Current Issues

Hanya Dalam Seminggu, Peru Punya Tiga Presiden Berbeda

Jingga Irawan

Posted on November 22nd 2020

(AFP)

Pertama kali dalam sejarah, Peru punya tiga presiden berbeda hanya dalam seminggu. Politik negara dengan ibu kota Lima itu memang tengah bergejolak. Ribuan rakyat turun ke jalan untuk menggulingkan pemerintahan saat itu.

Kornologi Pergantian Presiden

Jadi ceritanya, Martin Vizcarra, presiden yang berkuasa sejak 2018, terus menerus diprotes rakyatnya. Senin (9/11) dia dipaksa turun dari jabatannya. Pemungutan suara di kongres menghasilkan mufakat kalau Vizcarra harus dimakzulkan karena tersandung kasus korupsi. Para anggota kongres menyebutnya sebagai sosok yang memiliki “Ketidakmampuan Moral Permanen”.

Hanya berselang satu hari setelah Vizcarra jatuhManuel Merino naik sebagai presiden pada Selasa (10/11), dia merupakan pemimpin kongres Peru yang sering berselisih terkait pandangan politik dengan Vizcarra sebelumnya.

Kondisi itu mendorong para pendukung setia Vizcarra turun ke jalan dan memprotes tindakan kongres yang dianggap nggak berdasar. Dikutip dari The Washington Post, protes tersebut berujung pada bentrok dengan polisi hingga menyebabkan dua orang tewas dan puluhan luka-luka, aduh!. Para kritikus sampai menyebut hal itu menjadi unjuk rasa terbesar satu dekade ini.

Ernesto Benavides/Agence France-Presse — Getty Images

Tekanan agar Merino turun sudah nggak bisa dibendung lagi. Akhirnya, pada Minggu (15/11), Merino menyerah dari kursi presidennya. Umur jabatannya itu hanya lima hari saja. Singkat bukan?

Saat itu Peru benar-benar kebingungan dan nggak tahu arah. Masa sih sebuah negara nggak punya presiden dan wakil presiden?. Mereka akhirnya cepat mengajukan nama baru untuk posisi tersebut, yakni Francisco Sagasti.

Siapa Fransisco Sagasti?

Sagasti adalah politisi yang relatif nggak famous, bisa dibilang lebih dikenal karena latar belakang akademisnya daripada politiknya. Tetapi karena keberanian partainya (The Purple Party) untuk nggak mendukung proses pemakzulan terhadap Vizcarra, dia dianggap sebagai pilihan yang ideal dan netral. Sagasti berjanji untuk memimpin negara itu sebagai presiden sementara hingga pemungutan suara tahun depan pada 11 April.

RODRIGO ABD/ASSOCIATED PRESS

Namun, ketika menerima pencalonan menjadi presiden pada Selasa (17/11), dan menjadi pemimpin Ketiga Peru dalam waktu seminggu, dia mengakui sedang mengemban tugas yang besar dan berat.

“Ini bukan momen untuk perayaan, kami punya terlalu banyak masalah, tragedi dan kesulitan. Ini adalah momen untuk bertanya pada diri sendiri, kemana kita tersesat? ” dilansir dari The Washington Post, kata Sagasti kepada Kongres.

Sistem demokrasi Peru merosot beberapa tahun terakhir. Empat mantan presiden Peru dalam satu dekade ini telah terlibat dalam skandal korupsi. Salah satunya adalah Alan Garcia, yang bunuh diri sebelum penangkapannya.

Tugas Sagasti nggak hanya memulihkan sistem demokrasi yang sulit ini dengan kongres, tetapi juga membangkitkan negara setelah jatuh tersungkur akibat pandemi Covid-19. Pandemi itu menyebabkan Produk Domestik Bruto negara tercintanya turun 14 persen. Sedih.

Meskipun Sagasti nggak famous, terpilihnya pria berusia 76 tahun itu sebagai presiden melegakan banyak pengamat luar, agar posisinya di pemerintah nggak membuat rakyat bertindak semakin brutal.

Kontribusi dalam Politik

Sagasti adalah akademisi yang pernah belajar di Pennsylvania dan banyak berkontribusi dalam pembangunan internasional. Dia sempat berkarir di World Bank dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Setelah itu, ia kembali ke Peru hampir tiga dekade lalu saat negara mengalami krisis konstitusional. Pada tahun 2016 kemudian ia membantu mendirikan The Purple Party, kelompok sentris dan liberal dan baru terpilih menjadi anggota Kongres Peru pada bulan Maret.

The Purple Party adalah satu-satunya partai yang nggak mendukung pemakzulan dari Vizcarra. Presiden yang didakwa itu mengunggah cuitan di Twitter bahwa Sagasti dapat "mengandalkan dukungannya" dan dia bangga karena kaum muda Peru telah menyuarakan pendapat mereka.

Sagasti juga mendorong kaum moderat dan liberal untuk bergabung dalam pemerintahannya. Dari 18 posisi kabinet, delapan di antaranya adalah perempuan, termasuk posisi tingkat tinggi seperti perdana menteri dan menteri pertahanan.

elebihi 110 per 100.000 orang.Tetapi tugas pemerintah baru yang paling mendesak adalah memastikan bahwa pemilihan tahun depan berjalan dengan lancar. Demokrasi Peru nggak akan berhenti bermasalah jika dbiarkan. Kita doakan yang terbaik ya untuk Peru, jangan bentrok-bentrok lagi deh! (*)

 

Related Articles
Current Issues
Lagi Rame Demo Terkait Omnibus Law, Apa sih itu?

Current Issues
Buzzer Artinya Apa sih? Nih Biar Gak Kudet, Buzzer Adalah...

Portrait
2 Perempuan di Balik Karier Cemerlang Kamala Harris