Opinion

Desain Ulang Mahjong, Perusahaan Amerika Dianggap Lukai Budaya Tiongkok

Kezia Kevina Harmoko

Posted on January 8th 2021


(Mengandung gambar dari Shuttershock dan The Mahjong Line)

Tahu permainan Mahjong? Itu lho, permainan yang dimainkan Rachel Chu sama mamanya Nick Young di film Crazy Rich Asians. Permainan yang kadang disebut Mahyong ini berasal dari Tiongkok dan jadi kebudayaan khas untuk masyarakat di sana.

Baru-baru ini, sebuah perusahaan Amerika Serikat bernama The Mangjong Line merilis Mahjong ”versi lebih segar dan modern“ yang tidak diminta siapapun.

Salah satu produk Mahjong buatan The Mahjong Line

Versi modifikasi dari permainan turun-temurun itu jelas menuai kecaman. Ngapain sih mengubah permainan yang bukan dari negara sendiri jadi versi yang lebih “baik”?

Tindakan ini bisa dibilang melukai budaya asli Tiongkok, dengan menganggapnya tidak cukup baik bagi masyarakat yang tidak berasal dari Tiongkok. Kan gak masuk akal ya merevisi kebudayaan negara orang lain?

Sejarah Mahjong

Mahjong diperkirakan sudah tercipta sejak abad ke-10, ada juga yang menyebut permainan ini eksis di pertengahan tahun 1800-an. Yang jelas, permainan dengan 144 ubin ini berasal dari Tiongkok dan baru masuk ke Amerika Serikat pada 1920-an.

Game tersebut sukses besar di negeri Paman Sam. Karena permainan Mahjong tidak mudah, muncul sebuah peraturan versi Amerika yang lebih simpel di tahun 1935. Dari sini muncul sebutan “American Mahjong” yang sebenarnya turunan dari Mahjong asli. Ada tambahan delapan ubin Joker yang gak ada di permainan asli.

Apa yang dilakukan The Mahjong Line

Perusahaan berlokasi di Dallas yang didirikan tiga orang wanita ini menawarkan versi “segar” dari Mahjong karena salah satu pendiri merasa Mahjong tradisional kurang mengasyikkan (ini ada di pernyataan situs mereka, namun sudah dihilangkan sejak menuai kontroversi).

Pernyataan dari themahjongline.com yang sudah dihapus dari situs (Buzzfeed)

Cara mereka membuat Mahjong menjadi lebih baik (bagi mereka) adalah mengubah warna ubin jadi lebih aesthetic (pink, hijau, dan biru), membuat ragam ubin sendiri (menggantikan beberapa huruf bahasa Tiongkok dengan gambar tanaman modern dan ornamen lain).

Mereka menjualnya dengan harga 325-425 USD (sekitar Rp4,5 sampai Rp6 juta) padahal harga normal permainan klasik yang berkisar di angka 30-100 USD (sekitar Rp423 ribu sampai Rp1,4 juta).

(The Mahjong Line)

Kenapa tindakan ini salah besar?

Pertama, versi revisi untuk memperindah Mahjong ini dilakukan oleh orang Amerika. Padahal, yang punya budaya adalah Tiongkok. Dengan pernyataan bahwa “Mahjong kurang mengasyikkan dan tidak mewakili gaya mereka”, ini sama aja menjelekkan budaya asli yang sudah menjadi warisan dari generasi ke generasi.

Mahjong bukan sekadar permainan, tapi menjadi budaya dan bagian hidup banyak orang. Ubin-ubin klasik itu sudah tertanam di memori masa kecil dan menjadi keindahan tersendiri bagi mereka. Nggak perlu mengacaukan budaya yang sudah jadi sisi sentimental bagi banyak orang kan?

Kedua, pendiri The Mahjong Line menyebut bahwa tujuan mereka adalah murni ingin membagikan kecintaan terhadap Mahjong Amerika yang mengandung banyak sejarah di negara tersebut. Ingat, Mahjong Amerika hanya varian yang berasal dari Mahjong Tiongkok. Mengubah Mahjong Amerika berarti mengubah Mahjong Tiongkok juga dan mereka tidak punya hak untuk melakukan itu.

Pernyataan di themahjongline.com

Ketiga, Mahjong tidak perlu dipercantik. Permainan yang dimainkan empat orang ini sudah didesain sedemikian rupa agar mempermudah pemain mengetahui ubin jenis apa yang mereka pegang. Gaya klasiknya sudah umum sehingga mudah diingat. Ditambah lagi ada tekstur tersendiri sehingga kita bisa tahu ubin apa yang kita ambil tanpa melihatnya.

Kalau dilihat dari desain The Mahjong Line, ada tiga seri yang masing-masing punya pola yang berbeda. Ini bakal menyusahkan untuk pemain pemula dan ribet banget untuk diingat.

Zaman berubah. Beberapa permainan memang mengalami perubahan untuk menyesuaikan zaman. Tapi, penyesuaian bukan berarti menghilangkan budaya asli dan menganggap budaya tersebut butuh perbaikan. Amerika, stop deh mengolonisasi budaya negara lain. (*)

Related Articles
Tech
Tiongkok Sukses Bawa Pulang Batu dari Bulan dalam Misi Antariksa

Interest
'Putus' dengan Google Maps Akibat Perang Dagang, Huawei Gandeng TomTom

Current Issues
Banksy Dukung Black Lives Matter Lewat Karya Baru di Instagram