Current Issues

Pembelajaran Jarak Jauh Tak Hanya Jadi Beban Mental Anak Tapi Juga Orang Tua

Dwiwa

Posted on November 21st 2020

(The Jakarta Post)

Selama berbulan-bulan pandemi telah memaksa proses pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Protes pun terus masih berlangsung meski proses pembelajaran daring ini sudah berjalan selama sembilan bulan.

Pasalnya, meski sudah begitu lama mengadopsi belajar secara daring, para siswa masih mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Menurut para orang tua, guru seharusnya bertindak sebagai pemberi tugas dan sistem ini tidak memiliki komunikasi dua arah yang memadai.

Dilansir dari The Jakarta Post, ada kesepakatan yang kuat jika metode tersebut memicu stres yang tidak seharusnya pada siswa. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat empat kematian yang diklaim berkaitan dengan pengalaman belajar online, meskipun ada faktor lain yang turut berkontribusi.

Seorang siswi SMA di Banten meninggal setelah berjuang melawan depresi, yang menurut sang ayah akibat banyaknya tugas sekolah. Kasus serupa dilaporkan di Gowa Sulawesi Selatan dan Tarakan, Kalimantan Utara.

Kasus lain di Lebak, Banten, melibatkan seorang ibu yang menganiaya anaknya secara fisik. Orang tua yang sebelumnya memasrahkan semua urusan belajar pada guru kini harus ikut terlibat dan bahkan memiliki tanggung jawab lebih besar dalam mengajari buah hati mereka.

“Ini sebenarnya memberatkan karena setiap orang tua memiliki kemampuan yang tidak sama,” ujar Satriwan Salim, Koordinator Nasional Persatuan Pendidikan dan Guru (P2G). Dia mengkritik kurangnya intervensi pemerintah di sekolah dalam hal menyediakan materi pembelajaran pelengkap melalui radio dan televisi milik negara.

Pada saat memasuki tahun ajaran baru pada Juli, Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan tahap kedua pembelajaran jarak jauh - yang melibatkan kelas, teman, dan guru baru – akan lebih menantang bagi siswa maupun orang tua.

Banyaknya hal baru ini dapat berdampak pada kondisi psikoloi anak, yang bermanifestasi dalam bentuk kebosanan, ketakutan tertinggal secara akademis, rasa tidak aman, kehilangan teman, dan bahan ketakutan akan menambah kesulitan keuangan orang tua mereka.

“Orang tua mungkin ikut emosional. Ini dapat memicu kekerasan verbal yang merusak kemampuan belajar anak atau tindakan disiplin yang tidak tepat, yang pada akhirnya menimbulkan tekanan psikologis anak,” kata Retno dalam sebuah pernyataan.

Retno dan Satriawan pun meminta agar sekolah mengurangi jumlah tugas dan memudahkan standal penilaian yang digunakan dalam kondisi darurat.

“Sekolah harus melakukan survei secara berkala pada siswa dan orang tua untuk mendapatkan timbal balik agar pembelajaran jarak jauh bisa lebih baik,” ujar Satriwan. Dia mencatat jika sekolah swasta telah mengurangi jam belajar setelah survei menunjukkan hal itu diperlukan.

Retno meminta Kementerian Kesehatan dan otoritas kesehatan lokal untuk membangun kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan organisasi pendidikan lokal untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental pada siswa dan menciptakan kebijakan yang lebih ramah untuk kesehatan mental.

Psikolog anak dan keluarga Ratih Zulhaqqi mengatakan dia telah menemukan sejumlah gejala stres pada kliennya – baik itu orang tua maupun anak – yang berkaitan dengan pandemi.

“Ini seperti lingkaran setan. Siswa stres dan kurang fokus, yang membuat orang tua stres. Di sisi lain, sekolah menuntut orang tua untuk mendampingi anak mereka di rumah. Ketiga sisi ini harus beradaptasi dengan situasi saat ini,” ujarnya.

Sebuah survei internal yang dilakukan Tanoto Foundation, sebuah organisasi filantropi pendidikan berorientasi keluarga, menemukan bahwa 56 persen orang tua dengan anak usia SD dan 34 persen orang tua dengan anak usia SMP merasa stres dan bosan mendampingi anak belajar di rumah.

Di antara orang tua yang memiliki anak SMP, 28 persen mengatakan mereka menemukan jika menjelaskan mata pelajaran tertentu adalah suatu hal yang sulit. Bahkan 24 persen mengatakan tidak memahami materi pendidikan yang diberikan.(*) 

Related Articles
Current Issues
Menganggur di Tengah Pandemi? Lakukan Hal Ini Biar Nggak Stress

Current Issues
Ahli Penyakit Menular AS Peringatkan Covid-19 Bisa Bermutasi Jadi Lebih Menular

Current Issues
Mitos Soal Tes PCR Covid-19 Ini Harus Segera Kalian Lupakan