita yang kalian lihat di sosial media.

- Periksa apa yang tubuh kalian rasakan saat membaca berita. Jika merasa tegang atau sakit atau kesulitan bernapas, matikan.

- Jika kalian merasa cemas saat  membaca berita, hentikan dan lakukan sesuatu yang membuat kalian senang, seperti mendengarkan lagu.

- Selalu terhubung dengan orang-orang tersayang untuk mengobrol dan mendapatkan kenyamanan saat kalian merasa stres.

 

Apa yang disarankan Holman ini juga disetujui oleh Hansel. Tetapi dia juga mempunyai beberapa tips tambahan agar kalian tidak terjebak dalam lingkaran negatif ini.

- Hindari memeriksa berita di waktu tidur karena itu membuat kalian sulit tidur atau tidur nyenyak jika fokus pada hal negatif.

- Matikan berita saat mulai diulang-ulang karena itu sudah bukan lagi hal baru.

- Hindari berita yang sensasional dan opini, karena bisa meningkatkan level stres.

- Baca headline terlebih dahulu jadi kalian bisa memutuskan apa yang penting untuk dibaca dibanding membaca seluruh informasi.

 

Nah, jika tips diatas tidak juga membantu menurunkan kecemasan atau depresi dan masih terjebak dalam kemarahan, kecemasan, khawatir dan menghindari hal yang kalian sukai, itu berarti sudah waktunya kalian menemui profesional. Jangan ditunda ya. (*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Peneliti: Tingkat Kecemasan dan Depresi di Kalangan Mahasiswa Terus Melonjak

Current Issues
Studi: Pasien Covid-19 Mungkin Lebih Berisiko Terkena Masalah Kesehatan Mental

Current Issues
Stres Akibat Covid-19 Dapat Berdampak Pada Kebugaran Fisik