Lifestyle

Keren, Perusahaan di India Buat Ubin dari Udara Tercemar

Dwiwa

Posted on January 5th 2021

(Carbon Craft Design via CNN)

India merupakan negara dengan polusi udara terburuk di dunia. Rumah  bagi 21 dari 30 kota paling berpolusi di dunia, udaranya yang beracun membunuh lebih dari satu juta orang setiap tahun.

Itu sebagian karena negara Asia Selatan adalah produsen batu bata terbesar kedua di dunia. Pembakaran batu bata- yang menyumbang 20 persen dari emisi karbon hitam secara global, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap udaranya yang buruk.

Arsitek India Tejas Sidnal terkejut mengetahui jika industri konstruksi berperan dalam krisis polusi. “Ini adalah pembuka mata yang gila. Sebagai arsitek, kami bertanggung jawab atas begitu banyak polusi udara. Kami bisa berbuat lebih baik,” ujarnya seperti dilansir dari CNN.

Bertekad untuk membuat konstruksi lebih ramah dan mengatasi polusi udara India, Sidnal meluncurkan Carbon Craft Design atau Desain Kerajinan Karbon pada 2019. Startup ini mengambil karbon hitam yang diekstrak dari udara tercemar dan mengolahnya untuk membuat ubin bangunan buatan tangan yang keren.

Udara yang menyelimuti kota-kota di India sering kali mengandung partikel halus dalam tingkat yang sangat tinggi, yang dikenal sebagai PM2.5, yang telah dikaitkan dengan penyakit paru-paru dan jantung dan dapat mengganggu fungsi kognitif dan kekebalan. Pada 2019, New Delhi mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat setelah menghadapi kabut asap yang mencapai rekor.

PM2.5 termasuk karbon hitam, zat yang dapat menyerap satu juta kali lebih banyak energi dari matahari dibanding karbondioksida dalam beberapa hari atau minggu ketika itu tetap berada di atmosfer.

Mengurangi polutan seperti karbon hitam dapat membantu memperlambat pemanasan global dan meningkatkan kualitas udara, kata para ahli. Banyak perusahaan telah menjajaki potensi komersial untuk menangkap emisi karbon dioksida, tetapi hanya sedikit yang fokus pada karbon hitam, menurut Sidnal.

“Kami menemukan cara untuk menambah nilai karbon dengan menggunakannya sebagai pigmen dalam ubin karbon,” ujar Sidnal.

Untuk membuat ubin karbon, Carbon Craft Design bekerja sama dengan Graviky Labs, perusahaan India yang sebelumnya menciptakan “Air Ink”, teknologi yang menangkap jelaga karbon dari mobil dan pabrik dan mengubahnya menjadi tinta dan cat.

Graviky Labs menggunakan perangkat filter untuk menangkap jelaga karbon dari knalpot diesel dan generator bahan bakar fosil, menghilangkan kontaminan seperti logam berat dan debu dari jelaga, dan memberikan karbon yang dimurnikan ke Carbon Craft Desain dalam bentuk bubuk.

“Graviky Labs memandang polusi sebagai sumber daya. Kami adalah salah satu dari sedikit perusahaan di dunia yang menangkap emisi karbon ini dan mengubahnya menjadi bahan baru,” jelas pendiri perusahaan Anirudh Sharma kepada CNN.

Carbon Craft Design mencampur karbon yang ditangkap dengan semen dan limbah maemer dari tambang untuk menghasilkan ubin monokromatik. Sidnal mengatakan perusahaan bertujuan untuk memastikan setiap ubin mengandung setidaknya 70 persen bahan limbah.

Ubin ini dijual kepada arsitek dan pengecer seharga USD 29 per meter persegi- harga yang tinggi dibandingkan dengan ubin keramik biasa. Seiring perusahaan meningkatkan produksi, Sidnal berharap dapat menurunkan harga dan memproduksi ubin karbon yang lebih murah. “Kami ingin mencapai sektor yang terjangkau. Keberlanjutan bukan hanya untuk elit,” ujarnya.

Sejak meluncurkan ubin pertamanya setahun yang lalu, pelanggan Carbon Craft Design termasuk brand fashion global dan perusahaan arsitektur India. Pada November 2020, perusahaan memasang ubin karbon toko Adidas di Mumbai di dinding dan lantai.

Arsitek Manan Gala, yang perusahaannya Bombay Contractors merancang toko Adidas, menggambarkan ubin karbon sebagai “pemenang” di industri konstruksi. Dia mengatakan selain berkelanjutan, produk juga lebih kuat dibanding semen konvensional karena kandungan karbonnya.

Carbon Craft Design saat ini sedang meningkatkan investasi da berharap mulai mendistribusikannya ke Eropa tahun ini, kata Sidnal. Dia menambahkan jika saat ini banyak pertanyaan yang datang kepada mereka. (*)

Artikel Terkait
Interest
Polusi Udara Mungkin Turunkan Harapan Hidup Sampai 9 Tahun di India

Lifestyle
Keren! Burger King Rilis Desain Restoran Touchless dan Ramah Lingkungan

Entertainment
Pengaruhi Sejarah Keluarga 'Ms. Marvel', Bagaimana Kisah Pemisahan India 1947?