Hobi

Suka Main Video Game? Aktivitas Ini Bisa Meningkatkan Kesehatan Mental Lho

Dwiwa

Posted on November 26th 2020

 

Stigma buruk terhadap orang-orang yang bermain video game telah tertanam selama bertahun-tahun. Tetapi menurut penelitian terbaru, orang yang lebih banyak bermain video game justru melaporkan kesejahteraan yang lebih baik.

Bagi sebagian orang, mungkin temuan dari Oxford ini mengejutkan mengingat di berbagai media massa, video game sering ditulis sebagai sesuatu yang buruk. Tetapi bagi para pemainnya sendiri, hal ini bukan lagi hal baru.

Mereka, bahkan mungkin termasuk kita, selalu merasakan sebuah kesenangan setiap bermain video game. Dan tentu saja, melakukan suatu hal yang menarik dan menyenangkan akan membuat kita bahagia.

Apalagi tahun ini, saat pandemi Covid-19 memaksa orang-orang untuk diam di rumah dan membatasi interaksi dengan orang lain. Video game telah menjadi “dewa penyelamat” sebagai pelarian dan terapi bagi jutaan orang.

Keza MacDonald, editor video game The Guardian dalam tulisannya mengatakan jika dia telah menggunakan Animal Crossing sebagai “pelarian” setelah menghadapi hari panjang mengasuh anak saat lockdown.

Dia juga menyebut Roblox telah menjadi satu-satunya cara bagi seorang anak berusia 11 tahun untuk berinteraksi sosial dengan anak lain selama berbulan-bulan. Tetapi tampaknya, masih banyak orang yang kaget melihat hasil penelitian yang mengangkat manfaat dari video game.

Pasalnya, selama ini video game selalu mendapatkan stigma negatif dan sering dianggap hanya membuang-buang waktu atau memberikan dampak yang sangat buruk. Jika ada berita soal video game, lebih fokus pada berapa banyak uang yang dihasilkan industri atau apakah ini mengandung kekerasan atau tidak.

Keza yang telah menulis tentang video game secara profesional sejak 2005, merasakan sendiri betapa stigma ini melekat kuat di masyarakat. Saat dia membicarakan tentang video game, orang-orang masih menatapnya dengan alis berkerut seperti dirinya baru mengakui kebiasaan berjudi.

Bahkan ketika Grand Theft Auto 5 dirilis pada 2013 silam, dia pernah dicecar oleh penyiar radio dengan pertanyaan tentang kekerasan dalam gim dan juga ketidakbergunaannya.  Bahkan penyiar radio menggertaknya.

“Ketika saya berbicara dengan orang-orang sepertimu, aku selalu berpikir kamu seharusnya pergi dan membaca buku,” tulis Keza menirukan ucapan penyiar tersebut. Dengan tegas, ibu dua anak ini pun mengatakan jika dia memiliki gelar di bidang sastra komparatif dan membuat wawancara itu berakhir lebih cepat.

Eits, tapi itu juga bukan berarti menghabiskan waktu bermain World of Warcrasft di tahun pertama Universitas alih-alih kuliah adalah ide cemerlang ya. Pada beberapa kasus, orang-orang memang memiliki hubungan tidak sehat dengan video game.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengklasifikasikannya sebagai “gangguan permainan” yang menjadi perdebatan panas para ahli. Tetapi di siis lain, gim menjadi cara yang baik untuk menghabiskan waktu.

Keza juga menulis jika menurut firma riset pasar Newzoo, ada sekitar 2 miliar gim di dunia. Sebagian besar apa yang mereka dapat dari hobi ini bersifat positif dan meningkatkan kehidupan.

Berdasarkan pengalamannya, ada begitu banyak orang yang berterima kasih kepada gim karena telah membantu mereka mengelola depresi, stres atau kecemasan, atau hanya kesulitan hidup sehari-hari.

Bahkan saat Keza melahirkan putra pertamanya, waktunya banyak dihabiskan untuk bermain The Legend of Zelda: Breath of the Wild di Nintendo Switch. Itu menjadi caranya terhubung kembali dengan orang-orang dan melarikan diri sejenak dari rutinitasnya mengasuh bayi.

Jadi, apakah orang-orang akan berhenti memberikan stigma buruk untuk video game dan mengakui jika ini tidak berbeda dengan film, musik, atau TV? Bahwa ada gim yang baik dan buruk, serius dan hiburan, dan itu bisa membuat orang bahagia?

Ada lebih banyak hal yang bisa dibicarakan dari sekadar apakah video game buruk untukmu atau berapa banyak industri tersebut untung. Tapi ingat yah, video game ini bermanfaat jika dimainkan secara wajar bukan berlebihan. Jadikan video game hanya sebagai hiburan, bukan pusat kehidupan. (*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Covid-19 Telah Mengubah Persahabatan, Apa Pertemanan Kalian Juga?

Current Issues
UNICEF: Dihantam Pandemi, Anak-Anak Perlu Bantuan Kesehatan Mental

Current Issues
Survei: Stres Akibat Pandemi Bikin Orang Sulit Membuat Keputusan Dasar