Current Issues

Ada Kekhawatiran Muncul Klaster Baru Saat Sekolah Tatap Muka Dibuka Kembali

Dwiwa

Posted on November 26th 2020

Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk mengijinkan sekolah buka kembali pada 2021 menjadi perdebatan panas dalam beberapa hari terakhir. Pro dan kontra terus bermunculan tentang rencana kembalinya sekolah tatap muka ini.

Apalagi, Indonesia kembali memecahkan rekor harian tertinggi Covid-19 pada Rabu (25/11) dengan jumlah kasus baru mencapai 5.534. Angka ini membuat total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 511.836.

Dilansir dari The Jakarta Post, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmita memperingatkan potensi munculnya kluster baru di sekolah. Menurutnya, pembelajaran di kelas tidak bisa dilakukan secara instan dan harus dilaksanakan sesuai protokol kesehatan yang ketat.

“Sekolah bisa menjadi kluster Covid-19jika mereka tidak mengikuti protokol kesehatan. Mereka harus memenuhi beberapa persyaratan sebelum melakukan pengajaran secara tatap muka,”  kata Wiku pada jumpa pers Selasa (24/11) seperti dikutip dari Kompas.com.

Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi jika sekolah ingin buka kembali, termasuk menyediakan fasilitas cuci tangan, toilet bersih, sudut-sudut untuk hand sanitizer, menyediakan disinfektan dan thermogun, serta memiliki akses ke fasilitas kesehatan.

Seluruh penghuni sekolah juga diwajibkan memakai masker. Selain itu kesehatan setiap siswa dan guru, penyakit penyerta, dan riwayat kesehatannya harus diidentifikasi. Administrasi sekolah juga diharuskan mencari tahu transportasi apa yang digunakan oleh guru dan siswa.

Selain itu, mereka juga harus mencari tahu apakah siswa maupun guru pernah berkunjung ke daerah berisiko dan sudahkah mereka mengsiolasi diri. Tetapi yang tidak kalah penting, harus ada persetujuan dari komite sekolah terlebih dahulu.

“Perlu simulasi pembelajaran tatap muka setidaknya satu setengah bulan sebelum dibuka kembali. Semua simulasi dan pembukaan kembali kampus secara bertahap akan berhasil dengan koordinasi yang lancar antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga lintas kementerian,” jelas  Wiku.

Keputusan Nadiem untuk membuka kembali sekolah tatap muka juga direspon oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Mereka menuding pemerintah mengelak dengan membuat pemerintah daerah bertanggung jawab mengurus persiapan yang diperlukan.

KPAI mendesak pemerintah pusat untuk membangun sistem informasi, komunikasi, koordinasi, dan pengaduan yang baik sehingga pemerintah pusat dan daerah bisa bekerja sama untuk kembali membuka sekolah, bukan membiarkan pemda mengambil alih semua tugas terkait.

Pakar epidemiologi juga turut menyuarakan kekhawatirannya jika sekolah kembali dibuka tahun depan. Pasalnya, positivity rate alias tingkat penularan virus corona di Indonesia masih tinggi. Belum lagi akan ada Pilkada serentak pada Desember dan libur panjang Natal-Tahun Baru.

Dalam wawancara BBC News Indonesia dengan Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman yang tayang pada 23 November, dua hal tersebut sangat berpotensi memunculkan klaster baru yang dapat berdampak pada tingkat penularan virus corona yang semakin tinggi.

Dia pun mencontohkan Amerika Serikat yang memilih membuka sekolah pada Agustus-September saat positivity rate di atas 10 persen. Klaster di AS pun jadi semakin banyak dan terjadi peningkatan kasus infeksi pada anak-anak hingga 100 persen dalam satu bulan.

Kebijakan baru ini pun telah di Kemendikbud dengan sejumlah aturan yang akan diberlakukan saat sekolah tatap muka kembali dibuka. Mulai dari pedoman perilaku selama proses pembelajaran tatap muka hingga apa yang harus dilakukan jika ditemukan kasus positif di sekolah.

Nah, bagi yang sekolahnya bakal buka tahun depan dan bingung apa saja yang harus disiapkan biar risiko Covid-19 kecil, kalian bisa melihat tipsnya di sini. (*)

Related Articles
Current Issues
Semakin Banyak Ahli Meminta Pemerintah Pertimbangkan Kembali Membuka Sekolah

Current Issues
Bersiap Kembali ke Sekolah? 5 Hal Ini Wajib Kalian Siapkan

Current Issues
Covid-19 Bikin Sekolah Tutup, Generasi Terancam Kehilangan Keterampilan