Current Issues

Meski Banyak yang Menyangkal, Kaum Muda Juga Meninggal Karena Covid-19

Dwiwa

Posted on November 29th 2020

Sebuah fiksi berbahaya telah berkembang dan menyebar luas di media sosial. Bahkan dilansir dari Yahoo! News, fiksi berbahaya ini sudah merambah ke politik Amerika. Sebuah fiksi yang membangun gagasan jika Covid-19 hanya berbahaya bagi orang berusia lanjut atau yang memiliki penyakit kronis yang parah.

“Mereka yang dalam kondisi sangat baik, masih muda dan tidak memiliki penyakit sebelumnya, tetap bisa mengalami sakit kritis akibat Covid,” ujar Nina Shapiro, profesor di David Geffen School of Medicine UCLA dan penulis buku, “HYPE: A Doctor Guide to Medical Myths, Exaggerated Claoms and Bad Advice”.

“Banyak yang meninggal dan akan meninggal. Selain itu, orang sehat terus menyebarkan Covid tanpa disadari kepada orang tua, yang pada giirannya menjadi sakit parah dan berisiko tinggi akan meninggal,” lanjutnya.

Daniel S. Talmor, kepala anestesi, perawatan kritis dan pengobatan rasa sakit di Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston bahkan dengan senang hati mengundang orang dewasa muda yang meragukan kerentanan mereka terhadap Covid-19 untuk datang ke ICU dan melihat tragedi yang menimpa kaum muda akibat Covid.

“Aku pikir orang-orang cenderung percaya bahwa mereka tidak berisiko karena mereka muda dan sehat, tetapi itu adalah keyakinan yang berbahaya dan salah,” ujarnya.

Penyangkalan pandemi yang terus menerus sebagai klaim berlebihan atas virus yang membunuh banyak orang tua dan mereka yang dalam kondisi kritis telah merusak pesan kesehatan masyarakat bahwa kita smua menghadapi pandemi ini bersama-sama.

Terlebih, ketika orang muda dan sehat meremehkan bahayanya, ini memberikan peluang baru bagi virus untuk menyebar, terutama karena banyak orang yang sudah lelah karena berbulan-bulan memakai masker, membatalkan pesta, konser, dan aktivitas dengan banyak orang lainnnya.

Hasilnya tentu sangat bisa diprediksi: perilaku sembrono dan kasus yang meroket. Di Amerika, terjadi lonjakan kasus dengan Wisconsin menjadi penyumbang paling banyak. Di Notre Dame, pesta kampus diyakini memicu terjadinya ledakan kasus.

Yang lebih berisiko adalah reli sepeda motor 10 hari di Sturgis yang membuat hampir setengah juta orang berkumpul pada Agustus. Reli tersebut telah dikaitkan dengan ledakan kasus di South Dakota dan Minnesota, dan kasus lain di lusinan negara bagian.

Sedangkan di Indonesia, kasus harian bahkan mulai menyentuh angka 5 ribu dengan rekor baru dicatat pada Jumat (27/11) sebanyak 5.828 orang. Selain karena jumlah pengujian di beberapa wilayah diperbanyak, adanya libur panjang pada akhir Oktober yang menyebabkan pergerakan banyak orang menjadi pemicunya.

Dan kini, saat kabar ada banyak vaksin menjanjikan yang mungkin bisa digunakan secara darurat, orang-orang berada dalam situasi berbahaya sekaligus penuh harapan. Tetapi para ahli juga khawatir masyarakat jadi mengabaikan peringatan dan berkumpul untuk berlibur.

“Hal yang tragis adalah sekarang kita hampir menemukan solusi, jika orang bersedia bersabar beberapa bulan lagi. Kita tidak perlu melihat sistem perawatan kesehatan yang kewalahan dan orang-orang sekarat karenanya,” ujar Nasia Safdar, direktur medis pengendalian infeksi di UW Health di Madison.

Safdar dan lainnya mengatakan meskipun jelas usia berpengaruh terhadap kemungkinan pasien mengalami keparahan penyakit akibat Covid-19, tidak ada perlindungan yang kuat untuk kaum muda.

“Konsep bahwa orang muda tidak sakit parah dan mati karena Covid-19 jelas tidak benar. Mayoritas pasien di ICU kami berusia di bawah 60 tahun, ada tiga pasien berusia 20-an,” ujar Jakob I. McSparron, associate director di pengobatan perawatan kritis di Michigan Medicine di Ann Arbor.

MCSparron mengatakan mitos bahwa orang muda tidak perlu takut Covid-19 telah membuat orang secara tidak sadar menulari teman atau orang yang dicintai, yang kemudian meninggal. Prang yang terinfeksi mungkin tidak bergejala, tetapi mereka bisa menularkannya, sebuah fenomena yang disebut dokter sebagai penularan tanpa gejala.

“Kami memiliki seorang pria muda dengan penyakit kronis yang sangat takut tertular Covid. Sayangnya, seseorang yang tidak tahu bahwa dirinya mengidap Covid berkunjung. Pemuda itu tertular dan meninggal karena Covid,” ujar McSparron.

Jadi guys kalian masih mau percaya dengan mitos jika Covid tidak berbahaya untuk kaum muda dan sehat? Coba pikirkan lagi. Sudah saatnya kita lebih bijak dalam menyikapi pandemi saat ini.

Patuhi protokol kesehatan dengan selalu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air, serta menjaga jarak. Dengan menjaga diri kita sendiri, sama artinya kita juga menjaga orang-orang tersayang di sekitar, terutama mereka yang tinggal satu rumah dengan kita. (*)

Related Articles
Current Issues
Mengapa Vaksin Covid-19 Bukan Alasan Untuk Abaikan Protokol Kesehatan?

Current Issues
Penggunaan Masker Menurun, Kasus Covid-19 Membengkak

Current Issues
Berapa Lama Sih Waktu Aman Lepas Masker di Ruangan Penuh Orang? Ini Kata Ilmuwan