Interest

Ilmuwan Serukan Pendekatan One Health untuk Iklim dan Mitigasi Penyakit

Dwiwa

Posted on November 11th 2020

Sejumlah penelitian terbaru telah mengungkapkan jika peningkatan penularan penyakit zoonosis, penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia yang mengganggu ekosistem alam, termasuk pengerusakan habitat alami hewan liar.

Hal ini membuat ilmuwan kesehatan lingkungan menyerukan untuk melakukan pendekatan terintegrasi untuk mencegah wabah penyakit di masa depan serta untuk mengurangi krisis iklim yang terjadi saat ini.

Dilansir dari The Jakarta Post, profesor biologi konservasi Universitas Indonesia Jatna Supriatna mengatakan  langkah-langkah pencegahan dan mitigasi terintegrasi sangat penting untuk wabah akibat patogen zoonosis.

Dia mencontohkan virus SARS-Cov-2 (penyebab Covid-19), Zika, dan flu burung yang menjadi beberapa penyebab wabah zoonosis yang membuat perubahan besar pada lingkungan alam.

Jatna mengingatkan bahwa di masa depan pandemi bisa berasal dari wilayah mana pun di dunia yang memiliki laju penggundulan dan konversi hutan yang tinggi termasuk Kalimantan dan Papua. Dia menambahkan, Papua telah kehilangan sekitar 25 persen dari hutan alami untuk pengembangan industri.

Jatna menjelaskan, penggundulan hutan telah membuat para hewan liar berpindah dari habitat alaminya dan memaksa mereka untuk hidup lebih dekat dengan pemukiman manusia yang baru dibangun.

Kondisi ini tentu akan meningkatkan risiko zoonosis melalui peningkatan perdagangan ilegal hewan liar termasuk pasar basah. “Jumlah (predator) terus menurun dan dalam beberapa kasus bahkan menjadi nol,” ujarnya dalam diskusi online yang diadakan The Conversation dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Indonesia pada Senin.

Dia menunjukkan bahwa hewan seperti kelelawar, babi hutan dan tikus tumbuh subur di wilayah yang tidak ada spesies predator loka. Padahal merekalah yang menjadi pembawa virus.

Peneliti ahli medis Sodia Mubarika dari Universitas Gadjah Mada, yang juga anggota AIPI seperti Jatna, menyarankan agar Indonesia mendukung penerapan pendekatan One Health untuk mengatasi tumpang tindih stabilitas ekologi dan kesehatan masyarakat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), One Health adalah pendekatan untuk merancang dan menerapkan program, kebihakan, undang-undang, dan penelitian di mana berbagai sektor berkomunikasi dan bekerja sama untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat yang lebih baik.

“Konsep One Health sebenarnya sudah diterapkan di Indonesia. Misalnya, pemerintah membentuk Komite Nasional untuk Zoonosis dan Pengendalian Penyakit Menular pada 2012,” ujar Sofia dalam diskusi tersebut.

Dia menekankan, bagaimanapun, komite  secara umum gagal untuk mengkomunikasikan temuannya kepada departemen negara terkait, termasuk juga kepada masyarakat umum. Sofia mengususlkan One Health dimasukkan ke dalam kurikulum nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama pada kaum muda.

Laporan pada 2016 dari United Nations Environment Programme (UNEP) menemukan 60 persen penyakit infeksi manusia berasal dari gewan dengan angkanya meningkat menjadi 75 persen untuk penyakit yang muncul seperti Ebola, HIV, flu burung, Zika, dan SARS.

“Munculnya penyakit zoonosis dikaitkan dengan perubahan lingkungan atau gangguan ekologi, seperti intensifikasi pertanian dan pemukiman manusia, atau perambahan ke hutan dan habitat lainnya,” jelas laporan UNEP, seperti dikutip dari AFP.

Pandemi Covid-19 bermula dari virus SARS-Cov-2 di pasar basah Wuhan pada Desember 2019. Virus corona baru diyakini berasal dari kelelawar dan mungkin ditularkan melalui spesies inang perantara seperti trenggiling, spesies terancam punah yang daging dan sisiknya berharga mahal di beberapa negara di Asia.

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, yang juga mengepalai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan ekonomi sirkular bisa menjadi jawaban atas krisis iklim dan isu terkait. Desain yang regenaratif dan berkelanjutan dari lingkaran ekonomi dapat menjadi solusi iklim yang layak dan mengurangi risiko pandemi di masa depan. (*)

Related Articles
Current Issues
WHO Siapkan Rapid Tes Covid-19 Bagi Negara Berpenghasilan Rendah dan Menengah

Current Issues
Selandia Baru Teratas Dalam Atasi Pandemi Covid-19, Indonesia Nomor Berapa?

Current Issues
Perubahan Iklim dan Covid-19: Apakah Global Warming Menyebabkan Pandemi?