Current Issues

Ini Risiko dan Efek Samping yang Mungkin Dialami Saat Vaksinasi Covid-19

Dwiwa

Posted on January 8th 2021

 

Sejumlah negara di dunia telah memberikan ijin penggunaan darurat beberapa jenis vaksin yang sudah menyelesaikan uji klinis tahap tiga dan terbukti aman serta efektif mencegah Covid-19. Indonesia pun berencana untuk mulai program vaksinasi pada pertengahan bulan ini dengan menggunakan vaksin Sinovac yang sedang menunggu emergency use of authorization (EUA).

Meski begitu, perkembangan vaksin Covid-19 yang begitu cepat tentu membuat banyak orang bertanya-tanya. Sebagian merasa ragu dan khawatir tentang efek samping yang mungkin dirasakan saat mendapat vaksin.

Nah, biar kalian nggak termakan hoax yang dibroadcast di berbagai sosial media maupun aplikasi perpesanan, berikut beberapa risiko dan efek samping yang mungkin dialami saat vaksinasi seperti dilansir dari DW.

 

Reaksi vaksinasi normal

Media sosial dipenuhi oleh perbincangan soal reaksi pasca vaksinasi Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir. Tetapi sebenarnya, munculnya reaksi dari tubuh setelah mendapatkan suntik vaksin apapun, adalah normal.

Beberapa mungkin mengalami kemerahan, bengkak, atau nyeri di sekitar tempat suntikan. Ada juga yang kelelahan, demam, sakit kepala, dan muncul rasa sakit pada anggota badan juga mungkin terjadi pada tiga hari pertama setelah vaksinasi.

Reaksi normal ini biasanya hanya ringan dan sembuh sendiri setelah beberapa waktu. Ini bisa menjadi tanda jika vaksin sedang bekerja, karena itu merangsang sistem kekebalan dan tubuh membentuk antibodi untuk melawan infeksi yang hanya “pura-pura” oleh vaksin.

Karena itu, wajar jika penerima vaksin BioNTech-Pfizer, Moderna, AstraZeneca, dan Rusia Sputnik V yang sudah mendapat ijin penggunaan darurat sebagian melaporkan adanya reaksi tersebut.

 

Efek samping serius jarang terjadi

Efek samping serius seperti syok alaergi memang mungkin terjadi, tetapi sangat jarang. Secara keseluruhan, vaksin yang sudah disetujui oleh Badan Obat Eropa (EMA), Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pasti aman. Jika tidak, mereka tentu tak akan menyetujui vaksin tersebut.

 

Vaksin BioNTech-Pfizer

Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan terjadi dengan vaksin BNT162b2 yang dikembangkan perusahaan BioNTech Jerman dan Pfizer dari AS. Reaksi yang muncul hanya kelelahan dan sakit kepala yang juga lebih jarang saat dalam uji coba.

Tetapi saat digunakan untuk masyarakat luas, vaksin berbasis mRNA ini dilaporkan memicu reaksi alegi parah segera setelah disuntikkan. Satu pasien di AS dan dua di Inggris bahkan mengalami syok anakfilaksis, dikaitkan dengan kemerahan pada kulit dan sesak napas.

Karena individu tersebut tidak diketahui riwayat penyakitnya atau riwayat alergi terhadap bahan vaksin, British Medicine and Healthcare product Regulatory Agency (MHRA) memperingatkan orang-orang yang memiliki alergi terhadap bahan vaksin, atau pernah mengalami syok anafilaksis, untuk tidak mendapat vaksin ini.

 

Vaksin Moderna

Vaksin mRNA-1273 dari perusahaan Amerika Moderna juga merupakan vaksin berbasis gen yang pada prinsipnya sangat mirip dengan vaksin dari BioNTech/Pfizer. Selama uji klinis, relawan mentolerir vaksin dengan baik, menurut produsen dan otoritas pengujian.

