Sport

8 Atlet Bulu Tangkis Tersangkut Kasus Pengaturan Skor, Dua Ajukan Banding ke CAS

Dwiwa

Posted on January 12th 2021

Ada kabar tidak sedap dari dunia olahraga Indonesia. Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) mengungkap ada delapan atlet bulu tangkis asal Indonesia yang tersangkut kasus pengaturan skor lewat situs resmi mereka.

Kedelapan pemain ini diketahui saling mengenal dan berkompetisi di turnamen internasional level bawah di Asia sampai tahun 2019. Kedelapannya disebut melanggar aturan integritas BWF berkaitan dengan pengaturan pertandingan, memanipulasi pertandingan atau taruhan bulu tangkis.

Kedelapan pemain itu akhirnya dijatuhi hukuman serius oleh BWF. Tiga diantaranya, yakni Hendra Tandjaya, Ivandi Danang, dan Androw Yunanto, terbukti melakukan koordinasi pengaturan skor pada orang lain dan dihukum tidak boleh bertanding dan melakukan semua kegiatan yang berkaitan dengan bulu tangkis selamanya.

Sementara lima lainnya, Sekartaji Putri, Mia Mawarti, Fadilla Afni, Aditiya Dwiantoro, dan Agripinna Prima Rahmanto Putra mendapat skorsing antara enam hingga 12 tahun. Mereka juga harus membayar denda antara USD 3 ribu (Rp 42 juta) sampai USD 12 ribu (Rp 168 juta).

Tetapi dua dari kelima pemain ini merasa tidak puas dengan keputusan tersebut dan berencana melakukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss. Berdasarkan Rilis resmi PBSI pada Senin (11/1), Mia dan Agripinna merasa tidak bersalah melakukan rekayasa hasil pertandingan atau berjudi.

Keduanya pun berkunjung ke Pelatnas PBSI untuk meminta bantuan mengajukan banding ke CAS. Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI Eddy Sukarno mengatakan jika PBSI akan membantu dan mendampingi keduanya karena mereka masih sebagai warga PBSI. Memori banding ini pun akan segera dikirim setelah ditandatangani.

Kasus itu sendiri membuat Agripinna dijatuhi skors enam tahun tidak boleh terlibat dalam hal yang berkaitan dengan bulu tangkis dan didenda USD 3 ribu (Rp 42 juta). Tetapi menurutnya, tuduhan soal pengaturan skor saat di turnamen Vietnam Terbuka pada 2017 tidak benar dan dia hanya sebagai korban.

Agripinna juga membantah melakukan taruhan dengan Hendra. Dia mengatakan hanya ingin mentraktir Hendra makan jika Dionysius Hayom Rumbaka jagoannya menang melawan Hashiru Shimono asal Jepang. Tetapi ternyata pilihan itu dimasukkan Hendra ke rekening perjudian online yang dimiliki Hendra hingga pada akhirnya menyeret Agripinna.

"Kesalahan saya adalah karena tidak melaporkan terjadinya perjudian tersebut ke BWF. Namun sebagai pemain, saya pun tidak mengetahui kalau tidak melapor itu adalah melanggar Etik BWF. Saya pun tidak tahu harus melapor ke siapa, yang saya tahu, pelanggaran Etik BWF itu hanya soal perjudian saja," tutur Agripinna.

Sementara Mia mendapat hukuman lebih berat dengan skorsing 10 tahun dan denda USD 10 ribu (Rp 140 juta) atas tuduhan menyetujui, menerima uang Rp 10 juta hasil perjudian, tidak melaporkan perjudian pada BWF, dan mangkir dari wawancara atau undangan investigasi dari BWF.

Menurut Mia, uang Rp 10 juta itu merupakan uang saku bagi dirinya selama kejuaraan berlangsung. Dia tidak tahu bahwa uang itu berasal dari hasil perjudian yang dilakukan Hendra.

Soal tuduhan dirinya menyetujui retired di New Zealand Open 2017 pada partai ganda putri juga sama sekali tidak benar. Menurutnya, dia telah menolak untuk retired tetapi Hendra sebagai official meminta kepada wasit agar pertandingan dihentikan dengan alasan Mia cidera padahal sebenarnya tidak.

Terkait tidak melaporkan adanya perjudian pada BWF, Mia memiliki alasan yang sama dengan Agripinna. Dia tidak tahu jika itu melanggar kode etik. Dia hanya tahu pelanggaran kode etik hanya perjudian saja.

Sedangkan soal mangkir dari wawancara investigasi BWF, Mia menyebut jika mereka tidak pernah melakukan investigasi langsung. “BWF tidak pernah melakukan investigasi langsung kepada saya, sehingga saya tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya. Dengan demikian putusan BWF dilakukan secara sepihak tanpa mendengar penjelasan dan pembelaan dari saya sebagai korban,” jelas Mia. 

Selain Mia dan Agripinna, Putri Sekartaji juga turut datang ke PBSI. Tetapi dia tidak melakukan banding dan memilih untuk menerima hukuman 12 tahun skorsing dan denda USD 12 ribu (Rp 168 juta). (*)

Related Articles
Sport
Sosok Anthony Ginting yang Juarai Indonesia Masters 2020

Sport
BWF Menahbiskan Liliyana Natsir Sebagai Pebulu Tangkis Putri Terbaik Dekade Ini

Sport
Yuk Dukung Indonesia di Indonesia Master 2019!