Interest

Tertawa Bukan Hanya Bagus Buat Pikiran Loh, Tapi Juga Untuk Tubuh

Dwiwa

Posted on November 25th 2020

 

Setiap kali mendengar atau melihat sesuatu yang lucu atau konyol, tertawa atau cekikikan selalu menjadi respon. Kelihatannya itu sepele, tetapi siapa sangka untuk tertawa ada banyak usaha yang dilakukan.

Pasalnya, saat tertawa ada banyak area di otak yang diaktifkan. Mulai dari area yang mengontrol motorik, emosional, kognitif, dan pemrosesan sosial.

 

Kekuatan fisik tawa

Janet M. Gibson, profesor psikologi kognitif di Grinnell College, menulis di The Conversation jika orang telah tertawa sejak bayi dan berguna untuk mengembangkan otot dan kekuatan tubuh bagian atas.

Tertawa bukan hanya sekadar bernapas. Tetapi ini didasarkan pada kombinasi yang rumit dari otot wajah, sering kali melibatkan gerakan mata, kepala, dan bahu.

Tertawa juga mengaktifkan banyak wilayah di otak : korteks motorik, yang mengontrol otot; lobus frontal, yang membantu kalian memahami konteks; dan sistem limbik yang memodulasi emosi positif. Mengaktifkan semua sirkuit ini memperkuat hubungan saraf dan membantu otak yang sehat mengoordinasikan aktivitasnya.

Dengan mengaktifkan jalur saraf emosi seperti kegembiraan dan keriangan, tertawa dapat meningkatkan suasana hati dan membuat respon fisik dan emosional terhadap stres jadi kurang intens.

Misalnya, tertawa mungkin membantu mengontrol tingkat neurotransmiter serotonin di otak, serupa dengan yang dilakukan antidepresan. Dengan meminimalkan responotak pada ancaraman, ini membatasi pengeluaran neurotransmiter dan hormon seperti kortisol yang dapat merusak sistem kardiovaskuler, metabolisme, dan kekebalan tubuh dari waktu ke waktu.

Bisa dibilang, tertawa itu seperti penawar stres.

 

Kekuatan kognitif tawa

Selera humor dan tawa yang mengikutinya bergantung pada ukuran kecerdasan sosial dan sumber daya memori yang memadai. Tertawa, seperti humor, biasanya muncul karena mengenali ketidaksesuaian atau keanehan suatu situasi.

Kalian perlu secara mental memahami perilaku atau peristiwa mengejutkan – jika tidak, kalian tidak akan tertawa dan mungkin hanya kebingungan. Mengambil kesimpulan dari maksud orang lain dan mengambil sudut pandang mereka dapat meningkatkan intensitas tawa dan hiburan yang dirasakan.

Untuk bisa mendapatkan lelucon atau situasi lucu, kalian harus bisa melihat sisi yang lebih ringan. Kalian harus percaya bahwa kemungkinan selain yang sebenarnya memang ada – pikirkan tentang terhibur oleh komik strip tentang hewan berbicara, seperti yang ditemukan di The Far Side.

 

Kekuatan sosial tawa

Banyak keterampilan kognitif dan sosial bekerja sama untuk memantau kapan dan mengapa tertawa muncul saat percakapan. Kalian bahkan tidak perlu mendengar tawa untuk bisa tertawa.

Tertawa menciptakan ikatan dan meningkatkan keintiman dengan orang lain. Ahli bahasa Don Nilsen menekankan jika tertawa kecil maupun ngakak jarang terjadi saat sendirian. Sejak awal kehidupan, tawa bayi merupaan tanda kesenangan yang membantu memperkuat ikatan dengan pengasuhnya.

Di kemudian hari, ini menjadi tanda berbagi apresiasi atas sebuah situasi. Contohnya, pembicara publik dan pelawak mencoba tertawa untuk untuk membuat audiens merasa lebih dekat secara psikologis dengan mereka, untuk menciptakan keintiman.

Dengan melatih sedikit tawa setiap hari, kalian dapat meningkatkan keterampilan sosial yang mungkin tidak datang secara alami. Ketika kalian tertawa sebagai respon terhadap humor, kalian berbagi perasaan dengan orang lain dan mempelajari dari risiko bahwa respon kalian akan diterima/dibagikan/dinikmati oleh orang lain dan tidak ditolak/diabaikan/tidak disukai.

 

Kekuatan mental tawa

Peneliti psikologis positif mempelajari bagaimana orang dapat menjalani kehidupan yang bermakna dan berhasil. Tertawa menghasilkan emosi positif yang mengarah pada perkembangan seperti ini.

Perasaan ini – seperti hiburan, kebahagiaan, kegembiraan dan keriangan – membangun ketahanan dan meningkatkan pemikiran kreatif. Mereka meningkatkan kesejahteraan subyektif dan kepuasan hidup.

Para peneliti menemukan bahwa emosi positif yang dialami bersama dengan humor dan tawa berkorelasi terhadap menghargai makna kehidupan dan membantu orang dewasa yang lebih tua memiliki pandangan yang lebih lunak tentang kesulitan hidup yang telah mereka alami.

Tertawa sebagai respon terhadap rasa geli adalah mekanisme yang sehat. Saat tertawa, kalian menganggap diri sendiri atau situasi jadi tidak terlalu serius dan mungkin merasa mampu untuk menyelesaikan masalah.

Misalnya, psikologis mengukur frekuensi dan intensitas 41 orang tertawa selama dua minggu, bersama dengan peringkat stres fisik dan mental mereka. Hasilnya, semakin banyak tertawa, semakin rendah stres yang dilaporkan. Tidak peduli itu tawa dengan intensitas kuat, sedang atau lemah.

Jadi, sudah tertawakah kalian hari ini? (*)

Related Articles
Interest
Lagi Stres? 7 Makanan Ini Harus Kalian Hindari

Interest
Butuh Pelampiasan Saat Marah? "Rage Room" di Sao Paulo Bisa Jadi Solusi

Interest
Ini 6 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental yang Wajib Dicoba