Reaksi vaksinasi yang muncul hanya ringan atau sedang dan tidak berlangsung lama. Namun, hampir 10 persen dari mereka yang divaksin mRNA-1273 mengalami kelelahan, menurut laporan sementara oleh panel pengawasan independen.

Pada vaksin Moderna, beberapa pasien juga mengalami reaksi alergi dan sangat sedikit orang yang mengalami kelumpuhan saraf wajah. Tetapi masih belum jelas apakah reaksi ini terkait dengan bahan inti vaksin. Ada kemungkinan efek samping tidak dipicu oleh mRNA, tetapi oleh nanopartikel lipid yang berfungsi sebagai pembawa mRNA dan kemudian dipecah oleh tubuh.

 

Vaksin AstraZeneca

Perusahaan Inggris-Swedia AstraZeneca pada September sempat mengalami insiden menggemparkan saat menjalani uji klinis pada September. Salah satu orang mengalami radang sumsum tulang belakang setelah vaksinasi. Uji coba dihentikan sementara sampai panel ahli independen memutuskan bahwa peradangan mungkin tidak terkait dengan vaksinasi.

Di sisi lain, hanya reaksi umum seperti nyeri di tempat penyuntikan, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan yang muncul dari vaksin AstraZeneca. Sekali lagi, reaksi vaksin lebih jarang dan lebih ringan pada orang yang lebih tua.

 

Vaksin Sputnik V Rusia

Dibanding vaksin yang lain, Sputnik V buatan Rusia paling banyak menimbulkan kontroversi. Awal Agustus 2020 vaksin ini sudah disetuji digunakan tanpa menunggu uji coba Fase III yang melibatkan puluhan ribu orang.

Dunia pun meragukan vaksin yang dikembangkan oleh Gamaleja Research Center di Moskow karena pemerintah Rusia mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat setelah uji coba fase II.

Selain itu, para ilmuwan yang meninjau penelitian tersebut menyuarakan keprihatinan tentang kemungkina  manipulasi data. Meski begitu, saat ini Sputnik V sudah digunakan di negara lain seperti Belarus, Uni Emirat Arab (UEA), India, Brasil, dan Argentina.

Menurut kementerian kesehatan Rusia, sejauh ini hanya reaksi vaksinasi biasa yang muncul seperti sakit kepala atau demam. Di Argentina, reaksi vaksinasi yang khas terjadi pada 317 dari 32.013 orang yang divaksinasi menurut kementerian kesehatan Argentina. Belum ada laporan efek samping parah setelah vaksinasi Sputnik V.

 

Menimbang manfaat dan risiko

Semua risiko dan efek samping yang dilaporkan saat ini hanyalah gambaran singkat dari beberapa bulan terakhir dan harus menjadi catatan disamping kegembiraan tentang pengembangan vaksin yang begitu cepat.

Masih belum diketahui kemungkinan efek jangka panjang dari masing-masing vaksin. Hanya ada studi jangka panjang yang menyertai vaksinasi di seluruh dunia dan akan berlanjut. Sejauh ini, masih jarang informasi tentang efek samping yang langka, mungkin parah, misalnya pada kondisi yang sudah menyertai atau pada kelompok risiko tertentu seperti penderita alergi tertentu.

Bagi kelompok-kelompok tertentu, misalnya anak-anak dan wanita hamil, data vaksin Covid-19 yang ada belum cukup untuk menilai apakah vaksin tersebut aman. Sehingga masih belum disarankan untuk mendapatkan vaksinasi. (*)

Related Articles
Current Issues
Studi: Kombinasi Vaksin AstraZeneca dan mRNA Covid-19 Efektif Lawan Virus Corona

Current Issues
Vaksin Pfizer Diklaim Bisa Lindungi dari Mutasi Baru Covid-19

Current Issues
Vaksin Covid-19 Terbukti Penting Atasi Pandemi, Turunkan Infeksi Sampai Kematian