Interest

Kritik Kaitan Kuliah dan Kesuksesan Karier, Elon Musk: Shakespeare Tidak Kuliah

Ahmad Redho Nugraha

Posted on December 28th 2020

Selama ini banyak akademisi yang mempertanyakan pentingnya peran pendidikan strata satu dalam mencapai kesuksesan di dunia kerja. Pertanyaan ini menjadi semakin mendesak karena biaya kuliah di masa sekarang sama sekali tidak murah, dan tidak semua orang bisa memperoleh pendidikan hingga sarjana. 

CEO Tesla, Elon Musk ternyata punya pandangannya sendiri.

Dalam sebuah konferensi bernama Satellite 2020, Musk mengatakan jika kampus bukan tempat untuk belajar, tapi tempat untuk bersenang-senang. Dia juga mengatakan jika siapapun dapat mempelajari apapun secara online dan gratis, serta miliarder seperti Bill Gates dan Larry Ellison pun dropout dari kampus mereka.

Lebih lanjut lagi, Elon Musk mengatakan, jika seseorang ingin berhasil, dia perlu keluar dari sekolah dan melakukan sesuatu.

"Aku tidak yakin jika kuliah memberikan kelebihan khusus kepada seseorang," ujar Musk. "Apakah Shakespeare kuliah? Kurasa tidak."

Musk tentu saja bukan satu-satunya founder di dunia ini yang berpendapat demikian. Tim Cook, CEO Apple pada 2019 lalu sempat mengatakan jika separuh dari karyawan Apple Amerika Serikat tidak memiliki ijazah S-1.

Cook berpendapat jika banyak universitas di dunia tidak mengajarkan skill yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan besar di dunia, dan salah satu skill tersebut adalah coding.

Selain itu, Barbara Humpton, CEO Siemens Amerika Serikat juga mengatakan jika pendidikan S-1 tidak menjamin kesiapan seseorang dalam berkarier. "Banyak sekali lowongan pekerjaan yang mengharuskan pelamarnya memiliki pendidikan minimal S-1, padahal sedikit sekali hal dalam pekerjaan tersebut yang membutuhkan sesuatu dari alumni S-1," tukasnya pada tahun 2019, via Business Insider.

Humpton mengatakan jika persyaratan S-1 tersebut hanya membantu para HRD dalam menyeleksi gunungan surat lamaran dan memecahnya ke dalam kelompok yang lebih kecil.

Saat ini, perusahaan seperti Google dan Apple merekrut pegawai yang memiliki skill yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan, baik dengan atau tanpa gelar akademis. Google bahkan baru-baru ini membuka seleksi untuk kursus Google Career Certificate, program kursus enam bulan untuk mempersiapkan pesertanya menyambut lowongan pekerjaan yang akan dibuka Google.

Meski demikian, walau pendidikan S-1 tidak selalu menjamin kesiapan berkarier seseorang, namun data dari Lembaga Statistik Tenaga Kerja AS menemukan jika seorang pekerja dengan gelar akademik cenderung memperoleh pendapatan USD 502 (sekitar Rp.7,1 juta) lebih banyak dibandingkan pekerja tamatan SMA.

Di samping itu, kenyataannya jumlah pengangguran tamatan SMA dua kali lebih banyak dari pengangguran bertitel S-1. Angka tersebut dapat bias, mengingat negara maju seperti AS menerapkan sistem utang bagi peserta didik diploma maupun strata, sehingga hanya 42% alumni SMA yang memutuskan melanjutkan studi setelah tamat SMA.

Para pakar dan peneliti telah mempersiapkan alternatif untuk menyiapkan karyawan baru dalam menjalani pekerjaan mereka, mengingat akan banyak lapangan pekerjaan yang digeser oleh kemunculan otomatisasi industri. Program magang seperti apprenticeship program adalah salah satunya, dimana pesertanya mendapat pengalaman gabungan antara sekolah dan on the job training. (*)

Related Articles
Tech
Elon Musk Bantah Kabar Ingin Gantikan CEO Apple, Tim Cook

Interest
Ada "Dinosaurus" Numpang di Penerbangan Luar Angkasa NASA x SpaceX

Tech
Apple Bantu Pendidikan Remote di Seluruh Dunia dengan Schoolwork 2.0