Current Issues

Para Pemimpin Dunia Kutuk Kerusuhan di Gedung US Capitol

Jingga Irawan

Posted on January 8th 2021

credit: AFP

Kerusuhan yang terjadi di Gedung US Capitol pada Rabu, (6/1) mendapat respon para pemimpin dunia. Mereka mengeluarkan kecaman keras terhadap perusuh yang menyebabkan kerusakan hingga korban tewas. Sebagian besar kecaman dikeluarkan melalui platform online Twitter dan Facebook

Kerusuhan tersebut terjadi bertepatan dengan pengesahan kemenangan Joe Biden. Kondisi semakin memanas ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengulangi klaim palsu kemenangannya kepada pengunjuk rasa.

Saat kekacauan terjadi, beberapa kedutaan besar negara lain di Washington mengeluarkan pemberitahuan darurat warganya untuk tetap tinggal di rumah demi keamanan. 

NATO

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg yang dinilai jarang berkomentar tentang urusan internal negara-negara anggota aliansi, mendesak warga Amerika untuk menghormati hasil pemilihan pada bulan November. "Pemandangan yang mengejutkan di Washington. Hasil demokratis ini harus dihormati," kata Jens melalui akun Twitternya.

Inggris

Pada hari Kamis (7/1), Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengeluarkan pernyataan keras terhadap para perusuh dan Presiden Trump.

"Sepanjang hidup saya Amerika membela beberapa hal yang sangat penting  (gagasan tentang kebebasan dan demokrasi). Dan ... sejauh dia mendorong orang untuk menyerbu Capitol dan selama Presiden secara konsisten meragukan hasil pemilu yang bebas dan adil, saya yakin itu sama sekali salah, "ujarnya dalam jumpa pers dikutip dari CNN, Jum’at (8/1)

"Dan apa yang Presiden Trump katakan tentang itu sepenuhnya salah dan saya tanpa pamrih mengutuk mendorong orang untuk berperilaku memalukan seperti yang mereka lakukan di Capitol," tambahnya.

Parlemen Eropa

Seruan lainnya juga digaungkan oleh Presiden Parlemen Eropa David Sassoli. "Kami yakin AS akan memastikan bahwa aturan demokrasi dilindungi,” kata David melalui unggahannya di Twitter

Swedia, Norwegia, Irlandia

Pernyataan serupa muncul dari Perdana Menteri Swedia. "Presiden Trump dan beberapa anggota Kongres memikul tanggung jawab besar untuk perkembangan," begitu bunyi tweet Perdana Menteri Swedia Stefan Löfven. "Proses pemilihan demokratis harus dihormati,” lanjutnya.

Beberapa pemimpin lain tampaknya menganggap Presiden Amerika Serikat secara pribadi bertanggung jawab atas kerusuhan tersebut dan mendesak agar kekerasan segera dihentikan.

"Apa yang sekarang kita lihat dari Washington adalah serangan yang sama sekali tidak dapat diterima terhadap demokrasi di Amerika Serikat. Presiden Trump bertanggung jawab untuk menghentikan ini. Gambar yang menakutkan, dan luar biasa bahwa ini adalah Amerika Serikat," tulis Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg.

"Adegan yang mengejutkan dan sangat menyedihkan di Washington DC, kita harus menyebut ini apa adanya: serangan yang disengaja terhadap Demokrasi oleh seorang Presiden yang sedang duduk dan pendukungnya, mencoba untuk membatalkan pemilihan yang bebas dan adil! Dunia sedang menonton! Kami berharap untuk pemulihan ketenangan," kata Menteri Luar Negeri Irlandia Simon Coveney.

Kanada

Pemimpin negara sekutunya yang paling dekat, Kanada juga mengatakan bahwa pemandangan di US Capitol merupakan sebuah serang untuk demokrasi. "Warga Kanada sangat terganggu dan sedih dengan serangan terhadap demokrasi di AS, sekutu dan tetangga terdekat kami," katanya di Twitter.

Australia

Perdana Menteri Australia Scott Morrison juga mengutuk kekerasan yang sangat menyakiti AS. "Kami mengutuk tindakan kekerasan ini dan menantikan transfer damai pemerintah ke pemerintahan yang baru terpilih dalam tradisi besar demokrasi Amerika," tulisnya dalam Twitter.

Iran dan Rusia

Sementara, pemimpin negara lain yang selama bertahun-tahun memiliki konflik dengan Amerika Serikat menyerang berlakunya sistem demokrasi yang telah dijalankan. Misalnya, Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut Trump sebagai ‘orang sakit’ yang telah mempermalukan negaranya selama pidato yang disiarkan televisi Kamis (7/1) di kantor berita milik pemerintah Iran.

"Apa yang terjadi di AS menunjukkan betapa rapuhnya demokrasi Barat," katanya Rouhani dikutip dari CNN. "Terlepas dari semua pencapaian ilmiah dan industri mereka, kami melihat pengaruh populisme yang sangat besar. Ketika seorang yang sakit menjabat, kami melihat bagaimana dia mempermalukan negaranya dan menciptakan masalah bagi dunia,” tambahnya.

Kritik yang dilakukan oleh Kosachev mencerminkan perjalanan masa lalu Amerika Serikat mengenai pemaksaan pemberlakuan demokrasi di sebuah negara. Amerika juga terkenal senang memberlakukan sanksi maupun embargo pada negara lain jika tidak menyetujui arahannya. (*)

 

Artikel Terkait
Sport
Lockdown, Kota-Kota Ini Ubah Jalan Raya Jadi Jalur Sepeda dan Jalan Kaki

Current Issues
WHO Resmi Sebut Coronavirus Berasal dari Hewan, Bukan Kebocoran Laboratorium

Current Issues
Plasma Darah Survivor Corona Diujicobakan Jadi Penyelamat Nyawa Pasien Covid-19