Current Issues

Mengapa Vaksin Covid-19 Bukan Alasan Untuk Abaikan Protokol Kesehatan?

Dwiwa

Posted on December 6th 2020

Inggris telah menjadi negara pertama yang memberikan ijin penggunaan darurat vaksin Covid-19 dari Pfizer/BioNTech. Dan pekan ini, para petugas kesehatan di negara tersebut akan mulai mendapatkan vaksinasi.

Tetapi di tengah kabar gembira hadirnya vaksin Covid-19, masyarakat juga tidak boleh lengah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut ini baru sekadar cahaya di ujung terowongan. Ini artinya, jalan yang harus dilalui masih panjang dan pandemi belum berakhir.

Dilansir dari Reuters, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut jika keputusan yang dibuat warga dan pemerintah akan menjadi penentu, apakah pandemi ini akan berlangsung sebentar dan segera berakhir atau tidak.

“Kami tahu ini adalah tahun yang sulit dan orang lelah, tetapi rumah sakit yang mulai kelebihan kapasitas itu yang sulit. Kenyataan saat ini, banyak tempat menyaksikan penularan virus Covid-19 sangat tinggi, yang memberikan tekanan besar pada rumah sakit, ICU, dan petugas kesehatan,” ujarnya.

Di Indonesia, jumlah kasusnya terus melonjak tajam. Dalam dua minggu terakhir, empat kali rekor kasus harian sudah dipecahkan, bahkan pada Kamis (3/12) mencapi 8.269.

Pakar kedaruratan WHO Mike Ryan juga memperingatkan agar orang tidak terlena dengan adanya vaksin. Meskipun ini adalah senjata utama, vaksin tidak akan dengan sendirinya mengakhiri pandemi.

“Vaksin tidak sama dengan nol Covid,” ujarnya. Dia juga meminta beberapa negara tetap mempertahankan langkah pengendalian yang kuat hingga beberapa waktu ke depan atau mengambil risiko “ledakan” kasus, dan bermain tarik ulur dengan pandemi.

Bahkan, para epidemiologis pun banyak yang berpikir jika kehidupan tidak akan serta merta kembali normal sampai hampir semua orang divaksin. Sebanyak 700 epidemiologis yang disurvei The New York Times secara informal separuhnya mengatakan mereka tidak akan mengubah perilaku harian sampai setidaknya 70 persen populasi divaksinasi.

Meski sebagian kecil optimis jika vaksin sangat efektif didistribusikan maka orang Amerika akan mulai bisa hidup lebih bebas pada musim panas depan, tetapi sebagian besar lainnya tidak berpikir demikian.

Meskipun ada vaksin, akan butuh waktu setahun atau lebih sebelum semakin banyak aktivitas bisa dimulai dengan aman dan mungkin sebagian dari kehidupan kita tidak akan kembali seperti semula.

Karin Michels, profesor epidemiologi di UCLA, mengatakan mungkin butuh waktu bertahun-tahun sampai kita kembali aman menjalani kehidupan seperti sebelum pandemi. “Kita harus terbiasa untuk hidup dengan virus,” ujarnya

Para epidemiologis khawatir tentang banyak hal yang tidak diketahui, termasuk berapa lama kekebalan akan bertahan, bagaimana virus bermutasi, tantangan distribusi vaksin, dan kemungkinan adanya penolakan vaksin pada kelompok tertentu.

Berbicara soal masa depan, beberapa mengatakan hidup dapat mulai kembali menuju normal di musim panas berkat vaksin. Beberapa lain mengatakan akan ada hal yang tetap berbeda, dengan asumsi tidak ada obat terapeutik yang sangat efektif yang dikembangkan.

Perubahan yang paling sering disebut tetap akan ada adalah penggunaan masker, terutama di tempat keramaian atau saat sakit. “Aku membayangkan menggunakan masker akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hariku, kedepannya, bahkan setelah vaksin digunakan,” ujar Amy Hobbs, seorang peneliti di John Hopkins Bloomberg School of Public Health.

Selain itu, sebagian dari epidemiologis memperingatkan konsekuensi lain yang juga tidak bisa diabaikan meski ancaman fisik Covid-19 berakhir. Misalnya pada efek isolasi dalam perkembangan otak anak, adanya ketidaksetaraan dalam perawatan kesehatan dan jaminan, serta ketakutan dan kesedihan dari banyaknya penyakit dan kematian.

“Perawatan kesehatan mental akan terus menjadi penting. Ini adalah saat yang traumatis, dan banyak dari kita akan terpengaruh oleh kehawatiran dan kesedihan yang ditimbukan untuk sisa hidup kita,” ujar Daniel Vader, seorang peneliti postdoctoral di University of Pennsylvania.

Jadi guys, vaksin memang bisa membantu mengakhiri pandemi tapi bukan menjadi satu-satunya jalan. Kita tetap perlu mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air, serta menjaga jarak minimal 2 meter.

Perilaku kita yang pada akhirnya menentukan seberapa lama kita harus menderita karena pandemi ini. So, jika ada cara untuk segera menghentikannya, mengapa kita harus membuatnya menjadi lebih lama? (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Penggunaan Masker Menurun, Kasus Covid-19 Membengkak

Current Issues
Kasus Covid-19 Bikin Rekor Lagi, Lonjakan Pada Januari 2021 Perlu Diantisipasi

Current Issues
Berapa Lama Sih Waktu Aman Lepas Masker di Ruangan Penuh Orang? Ini Kata Ilmuwan