Current Issues

83 Persen Penyintas Covid-19 Lebih Kebal dari Infeksi, tapi Masih Tularkan Virus

Ahmad Redho Nugraha

Posted on January 15th 2021

Penelitian terbaru ini cukup menarik. Mengungkap soal kekebalan penyitas Covid-19, dan bagaimana mereka berpotensi menjadi penyebar virus.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh lembaga kesehatan umum Inggris, SIREN, ternyata seseorang yang pernah terinfeksi Covid-19  sudah memiliki kekebalan terhadap Covid-19. Setidaknya hingga 5 bulan setelah infeksi. Meski demikian, bukan berarti orang tersebut tidak bisa lagi menyebarkan Covid-19.

Penelitian SIREN ini sendiri melibatkan 20.787 sampel di seluruh Inggris. Hasilnya, sebanyak 44 orang dari 6.614 orang yang memiliki antibodi masih bisa terjangkit virus korona untuk kedua kalinya, dalam 5 bulan setelah infeksi pertama.

Peneliti mengatakan, antibodi membuat seseorang menjadi 83 persen lebih kebal terhadap infeksi kedua. Sementara itu, vaksin Pfizer, BioNTech dan Moderna dapat memberikan proteksi hingga 95 persen.

Kisaran 83 persen tersebut berasal dari model statistik yang dibandingkan dengan jumlah sampel yang positif mengindap kembali Covid-19 pada dua kelompok sampel, dari waktu ke waktu. Kemungkinan ada variabel eksternal lain yang mempengaruhi hasil risetnya, seperti lokasi sampel, etnis dan keterlibatannya sebagai staf kesehatan.

Sampel dalam penelitian tersebut melalui pengecekan darah dan tes swab berkala dalam 1 hingga 4 pekan. Antara 18 Juni hingga 24 November. Antibodi memang sudah lama diketahui dapat memberikan kekebalan terhadap penyakit yang sama dalam jangka waktu tertentu. Antibodi penyakit demam biasa, misalnya, umumnya dapat bertahan selama 12 bulan.

Meski demikian, menurut Susan Hopkins, penasihat kesehatan senior, penelitian ini setidaknya memberikan gambaran awal tentang daya proteksi yang diberikan antibodi terhadap Covid-19.

Sayangnya, hasil penelitian tersebut masih hasil awal dan belum dipublikasikan, ataupun dikaji kembali oleh ahli lainnya.

Hopkins juga mengatakan jika hasil penemuan dini ini bisa membuat orang-orang tidak salah paham. Menurutnya, tidak semua orang yang memiliki antibodi terlindung dari potensi infeksi kembali. Dan, durasi perlindungan berkat antibodi tersebut juga masih perlu dikaji lagi.

"Kami yakin jika orang-orang (pemilik antibodi) masih bisa menularkan virus," tukas Hopkins.

Pernyataan tersebut didukung oleh Lawrence Young, virolog dan profesor di Jurusan Onkologi Molekular di Warwick Medical School. Menurutnya, seseorang dengan antibodi masih membawa partikel virus korona dalam jumlah besar yang dia sebut dengan nama viral load. Jadi, seseorang dengan antibodi masih dapat menularkan virus korona.(*)

Related Articles
Current Issues
Cegah Gelombang Kedua Covid-19, Jepang Cek Antibodi 10.000 Penduduknya

Current Issues
Ilmuwan Tiongkok: Mutasi Coronavirus Tertentu Lebih Mematikan

Current Issues
Dosis Vaksin Keempat Naikkan Antibodi, Tapi Tak Cukup Ampuh Lawan Omicron