Current Issues

Vaksin Buatan Johnson & Johnson Tampak Menjanjikan untuk Tangani Covid-19

Ahmad Redho Nugraha

Posted on January 14th 2021

Pandemi yang tak kunjung usai membuat berbagai perusahaan dunia terus mengembangkan vaksin terbaik versi mereka masing-masing. Salah satunya adalah perusahaan produsen produk kecantikan dan kesehatan, Johnson & Johnson. Vaksin yang mereka kembangkan saat ini telah mencapai fase uji klinis. 

Rabu (13/1) lalu, Johnson & Johnson mempublikasikan data vaksin Covid-19 buatannya ke khalayak publik. Data tersebut mengungkapkan jika vaksin mereka terbukti meningkatkan imunitas tubuh peserta uji klinis setelah vaksinasi dilakukan.

Data tersebut dipublikasikan via New England Journal of Medicine. Meski demikian, publik masih bertanya-tanya apakah vaksin buatan Johnson & Johnson lebih ampuh dari vaksin yang saat ini tengah disiapkan oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Dalam pengujian klinisnya, peserta vaksinasi memiliki antibodi penetral yang dapat diukur melalui satuan rata-rata geometris, titer. Kadar antibodi mereka berada di kisaran 224 hingga 354 titer pada hari ke-29 setelah vaksinasi dengan satu dosis.

Pada hari ke-57, kadar antibodi mereka meningkat menjadi 288 hingga 488 titer. Kadar antibodi tersebut sudah cukup untuk membangun imunitas. Dengan menaikkan jumlah dosis vaksin, maka kadar penetral antibodi di tubuh penerima vaksin Johnson & Johnson mungkin akan meningkat.

Meski demikian, berapa banyak kadar vaksin yang diperlukan untuk menangkal Covid-19 masih menjadi pertanyaan.

"Hanya karena respons penetralnya tinggi, belum tentu vaksin ini ampuh," ujar Paul Offit, kepala Vaccine Education Center di Rumah Sakit Anak Philadelphia. "Bisa saja, respons imun yang dipicu oleh dosis pertama vaksin sudah cukup, dan itu berarti tidak perlu ada penambahan jumlah dosis vaksin."

Pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab melalui uji klinis fase ketiga. Vaksin yang berhasil pada fase ketiga ini akan menjadi kunci penentu dalam melawan penyebaran Covid-19, meski jumlahnya kemungkinan akan sangat terbatas.

Saat ini telah ada dua vaksin di AS yang memasuki uji klinis fase ketiga. Salah satunya melibatkan 440.000 sukarelawan dengan satu dosis vaksin yang hasilnya akan diketahui dalam dua pekan mendatang. Uji klinis lainnya dilakukan dengan jenis vaksin yang sama, namun menggunakan dua dosis vaksin yang diberikan dengan jarak waktu 57 hari untuk menguji daya tahan vaksin.

Johan Van Hoof, kepala divisi vaksin global Johnson & Johnson mengatakan jika kualitas vaksin yang ideal dalam masa pandemi berbeda dengan vaksin di masa-masa normal.

"Perbedaannya terdapat pada kondisi epidemi, dimana dilakukan kampanye vaksinasi dalam skala besar, maka penggunaan (vaksin) satu dosis akan memberikan keuntungan, meski tentu saja akan ada tradeoff dari segi daya tahan dan perlindungan," tukas Van Hoof.

Jika hasil ujicoba berikutnya dari vaksin Johnson & Johnson dinyatakan positif dalam beberapa pekan mendatang, maka data tersebut akan dikumpulkan ke Lembaga Makanan dan Obat-obatan AS dan memungkinkan penggunaan darurat vaksin tersebut pada Februari nanti.

Jika demikian, maka rintangan berikutnya bagi Johnson & Johnson adalah menyediakan vaksin dalam jumlah besar untuk melakukan vaksinasi massal. Johnson & Johnson mengatakan, tanpa persetujuan pemerintah, maka mereka tidak dapat mengestimasikan berapa jumlah dosis yang mampu mereka siapkan setiap bulannya. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Sebelum Suntik Vaksin, Lakukan Dua Hal Ini Agar Respon Imun yang Muncul Maksimal

Current Issues
Penerima Wajib Mendaftar Sebelum Memperoleh Vaksinasi Covid-19

Current Issues
Punya Riwayat Alergi? Regulator Obat Inggris Sarankan Hindari Vaksin Pfizer