Tech

Zoom Cabut Batas Video Call 40 Menit Selama Liburan Natal dan Tahun Baru

Ahmad Redho Nugraha

Posted on December 18th 2020

Berkumpul bersama keluarga di masa liburan akhir tahun 2020 akan berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat pandemi. Bagi mereka yang tidak bisa pulang kampung karena terjebak larangan bepergian, perangkat video conference seperti Zoom menjadi salah satu sarana andalan untuk menyapa keluarga.

Seolah menanggapi hal tersebut, Zoom pun kini mencabut batas waktu video conference untuk para pemilik akun gratis yang selama ini mentok di angka 40 menit. Langkah tersebut adalah bentuk dukungan Zoom bagi semua orang yang tidak bisa berkumpul bersama orang-orang tercintanya semasa liburan Natal dan Tahun Baru.

Akun gratis Zoom biasanya hanya bisa melakuakn panggilan video selama maksimal 40 menit, sebelum panggilan tersebut terputus secara paksa. Kebijakan Zoom ini akan berlaku selama dua pekan, sehingga meng-cover masa liburan Natal, Hanukah dan Tahun Baru.

"Sebagai bentuk apresiasi kami kepada para pengguna dalam masa-masa yang sulit ini, kami menghilangkan batas waktu 40 menit bagi pemilik akun Zoom gratis di seluruh dunia," demikain ungkap perusahaan Tiongkok tersebut dalam sebuah pernyataan.

Pengumuman tersebut disambut hangat oleh para pakar kesehatan dunia yang selama ini mewanti agar masyarakat dunia tidak berkumpul di keramaian, walau selama liburan panjang.

"Aku harap ini akan menjadi contoh yang diikuti semua orang," ujar Stephen Reicher, profesor di bidang psikologi sosial Universitas St. Andrews. Reicher mengatakan jika bertemu dengan siapapun selama Natal tetap saja berpotensi meningkatkan angka penularan Covid-19.

"Meja makan malam saat Natal adalah tempat yang sempurna untuk terjadinya transmisi. Sakitnya seseorang (anggota keluarga) tentunya adalah kado Natal terburuk yang bisa diterima siapapun," tukas Reicher.

Reicher menggaris bawahi, ada beberapa kondisi yang membuat pertemuan selama liburan Natal "diperbolehkan," misalnya pertemuan dengan kerabat yang memiliki gangguan mental parah karena isolasi selama pandemi.

"Tapi jika ada yang menyalahgunakan kondisi tersebut, maka infeksi bisa saja terjadi, dan akan ada upacara pemakaman di Bulan Januari," timpal Reicher.

Reicher juga mengatakan jika pemerintah negara di seluruh dunia perlu mengadopsi langkah yang sama seperti Zoom dan memberikan alternatif bentuk sosialisasi kepada masyarakat.

Susan Michie, direktur UCL Centre for Behaviour Change mengatakan hal yang senada dengan Reicher.

"Penting untuk mengetahui jika banyak masyarakat yang tidak memiliki akses internet dan tidak memiliki perangkat digital yang bisa memanfaatkan hal tersebut (Zoom)," ujarnya.

Michie menekankan jika pihak yang paling membutuhkan internet dan perangkat digital yang terkoneksi ke internet adalah keluarga dengan anak-anak di usia sekolah, yang selama ini mengalami kesenjangan pendidikan karena sistem sekolah yang berubah sepanjang tahun ini.

Selain Zoom, Google Meet juga menggratiskan layanan totalnya hingga 31 Maret tahun depan. Pengguna internet juga dapat beralih ke alternatif lain seperti Facebook Messenger, FaceTime dan Houseparty. (*)

Related Articles
Current Issues
Mau Liburan Natal dan Tahun Baru? Simak Yuk Aturan yang Berlaku

Interest
Sering Kena "Zoombomb" Saat Pakai Aplikasi Zoom? Ikuti 5 Tips Berikut Ini

Current Issues
CDC: Tinggallah di Rumah Saat Liburan, atau Lakukan Tes Covid-19 Dua Kali