Current Issues

Muncul Lagi Istilah PPKM untuk Pembatasan Jawa-Bali, Apa Bedanya dengan PSBB?

Dwiwa

Posted on January 9th 2021

Keputusan pemerintah memberlakukan pembatasan aktivitas di wilayah Jawa-Bali beberapa waktu lalu sempat menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Lonjakan kasus di kedua pulau ini membuat pemerintah membuat kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah tersebut.

Wah, istilah baru lagi nih. Alih-alih memberlakukan lockdown seperti di negara lain, Indonesia memang lebih suka memilih melakukan berbagai jenis pembatasan untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Lalu apa bedanya sih PPKM dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diperkenalkan awal pandemi?

Sebenarnya kedua istilah ini tidak terlalu berbeda jauh. Sama-sama memberlakukan pembatasan terhadap aktivitas masyarakat. Istilah PPKM pun digunakan karena PSBB dianggap memiliki kesan jika pembatasan dilakukan secara masif di seluruh Jawa-Bali, padahal tidak demikian.

Dilansir dari Detik, menurut Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, PPKM ini jangkauannya tidak seluas PSBB. Dan hanya berlaku di beberapa daerah yang memiliki kondisi Covid-19 mengkhawatirkan.

Penentuan lokasi yang akan diterapkan PPKM ini juga harus memenuhi empat parameter yang ditentukan. Mulai dari tingkat kematian di atas rata-rata kematian nasional, tingkat kesembuhan di bawah kesembuhan nasional, tingkat kasus aktif di atas rata-rata nasional, dan keterisian rumah sakit (BOR) untuk ICU dan isolasi di atas 70 persen.

Aturan yang berlaku pada PPKM ini juga tidak seketat PSBB -yang diterapkan di Jakarta di awal pandemi pada April lalu. Bisa dibilang aturannya lebih longgar. Tidak ada pembatasan orang keluar-masuk provinsi. Restoran pun masih tetap boleh makan di tempat meski kapasitasnya hanya 25 persen.

Selain itu, dalam PPKM tempat ibadah juga masih bisa beroperasi dengan ketentuan kapasitasnya hanya 50 persen. Berbeda dengan PSBB DKI Jakarta pada April yang menutup semua kegiatan tempat ibadah untuk umum.

Mall atau pusat perbelanjaan juga masih bisa beroperasi selama PPKM, tapi dibatasi hanya sampai pukul 19.00 WIB. Kantor juga harus menerapkan work from home (WFH) sebanyak 75 persen selama pemberlakuan PPKM mulai 11 hingga 25 Januari mendatang.

Nah, kurang lebih itulah perbedaan istilah antara PSBB dan PPKM. Apapun istilah yang dipakai pemerintah kali ini, tujuan dari kebijakan yang diambil sebenarnya sama, yakni menghentikan penyebaran Covid-19 yang semakin membludak di Indonesia.

Sebagai catatan, buah dari libur panjang Natal dan Tahun Baru sudah mulai menunjukkan hasil. Dalam tiga hari terakhir, rekor baru kasus harian terus dicatat. Pada Rabu (6/1) rekor harian tercatat 8.854, Kamis (7/1) 9.321, dan Jumat (8/1) 10.617. Penambahan ini membuat total kasus hingga Jumat (8/1) menjadi 808.340.

Melihat pertumbuhannya yang semakin masif, sudah saatnya kita semakin memperketat protokol kesehatan 3M. Ingat selalu untuk memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak minimal 2 meter, dan menghindari kerumunan agar kasus Covid-19 di Indonesia tidak semakin buruk ya.(*)

Related Articles
Current Issues
Membuka Jendela Selama Pandemi Covid-19 itu Penting! Kok Bisa?

Current Issues
CDC: Tinggallah di Rumah Saat Liburan, atau Lakukan Tes Covid-19 Dua Kali

Current Issues
Waspada, 7 Gejala Tersembunyi Ini Bisa Jadi Tanda Terinfeksi Covid-19