Portrait

Pasangan Ilmuwan Terkaya Jerman: Otak di Balik Vaksin COVID-19 Paling Efektif

Delya Oktovie Apsari

Posted on November 11th 2020

Ugur Sahin dan Ozlem Tureci, pasangan suami-istri penemu vaksin COVID-19 yang saat ini disebut paling efektif. (Financial Times)

 

Ilmuwan di berbagai belahan dunia tengah berlomba-lomba untuk tujuan serupa: menemukan penangkal maupun penyembuh COVID-19. Namun, ada satu penelitian yang saat ini disebut-sebut sebagai vaksin COVID-19 yang paling efektif.

Dilansir dari CNN, ilmuwan di balik penemuan menggembirakan tersebut adalah pasangan suami-istri Ugur Sahin (55) dan Ozlem Tureci (53). Keduanya merupakan pendiri BioNTech, perusahaan bioteknologi yang bermarkas di Mainz, Jerman.

Menurut partner BioNTech, perusahaan farmasi raksasa Amerika Serikat, Pfizer, vaksin yang dikembangkan Sahin dan Tureci memiliki tingkat efektifitas di atas 90 persen dalam mencegah infeksi COVID-19 ketika diujikan pada relawan.

Vaksin tersebut, menggunakan teknologi bernama messenger RNA, atau mRNA, untuk memunculkan respon imun pada orang-orang yang divaksin.

"Menurutku pesan baik untuk umat manusia adalah bahwa kita sekarang memahami kalau infeksi COVID-19 bisa dicegah oleh vaksin," ujar Sahin ketika ditelepon.

 

Masuk daftar orang terkaya di Jerman

Sebelum mendirikan BioNTech, Sahin dan Tureci membangun Ganymed Pharmaceuticals di tahun 2001. Perusahaan tersebut fokus mengembangkan antibodi yang bisa melawan kanker. Keduanya termasuk dalam daftar 100 orang terkaya di Jerman.

Sahin dan Tureci, yang kini menjabat sebagai Chief Executive dan Chief Medical Officer, mengatakan mereka memang bertekad untuk 'memberikan sesuatu pada masyarakat' melalui semua penelitian yang mereka kerjakan dua dekade terakhir.

Sahin lahir di Iskenderun, Turki. Ia pindah ke Cologne, Jerman, ketika berusia empat tahun. Saat itu, ayahnya bekerja di pabrik Ford lokal.

Ia bertemu Tureci, anak fisikawan Turki, ketika keduanya memulai karier akademik. Keduanya memulai hubungan karena memiliki minat yang besar dalam penelitian kanker. Bahkan, pasangan ini memulai hari pernikahan mereka di laboratorium penelitian.

 

Gara-gara jurnal

Pada bulan Januari, Sahin selesai membaca makalah ilmiah tentang COVID-19 yang menyerang Wuhan, Tiongkok. Ia pun memulai langkahnya dari mRNA anti-kanker, menjadikannya vaksin virus berbasis mRNA.

Vaksin ini menggunakan mRNA, membuat sel memproduksi protein yang tampak seperti bagian dari COVID-19. Lalu, sistem imun akan mengenali dan menyerang bagian virus tersebut, dan secara teori, bakal bereaksi cepat ketika seseorang terinfeksi COVID-19.

 

Ingin produksi 1,3 miliar vaksin

Sahin menyebut bahwa vaksin yang dikembangkan BioNTech/Pfizer ini tidak akan menjadi satu-satunya vaksin melawan COVID-19. Percobaan untuk Fase 3 vaksin ini juga sedang berlangsung.

Bila vaksin sudah benar-benar final dan mendapat izin dari FDA, gol Sahin adalah memproduksi hingga 1,3 miliar vaksin pada akhir tahun 2021. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Perangi Hoax, YouTube Tambahkan Link Sumber Terpercaya pada Konten Vaksin Covid

Current Issues
Vaksin Jadi Angin Segar Penerbangan Internasional, Tetapi Bukan Segalanya

Current Issues
Korea Utara Dilaporkan Berusaha Curi Teknologi Vaksin Covid-19 dari Pfizer