Current Issues

Membatasi Kapasitas Ruangan Dapat Menurunkan Infeksi Covid-19 Secara Signifikan

Dwiwa

Posted on November 11th 2020

Sejumlah restoran, gym, mal, dan berbagai tempat umum dalam ruangan lainnya sudah mulai dibuka di era kehidupan adaptasi baru. Meski begitu, sejumlah aturan harus dipatuhi, termasuk kewajiban memakai masker hingga membatasi jumlah orang di dalam ruang.

Tujuan aturan ini pun jelas, yakni untuk membuat roda perekonomian tetap berputar tetapi tidak menambah jumlah kasus baru. Dan dilansir dari The New York Times, pengurangan kapasitas di dalam ruangan memang terbukti menurunkun  penularan Covid-19 secara signifikan.

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan di Stanford, Northwestern University, Microsoft Research, dan Chan Zuckerberg Biohub memberikan perkiraan yang lebih tepat tentang seberapa besar setiap jenis tempat berkontribusi terhadap wabah di perkotaan.

Para ilmuwan tersebut menganalisa terhadap data mobilitas ponsel di 10 kota Amerika Serikat pada Maret hingga Mei. Mereka melacak pergerakan setiap jam dan mempertimbangkan pengurangan mobilitas dari lockdown atau perubahan lain yang terjadi selama bulan-bulan tersebut. Ini tidak memodelkan infeksi di perkantoran dan sekolah.

Mereka pun menemukan alasan mengapa lingkungan berpenghasilan rendah terdampak Covid-19 lebih berat. Menurut para peneliti, ini disebabkan karena tempat umum di komunitas tersebut lebih ramai dan penduduknya lebih mudah berpindah-pindah dikarenakan kemungkinan tuntutan pekerjaan.

“Restoran menjadi yang paling berisiko, sekitar empat kali lebih berisiko dibanding gym dan kedai kopi, diikuti oleh hotel dalam kaitannya dengan infeksi baru,” ujar Jure Leskovec, ilmuwan komputer di Stanfrod University dan penulis senior di laporan tersebut.

Penutupan sejumlah restoran dan bar, pembatasan jam buka di Eropa dan sebagian Amerika Serikat menjadi cara yang dilakukan pejabat setempat untuk mengatasi lonjakan kasus baru dalam beberapa pekan terakhir.

Penelitian ini pun menyebut langkah-langkah ini terutama penting di wilayah berpenghasilan rendah. Infeksi meledak di banyak komunitas seperti itu pada musim semi lalu, dan model baru memberikan satu penjelasan yang mungkin : tempat-tempat lokal cenderung lebih ramai daripada tempat lain.

Pengamatan yang mereka melakukan pada toko grosir untuk melihat pola yang terjadi pada masyarakat berpenghasilan tinggi dan rendah menemukan jika delapan dari sepuluh kota yang diteliti, tingkat penularan dua kali lebih tinggi di wilayah berpenghasilan rendah dibanding tinggi.

Data mobilitas menunjukkan satu alasan. Pedagang grosir di lingkungan berpenghasilan rendah memiliki hampir 60 persen orang lebih banyak per kaki persegi. Selain itu, pembeli juga cenderung tinggal lebih lama. Dan warga tampaknya kurang bisa berteduh di rumah.

“Kami pikir alasan besarnya adalah bahwa para pekerja penting harus bekerja, mereka tidak bekerja dari rumah,” ujar Serina Chang, penulis lain yang juga berasal dari Stanford.

Dalam analisis tersebut, tim peneliti memetakan mobilitas perjam dari sekitar 98 juta orang ke dan dari ruang publik dalam ruangan, seperti toko bahan makanan, gereja, hotel, dan bar. Ini menghitung lalu lintas ke setiap tempat selama sehari, berapa lama rata-rata orang tinggal dan luas tempat itu.

Menggunakan latar belakang tingkat infeksi, para peneliti kemudian membuat model dan mengamati bagaimana infeksi menyebar dan di mana, menggunakan asumsi standar penyakit menular.

Perkiraan itu sejalan dengan apa yang sebenarnya terjadi di kota-kota tersebut – pemeriksaan realitas yang penting, sejak 1 Maret hingga 2 Mei, perilaku komunitas berubah secara drastis karena anjuran di rumah aja.

Dengan fokus pada tempat umum dalam ruangan, para peneliti juga bisa memodelkan dampak dari pembatasan parsial. Membatasi jumlah pengunjung restoran hingga seperlima kapasitas misalnya, akan menurunkan infeksi baru hingga 80 persen, sambil tetap mempertahankan sekitar 60 persen pelanggan. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Jika Semua Orang Mematuhi Protokol Kesehatan, Lockdown Tidak Diperlukan

Current Issues
Mendekati Musim Dingin, Kasus Covid-19 Makin Melonjak di Eropa dan Amerika

Current Issues
Visa Baru Thailand Mungkinkan WNA Tinggal 9 Bulan, Asal Karantina Dulu