Current Issues

Penggunaan Masker Menurun, Kasus Covid-19 Membengkak

Dwiwa

Posted on December 5th 2020

Kasus Covid-19 telah mencetak rekor empat kali dalam kurun waktu dua minggu terakhir. Bahkan pada Kamis (3/12), jumlah kasusnya menembus angka 8.369, atau naik lebih dari 2 ribu kasus dibanding rekor sebelumnya pada Minggu (30/11) sebanyak 6.267.

Pemerintah sendiri memang semakin gencar melakukan kampanye protokol kesehatan, bahkan menurunkan sejumlah aparat untuk menegakkan protokol kesehatan. Tetapi tampaknya upaya itu belum banyak membuahkan hasil.

Dilansir dari Antara sebuah survei online yang dilakukan pemerintah pada libur panjang  akhir Oktober hingga 1 November menunjukkan jika hanya 43,46 persen responden yang menjaga jarak dan 59.32 persen menggunakan masker. Angkanya bahkan terus menurun di bulan berikutnya sampai 27 November.

“Sangat disesalkan. Tingkat kepatuhan publik dengan kebijakan memakai masker dan menjaga jarak terus menurun,” ujar Wiku Adisasmito, juru bicara Satgas Covid-19 pada Kamis (3/12) seperti dilansir dari The Jakarta Post.

Surbei sebelumnya dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7 hingga 14 September yang melibatkan 90.967 responden dari seluruh Indonesia menemukan jika tingkat kepatuhan memakai masker lebih tinggi dibanding menjaga jarak dan mencuci tangan.

Menurut survei BPS, 92 responden mengaku menggunakan masker saat berada di tempat umum , 75,38 persen mencuci tangan secara teratur dan 73,54 persen menjaga jarak.

“Kita dapat menyimpulkan jika libur panjang beberapa waktu lalu (28 Oktober sampai 1 November) adalah pemicu utama berkurangnya kedisiplinan masyarakat. Masyarakat harus menyadari jika kelalaian bisa berakibat fatal,” ujar Wiku.

Wiku mengatakan jika orang-orang mematuhi protokol memakai masker di tempat-tempat tertentu. Kepatuhan paling tinggi ditemukan di restoran sebanyak 30,8 persen, diikuti 21 persen dirumah, 18,8 persen di arena olahraga, 14 persen di jalan dan 13,9 persen di tempat wisata.

Menurut data pemerintah, dia mengatakan hanya ada sembilan dari 512 kabupaten dan kota di Indonesia yang melaporkan adanya kepatuhan terhadap aturan penggunaan masker. Sementara hanya 4 persen dari semua kabupaten dan kota yang melaporkan kepatuhan yang memuaskan terhadap aturan aturan jaga jarak.

Wiku juga mengingatkan masyarakat tentang penelitan Hakan Yilmazkuday seorang profesor di Florida International University “Stay-at-Home Works to Fight against Covid-19: International Evidence from Google Mobility Data” yang menemukan jika 75 persen populasi harus menggunakan masker untuk menurunkan kasus terkonfirmasi dan kematian.

Oleh karena itu, dia sangat menghimbau masyarakat Indonesia untuk mematuhi protokol kesehatan, karena sekecil apapun upaya individu akan berdampak besar pada hidup semua orang.

Meningkatnya jumlah kasus ini tentu juga berdampak pada ketersediaan tempat tidur dan ruang ICU di Rumah Sakit. Dilansir dari Reuters, LaporCovid-19, sebuah kelompok yang merupakan koalisi masyarakat yang mendukung keterbukaan data kasus Covid-19 yang dapat dipercaya, memperingatkan minggu ini bahwa bangsal darurat Jakarta menuju kolaps.

Data dari Pemprov DKI Jakarta menunjukkan bahwa tempat tidur isolasi di 98 rumah sakit rujukan 79 persen penuh, sedangkan tempat tidur ICU 74 persen penuh per 29 November. Wiku sendiri mengatakan pada Kamis jika tempat tidur ICU 57,97 persen penuh secara nasional per 1 Desember.

Nah, sudah tahu kan guys risikonya kalau masih ngeyel dan tidak menerapkan protokol kesehatan? Kasus Covid-19 ini adalah masalah kita bersama. Jadi perlu kerja sama dari semua orang untuk bisa mengatasinya.

Jadi, yuk mulai detik ini kita patuhi protokol kesehatan agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Semakin banyak yang patuh, maka akan semakin cepat kita mengatasi pandemi. Kalian tidak iri dengan Selandia Baru yang sudah mulai bisa hidup "normal"? (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Kematian Akibat Covid-19 Tembus Sejuta, Apa yang Harus Dilakukan?

Current Issues
Sekolah Dibuka Januari 2021, 7 Hal Ini Harus Dilakukan Sekolahmu

Current Issues
Mengapa Vaksin Covid-19 Bukan Alasan Untuk Abaikan Protokol Kesehatan?