Current Issues

Pelaku Parodi Lagu Indonesia Raya Bocah WNI! Pentingnya Nasionalisme Kaum Muda

Dwiwa

Posted on January 2nd 2021


(Antara Foto/Novrian Arbi)

Ada yang masih ingat dengan video viral parodi lagu Indonesia Raya awal minggu ini? Sebuah video yang diunggah oleh kanal YouTube MY Asean yang berlambang negara Malaysia ini menghebohkan netizen Indonesia karena lirik aslinya diganti dengan kata-kata yang melecehkan.

Sempat muncul ketegangan antara Malaysia dan Indonesia, pelaku pembuat video ini akhirnya ditangkap pada Kamis (31/12) malam. Dan ternyata, pelakunya bukanlah warga Malaysia melainkan orang Indonesia. Lebih mengejutkannya lagi, usianya masih 16 tahun. Waduh.

Penangkapan bocah kelas dua SMP asal Cianjur ini berhasil dilakukan berkat kerja sama antara Polisi Republik Indonesia, Polda Metro Jaya, Polda Jawa Barat, serta Polisi Diraja Malaysia (PDRM).

Penangkapan bocah berinisial MDF ini diawali dari keterangan NJ, bocah berusia 11 tahun yang diperoleh oleh PDRM di Malaysia. Bocah 11 tahun ini merupakan seorang WNI yang tinggal di Malaysia dan juga teman dari MDF.

Kedua bocah ini kini masih diperiksa oleh polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Menurut keterangan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono, motif dari kedua pelaku ini adalah balas dendam.

Meski berteman di dunia maya, keduanya sering terlibat pertikaian. Hingga akhirnya MDF membuat kanal YouTube menggunakan nama NJ dan kemudian mengunggah parodi lagu Indonesia Raya. Ia juga mentag lokasi di Malaysia menggunakan nomor Malaysia.

Tidak terima, NJ pun membalas dengan membuat kanal YouTube baru dan mengunggah ulang parodi lagu Indonesia Raya yang sudah diedit ulang. Akibat ulahnya, kedua bocah ini pun harus berurusan dengan hukum di usia belia dan terancam UU ITE.

Penangkapan kedua pelaku pun membuat Komisi Perlindungan Anak Indonesia merasa prihatin. Pasalnya, pelecehan terhadap lagu kebangsaan Indonesia dan juga simbol-simbol negara ini dilakukan oleh generasi penerus bangsa di masa depan.

"Ini menunjukkan bukti lemahnya rasa nasionalisme dan cinta kepada tanah airnya. Untuk itu, penting adanya upaya-upaya penguatan rasa cinta tanah air dengan berbagai strategi sejak masa anak-anak," ujar Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime KPAI Margaret Aliyatul seperti dilansir Detik.

Margaret menambahkan, kasus ini juga menjadi bukti masih lemahnya literasi digital di masyarakat Indonesia. Padahal seharusnya kecanggihan teknologi yang semakin berkembang digunakan untuk hal-hal yang baik.

"Untuk itu, penting adanya penggalakan literasi digital bagi masyarakat, tidak terkecuali anak-anak," tambahnya. Orang tua pun diminta untuk selalu mendampingi dan mengawasi aktivitas anak saat menggunakan smartphone.

"Sehingga anak-anak dapat diarahkan untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk hal-hal positif yang mendukung edukasi dan kreativitas positif. Orang tua tidak boleh abai dengan segala aktivitas anak di dunia siber," jelasnya.

Waduh, tidak habis pikir yah apa yang ada dibenak dua bocah ini saat mengedit lagu kebangsaan sendiri. Kasus yang menimpa mereka bisa kita jadikan pelajaran untuk lebih bijak dalam menggunakan gawai ya guys.

Jangan cuma karena konten atau emosi sesaat jadi berbuntut panjang seperti ini. Selain itu, sebagai Warga Negara Indonesia, kita juga harus menghormati, menghargai dan mencintai tanah air ya.

Meski kita generasi yang tumbuh dengan teknologi dan bisa melihat dan terhubung dengan dunia global dengan mudah, tetapi kita juga tidak boleh lupa dengan bangsa sendiri ya.(*)

Related Articles
Current Issues
Ahli Virus: Anak-anak Sekarang Jadi Penyebar Utama Covid-19

Current Issues
CDC Rilis Pedoman Baru Jika Sekolah Dibuka Kembali

Current Issues
Lockdown Berdampak Negatif Pada Kesehatan Mental Remaja, Ada yang Ngalamin?