Current Issues

Tak Hanya Inggris, Indonesia Juga Punya Gelar Bangsawan

Cakra Ajie

Posted on July 17th 2018

Masih menganut sistem monarki membuat Inggris begitu teliti menyematkan gelar-gelar kebangsawanan kepada para keturunan darah biru. Diurut secara tingkatan, gelar kebangsawanan Inggris umumnya dimulai dari baron dan baroness, viscount dan viscontess, earl/ count dan countess, marquess dan marchioness, lalu yang paling tinggi duke dan duchess.

Tak hanya diberikan kepada para pangeran dan puteri yang memiliki trah langsung dari sang ratu dan raja, tapi juga kepada istri atau suami yang kemudian menikahi penerus-penerus kerajaan itu. Kate Middleton dan Meghan Markle adalah contoh yang paling baru. Dua perempuan yang sebelumnya tidak memiliki darah bangsawan ini, pada akhirnya mau tak mau ikut menyandang gelar tersebut. 

Di Indonesia, meski sudah berpuluh-puluh tahun menjadi negara republik, gelar-gelar bangsawan masih lestari. Bahkan barangkali, sedang ada di sekitar kalian sebagai sohib nongkrong di warung kopi atau lawan main Play Station. Nggak percaya? 

Coba cek teman kalian yang bernama Andi. Lalu selidiki rumahnya dan kenali keluarganya. Kalau ada yang tak biasa, bisa jadi dia adalah keturunan bangsawan Bugis! Ya, walaupun di provinsi lain nama ‘Andi’ sangat umum digunakan sebagai nama panjang atau panggilan, ‘Andi’ milik masyarakat Bugis adalah gelar kebangsawanan yang nggak bisa diberikan sembarangan.

Sebagaimana dilansir dari Historia.id, sebenarnya penggunaan gelar ‘Andi’ merupakan sistem baru yang digunakan pemerintah kolonial saat berhasil mempengaruhi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Sebab sebelumnya, setiap kerajaan ini menggunakan gelar seperti Daeng, Karaeng, Arung, atau lain-lain sesuai daerahnya. Ada pula gelar La atau I untuk pangeran dan We untuk putri. Namun demi memudahkan Belanda mengidentifikasi keluarga raja, akhirnya terciptalah gelar baru itu.

Nggak hanya di Sulawesi Selatan, gelar kebangsawanan juga masih banyak digunakan di Indonesia. Sebab sebelum menjadi republik, nusantara adalah kawasan kepulauan yang dihuni banyak kerajaan.

Dari rumpun melayu, Marah, merupakan contoh gelar yang diberikan bagi keturunan keluarga bangsawan, khusunya Aceh. Salah satu tokoh yang terkenal dengan gelar ini adalah Marah Rusli, sang penulis novel legendaris Siti Nurbaya. Selain Marah, masyarakat Melayu juga menggunakan Tengku dan Datuk sebagai gelar bangsawan.

Kemudian di Jawa, tentu saja kita tak asing dengan gelar Raden, Raden Mas, Raden Ayu, Raden Ajeng, atau Raden Roro. Salah satu gelar yang melekat pada keturunan keluarga kerajaan Mataram ini bisa kita temui pada nama-nama keluarga Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, dan Mangkunagaran Surakarta. Secara spesifik ada ketentuan yang lebih detil untuk mengatur gelar ini mulai dari Sang Sultan hingga ke anak-cucunya. Sanggup menghabiskan tujuh hari tujuh malam, kalau kujelaskan sekarang.

Bali pun tak mau kalah memiliki gelar bangsawan. Pernah terkenal dengan sistem kastanya, gelar bangsawan selalu datang dari keturunan kasta Ksatria. Mereka umumnya bergelar Anak Agung, Cokorda, Desak, atau Gusti. Hingga saat ini, keturunannya masih lestari sebagaimana keturunan raja-raja Jawa. Salah satunya yang terkenal adalah Tjok Gus Kerthyasa, keturunan raja Ubud yang merupakan pengusaha sekaligus suami dari aktris Happy Salma.

Terakhir, kita juga mengenal gelar kebangsawanan dari Banten yang digunakan sejak zaman Sultan Maulana Yusuf. Masih umum digunakan sampai sekarang lewat titel Ratu (untuk perempuan) dan Tubagus (disingkat Tb., untuk laki-laki). 

Nah, jika Tb. merupakan gelar kebangsawanan dari Banten, lantas apakah TB.Simatupang seorang bangsawan Banten? Hm...ada yang bisa jawab nggak, nih?

editor: Hening Swastikaningrum

Related Articles
Current Issues
Begini Efeknya Kalau Kalian Pakai Maskernya Gak Bener...

Current Issues
Trending Google 2019: Resep 'Pisang Nugget' Banyak Dicari karena Jokowi

Current Issues
Ilmuwan Deteksi Jenis Mutasi Baru Virus Korona yang Mungkin Lebih Berbahaya