Lifestyle

“2020: The Year of Hope”, Kolaborasi Diana Putri dan Putra di TFW

Dwiwa

Posted on November 30th 2020

(Duda Castro mengenakan salah satu koleksi kolaborasi Diana M Putri dan Reinhardt Kenneth yang tampil dalam Thailand Fashion Week 2021. Diana Couture)

Pagelaran Thailand Fashion Week S/S 2021 (TFW) yang digelar pada Minggu (29/11) turut menampilkan karya salah satu desainer ternama Indonesia, Diana M Putri. Namun ada yang istimewa. Dalam pagelaran yang digelar secara virtual ini, dia juga mengajak putra sulungnya Reinhardt Kenneth, seorang fashion photographer, untuk berkolaborasi.

Mengusung tema 2020: The Year of Hope, karya ibu dan anak ini dihadirkan dalam bentuk fashion film.

Menurut keterangan tertulis yang diterima tim Mainmain, fashion film ini menjadi kilas balik akan tragedi-tragedi yang terjadi pada 2020. Refleksi tersebut digambarkan lewat 7 muse yang sangat diverse. Setiap muse merupakan bentuk gambaran dari tragedi yang ada pada 2020.

Karena kondisi masih pandemi, proses pengerjaan karya yang memiliki motto finding hope, through unity, in times of adversity ini dilakukan secara virtual. Pasalnya, Diana ada di Indonesia sementara Reinhardt menetap di Los Angeles.

Project Directorial Debut Reinhardt ini menghadirkan koleksi yang terinspirasi oleh pesta dansa di akhir zaman yang menonjolkan masker. 

Berdasarkan narasi Reinhardt, ketujuh muse yang berasal dari latar belakang berbeda ini terpisahkan ketika memasuki room of thought.
Namun ketika video akan berakhir, para muse ini meninggalkan ruangan gelap, mencari jalan, untuk kemudian bersatu menemukan sinar pengharapan di dunia yang telah hancur.

Tujuh muse tersebut adalah Jessica Belkin (bintang American Horror Story / Pretty Little Liar), Duda Castro (Miss Brazil 2009), Cheverly Amalia (Film Maker Hollywood asal Indonesia), Jaslene Whoterose (Instagram Influencer), Tifannie Marie (model dan penari), Cole Woods (Moderpreneur dan mentor), serta Yasmeen “YAS” Al-Mazeedi (Produser musik dan pemain biola yang pernah bekerja sama dengan Selena Gomez, John Legend, Miley Cyrus, dll).

Beberapa muse yang direpresentasikan dalam karya ini diantaranya adalah Covid-19, Black Live Matter, Anti-Xenophobia, War&Famine, Wildfire, dan lain-lain. Para muse dalam karya ini menggambarkan rasa kesusahan, ketidakpastian, hingga kehilangan harapan sebelum akhirnya kembali menemukan sinar pengharapan.

Dalam koleksi tersebut, dua karakteristik dari Diana Couture yakni strong dan elegant yang digabungkan. Diana menginginkan sebuah koleksi baru yang lain daripada yang lain.

Ada 13 bodysuit dengan masker yang terbuat dari bahan bandages, tulle, taffeta, iridescent leather, metallic stud, Swarovski crystals, serta faux leather hadir pada koleksi kali ini. Sebagai finishing, Diana menggunakan teknik-teknik laser cutting, ruffling, serta 3D encrusting.

Apa yang disajikan oleh Diana, Reinhardt beserta tim dari koleksi ini ingin memperlihatkan sebuah fashion film yang bukan sekadar menonjolkan keindahan busana, tetapi juga mengisahkan tentang pengharapan lewat persatuan di masa kegelapan. Sebuah moto yang terinspirasi oleh Bhinneka Tunggal Ika

“Membuat koleksi di tengah pandemi sangat menantang. Mulai dari menjaga jarak dan memastikan semuanya sudah didisinfeksi. Kami harus memastikan setiap helainya sempurna tetapi sekaligus aman. Beruntung saya memiliki tim yang luar biasa,” ujar Diana. (*) 

 

Related Articles
Interest
Cantik Nggak Harus Kurus! Ini Para Model Plus Size yang Tampil di Runway Ternama

Interest
Fashion Show Unik Balenciaga: Scrunchies dari Kabel Charger iPhone

Entertainment
Lady Gaga Ikut Tagar #KindlyMask, Ingatkan Pengikutnya Untuk Pakai Masker