Current Issues

Ada Virus Corona Varian Baru yang Lebih Menular, Apa Sih Artinya Buat Kita?

Dwiwa

Posted on January 7th 2021

Jenis baru virus corona yang lebih menular yang pertama kali diidentifikasi di Inggris telah menyebar ke lebih dari 32 negara, termasuk Amerika Serikat. Strain yang disebut B.1.1.7 ini memiliki beberapa mutasi pada kode genetik untuk protein spike, yang digunakan virus untuk menyerang sel.

Dilansir dari Business Insider, perubahan tersebut membuat virus jadi lebih menular. Sebuah studi awal menyebut jika strain ini sekitar 56 persen lebih menular daripada virus asli yang muncul di Tiongkok.

Pejabat pemerintah Inggris sebelumnya memperkirakan bahwa virus tersebut dapat menular hingga 70 persen. Di sisi lain, ahli mengatakan ini bisa diatasi dengan cara yang sama seperti virus aslinya, yakni dengan memakai masker dan menjaga jarak.

“Perilaku manusia memiliki pengaruh besar pada penularan – mungkin lebih besar dibanding perbedaan biologis pada varian SARS-Cov-2. Orang Amerika harus melakukan segala yang mereka bisa untuk menghentikan penyebaran SARS-Cov-2, terlebas dari apakah sudah ada perubahan biologis pada penularan strain yang beredar,” ujar Paul Bieniasz, ahli virus di Howard Hughes Medical Institute.

Jenis yang lebih menular didefinisikan sebagai menyebar lebih mudah dari orang ke orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bulan lalu mengumumkan jika varian baru ini memiliki reproduksi atau R0 sebesar 1,5 lebih tinggi dari pada jenis sebelumnya yang hanya 1,1. Ukuran tersebut mengacu pada jumlah rata-rata orang yang terinfeksi atau orang sakit.

Jadi, perbedaan 0,4 berarti 100 orang sakit akan menulari 150 lainnya, bukan 110, secara rata-rata. “Hipotesis yang berlaku adalah bahwa varian tersebut meningkatkan kemungkinan infeksi setelah terpapar,” ujar Nathan Grubaugh, epidemiologis di Yale School Medicine kepada Business Insider.

Tetapi, bagaimana hal ini terjadi masih belum diketahui. Karena terjadi mutasi protein spike, kemungkinan jenis ini lebih kuat dalam mengikat sel manusia. Atau mungkin setelah masuk ke tubuh, jenis ini lebih ahli dalam mengelabui sistem imun.

Namun, kemungkinan lain adalah bahwa dosis infeksi varian baru lebih rendah. Ini artinya, hanya butuh sedikit partikel virus untuk membuat seseorang sakit dibanding virus aslinya.

Grubaugh berpikir penjelasannya juga bisa jadi bahwa orang yang terinfeksi jenis baru memiliki viral load yang lebih tinggi, yang berarti mereka menghasilkan lebih banyak partikel virus saat terinfeksi. Penelitian awal menunjukkan inilah masalahnya.

Semakin banyak partikel virus yang dikeluarkan seseorang, semakin besar kemungkinannya menginfeksi orang lain. “Menjaga jarak, memakai masker, dan ventilasi harusnya tetap berfungsi,” ujar Grubaugh.

Dan dengan kemampuan strain baru mungkin menyebar lebih cepat, tentu diperlukan tindakan pencegahan ekstra seperti lebih ketat dalam memakai masker dan menghindari semua jenis pertemuan sosial di dalam ruangan.

“Mungkin ini cara sederhana untuk memikirkannya: katakanlah seseorang yang terinfeksi virus jenis yang berbeda berada dalam ruang dengan 20 orang lain, semua tidak memakai masker, orang itu menginfeksi 10 orang,” ujar Grubaugh.

Namun dengan strain baru yang lebih menular, Grubaugh mengatakan mungkin orang tersebut menginfeksi 12 hingga 17 orang tidak bermasker. Jika semua orang memakai masker, mungkin tidak ada yang akan terinfeksi. Bagian itu seharunya tidak berubah.

Para ahli pun semakin merekomendasikan agar orang-orang lebih ketat dalam menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran varian baru ini dan menghindari terjadinya lonjakan kasus yang akan membuat rumah sakit dan tenaga kesehatan kewalahan.

Meski begitu, Charles Chiu, ahli virus di University of California, San Francisco yang membantu mengidentifikasi kasus varian baru ini di California memperingatkan jika rekomendasi ahli terkait strain baru ini bisa berubah karena saat ini masih dipelajari lebih lanjut.

Hal itu terutama jika virus telah melampui aslinya, seperti yang terjadi di beberapa bagian Inggris. Pada Minggu (9/12) tahun lalu, 62 persen dari kasus baru di London adalah kasus baru, naik dari 28 persen dari tiga minggu sebelumnya.

Memang belum ada bukti bahwa jenis baru lebih mematikan dari varian asilnya atau bahwa vaksin tidak akan berhasil. Tetapi karena orang yang terkena virus ini, rata-rata, menginfeksi lebih banyak orang, ini dapat menyebabkan jumlah kematian yang lebih tinggi secara total.

Adam Kucharski, seorang ahli epidemiologi di London School of Hygiene and Tropical Medicine, membandingkan tiga skenario hipotesis di Twitter untuk menunjukkan hal ini.

Asumsikan strain asli virus corona memiliki R0 1,1 dan membunuh 0,8 orang dari setiap 100 orang sakit. Dalam populasi 10 ribu orang, virus itu akan membunuh 129 orang dalam sebulan.

Tapi kemudian katakanlah dua strain baru muncul, salah satunya 50 persen lebih mematikan, sementara yang lain 50 persen lebih menular. Strain yang 50 persen lebih mematikan akan membunuh sekitar 193 dari 10 ribu orang dalam sebulan. Tetapi strain yang 50 persen lebih menular akan berakhir menyebabkan 978 dari 10 ribu orang meninggal pada saat itu karena penyebarannya yang cepat.

“Saya pikir semakin ada konsesus bahwa ada sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi di sini. Dan jika itu jauh lebih menular, kita punya masalah nyata,” ujar Kucharski kepada Business Insider. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Belum Melandai, Daerah-Daerah Ini Alami Lonjakan Covid-19 yang Signifikan

Current Issues
Covid-19 Makin Merebak, Kepala WHO : Negara-negara Berada di Jalur Berbahaya

Current Issues
Ternyata Masih Ada Orang Indonesia yang Percaya Covid-19 Konspirasi, Kalian?