Current Issues

Sepanjang 2020 Kasus Pemblokiran Internet di Dunia Naik 49 Persen, Kok Bisa?

Ahmad Redho Nugraha

Posted on January 6th 2021

Grup peneliti keamanan digital, Top10VPN mengatakan jika sepanjang 2020 lalu, persentase pemblokiran akses internet oleh pemerintah di seluruh dunia mengalami peningkatan. Tak tanggung-tanggung, hingga 49 persen dibandingkan 2019.

Menurut lembaga ini, 93 kasus penghilangan akses internet terjadi di 21 negara di seluruh dunia dengan berbagai cara. Misalnya lewat throttling. Di mana internet yang dapat diakses hanya jaringan 2G. Lalu ada pemblokiran internet secara total dan pemblokiran media sosial.

Dari segi durasi, internet di dunia yang diblokir pemerintah terjadi selama 27.165 jam. Pemblokiran tersebut diduga berdampak terhadap 268 juta masyarakat di seluruh dunia. Atau 3 persen lebih tinggi dari jumlah masyarakat terdampak pada 2019.

Salah satu dampak terburuk dari pemblokiran internet di tahun lalu adalah hilangnya akses masyarakat ke layanan dan informasi kesehatan, yang tentu saja berdampak terhadap penyebaran virus.

Meski dari segi finansial, dampak ekonomi dari pemblokiran internet pada 2020 hanya mencapai separuh dari tahun 2019, tapi pelanggaran hak asasi manusia diduga meningkat jauh lebih signifikan. Laporan Top10VPN mengatakan jika kasus pemblokiran internet lebih banyak terjadi di negara-negara miskin, sehingga dampaknya terhadap perekonomian global memang tidak terlalu besar.

Salah satu pemblokiran yang termasuk mengganggu terjadi di India. India memperoleh kerugian hingga total USD 2,8 juta dengan jumlah pemblokiran akses internet sebanyak 75 kali dalam durasi sekitar 8.900 jam. Top10VPN mengatakan jika angka aslinya kemungkinan besar lebih tinggi dari itu.

Sebagian besar pemblokiran internet tersebut sangat spesifik dan berdampak terhadap kelompok desa atau kota kecil. Di mana kota kecil  tidak dimasukkan ke dalam laporan Top10VPN. Sebab penelitian Top10VPN hanya berfokus pada pemblokiran di wilayah-wilayah besar.

"Pemblokiran (internet) berkepanjangan di Kashmir sangat menimbulkan kerusakan. Pemblokiran ini menghalangi distribusi jasa kesehatan, menghambat pendidikan siswa dan membunuh bisnis lokal," Samuel Woodhams, salah satu penulis laporan tersebut berkata via Business Insider.

India diketahui memblokir akses internet di Kashmir sejak 4 Agustus 2019. Pemblokiran internet ini dihentikan sebagian pada Maret 2020. Namun throttling masih terjadi hingga sekarang sehhingga internetnya sangat lambat.

Woodham juga menambahkan, dalam konteks pandemi, pemblokiran internet menjadi lebih merepresentasikan pelanggaran HAM. Sebab secara tak langsung memperlambat proses penangkalan virus korona.

Kondisi yang serupa juga terjadi di Myanmar. Karena pemblokiran internet, sebagian penduduknya bahkan tidak mengetahui apa-apa soal pandemi Covid-19 hingga Juni 2020 karena terbatasnya akses ke internet.(*)

Related Articles
Tech
Teknologi Facial Recognition Dikembangkan untuk Mengenali Wajah Bermasker

Tech
Twitter Berlakukan WFH Permanen untuk Karyawannya

Tech
Google Resmi Hubungkan Jaringan Internet Eropa-AS via Kabel Bawah Laut 'Dunant'