Interest

Wajib Tahu! Misinformasi dan Disinformasi, Apa Sih Bedanya?

Ahmad Redho Nugraha

Posted on January 16th 2021

Di era komunikasi digital seperti sekarang, informasi dapat menyebar dengan sangat cepat, terutama via media sosial. Kecepatan perputaran informasi tersebut membuat banyak informasi yang menjadi bias. Alias kerap terjadi misinformasi dan disinformasi.

Meski sama-sama menimbulkan kesesatan paham dan kerap tertukar penggunaan istilahnya, misinformasi dan disinformasi ternyata berbeda guys. Kedua istilah ini dekat dengan kondisi penyebaran informasi secara luas dan selalu mengacu kepada informasi yang salah atau tidak akurat.

Bagaimana cara membedakan misinformasi dan disinformasi, serta kapan dua istilah ini seharusnya digunakan?

Misinformasi lebih mengacu kepada informasi palsu atau tidak akurat, yang disebarkan oleh banyak orang. Baik oleh mereka yang menyebarkan dengan sengaja untuk menipu ataupun mereka yang tidak mengetahui kesalahn informasi tersebut.

Beberapa organisasi seperti Google bahkan sampai membentuk gerakan khusus bernama Goolge News Initiative untuk memberantas penyebaran misinformasi.

Salah satu contoh misinformasi yang pernah menyebar baru-baru ini adalah sinyal seluler 5G dapat memicu kanker bagi orang-orang yang menggunakan perangkat internet.

Contoh lain yang paling sering ditemukan belakangan ini juga berkaitan dengn Covid-19. Misalnya efek samping vaksin yang dapat melumpuhkan, bahkan membunuh penerimanya.

Sementara itu, disinformasi adalah jenis misinformasi yang dibuat dan sengaja disebarkan untuk menipu sebanyak mungkin orang.

"Disinformasi bukanlah fenomena abad ke-21. Saat seseorang kekurangan informasi yang benar, sementara sebagian besar masyarakat berada dalam kondisi yang buruk, maka disinformasi biasanya akan bermunculan," ujar Brian Southwell. Ia merupakan seorang penulis, ilmuwan sosial, sekaligus direktur RTI International (sebuah lembaga penelitian nirlaba).

Nah, biasanya disinformasi ini kerap muncul ketika terjadi bencana. Misalnya bencana alam yang tengah terjadi di Sulawesi Barat (Sulbar) saat ini. Ketika orang sedang mencari informasi tentang bencana itu, dan informasi yang benar sendiri tidak segera bisa didapat karena sulitnya akses komunikasi di lokasi bencana, biasnaya muncul orang-orang iseng. Mereka menyebarkan gambar-gambar lama yang disebut sebagia bencana di Sulbar tersebut. 

Menurut Southweel, misinformasi bisa menjadi disinformasi jika dibagikan oleh kelompok orang yang tahu soal kebenaran, namun tetap sengaja menyebarkan misinformasi tersebut. Contohnya ya seperti di atas tadi. Ketika ada orang sudah tahu ada foto-foto bencana yang tidak berkaitan dengan kejadian di Sulbar, dan itu disebarkan dengan penjelasan bencana di Sulbar, maka di situlah terjadi disinformasi.

Rumor, gosip, dan segala teori konspirasi yang tidak terbukti juga tergolong sebagai disinformasi.

Menurut Southwell, ada beberapa kriteria yang umumnya terdapat pada misinformasi ataupun disinformasi. Di antaranya, informasi tersebut terlalu baik hingga tidak realistis, cenderung menimbulkan bias, melibatkan emosi yang positif maupun negatif secara berlebihan, tidak memiliki sumber jelas atau bersifat tidak up to date.

Nah, bagaimana sekarang sudah paham kan perbedaan misinformasi dan disinformasi? Kalian jangan sampai jadi korbannya ya.(*)

Related Articles
Current Issues
Meski Ada Vaksin Covid-19, Kehidupan Diperkirakan Baru Akan Normal Pada 2022

Current Issues
Cegah Gelombang Kedua Covid-19, Jepang Cek Antibodi 10.000 Penduduknya

Tech
Bantu Berantas Misinformasi, Adobe Kembangkan Fitur CAI