Opinion

Yang Kamu Nggak Tahu Tentang Si Ranking Satu

Helena Tipawael

Posted on July 16th 2018

 

Nggak perlu berkecil hati setiap pertanyaan “Dapat ranking berapa?” datang usai penerimaan rapor. Nggak perlu membayangkan berlebihan pula, kalau posisi buncit yang kamu dapatkan itu baru menyedihkan. Kadang-kadang jadi nomor satu pun sama aja, kok. Jadi supaya nggak terus-terusan berprasangka, rasanya  kamu perlu tahu fakta dibalik ‘senyum’ bahagia itu.

Harus diakui kalau menempati ranking 1 adalah impian semua anak sekolah. Sehingga nggak heran kita sering berjuang mati-matian buat mencapai posisi ini. Jika buat menyelesaikan tugas dengan baik saja kami sampai auto-sleepless, apa lagi menjelang musim ujian. Rasanya kami terpacu buat terus ‘berlari’ demi menuju ‘puncak’ itu. Dan tanpa di sadari, hal ini kerap bikin kondisi badan jadi drop. 

Tapi biarpun sudah lelah fisik begitu, kita suka nggak habis pikir sama teman yang suka banget  nyontek. Entah buat tugas atau ulangan. Bukan pelit, nih. Sejujurnya sikap kalian itu bikin kami sakit hati karena merasa usaha kami buat melakukan yang terbaik nggak dihargai. Dari pada nyontek, kenapa nggak dari awal aja sih kita belajar bareng? Pun ada teman yang mungkin berbaik hati memberi kamu sontekan, kurasa nggak seharusnya kamu bergantung sama dia dari awal. Sukses kan tanggung jawab masing-masing, sob.

Lelah hati para juara kelas ini belum cukup kalau ditambah beban ambisi yang mereka emban. Bukan ambisi pribadi, melainkan ambisi orang tua yang semata-mata karena gengsi. Kalau gengsi itu selaras dengan kemampuan dan kemauan anak sih, nggak pa-pa. Masalahnya, ini sering terbalik. Sehingga nggak jarang timbul depresi buat teman-teman yang melakukannya. Sebab si anak jadi dipaksa belajar banyak, bahkan untuk hal di luar urusan sekolahnya. Meminjam istilah Loki, mereka ini semacam burdened with glorious purpose.

Memang sih, belajar banyak itu nggak ada salahnya. Apa lagi ini berperan untuk membawa dia ke peringkat terbaik di sekolah dan berpotensi menjadi kebanggaan banyak pihak (diri sendiri, guru, orang tua). Tapi masalahnya kan... kecerdasan kita berbeda. Sebisa-bisanya kita berjuang keras mencapai posisi yang dibanggakan itu, apa nggak lebih baik kalau potensi kita yang sudah ada juga ikut gemilang? Prestasi kan nggak selalu soal hal yang bisa diukur dengan besaran angka di rapor.

Terus ada lagi stereotype tentang ‘betapa-cerdasnya-para-penyandang-peringkat-teratas’ yang juga sering bikin kita down. Seolah-olah kita nggak diberi ruang buat ‘turun performa’, layaknya siswa kebanyakan. So setiap hasil kami kurang oke, seluruh dunia seperti ikut menghakimi lewat pertanyaan: ‘kok bisa?’, ‘tumben?’, ‘oh, pantes, dia kan cuma pintar menghapal’ atau ‘dia kan sukses karena pintar ngambil perhatian guru’. Wow! This is so harsh, but this is the fact. Itu pun belum ditambah celetukan pedas para pesaing, seperti yang kurasakan di Taiwan, negara tempatku bersekolah sekarang. Level ambisius mereka sudah sampai saling nyinyir buat melemahkan mental.

Kayak Thomas Alva Edison, Einstein, Bill Gates, Steve Jobs, bahkan Bu Susi Pudjiastuti sekalipun. Namun perlu kamu tahu, berusaha menjadi yang terbaik adalah bentuk kami menghargai kesempatan. Sebuah prinsip yang menempa kedisiplinan dan kemandirian. Because no pain, no gain.

editor: Hening Swastikaningrum

Related Articles
Opinion
Beratnya Menjadi Kelas Sulung di Sekolah

Opinion
Sekolah Tanpa PR?!

Opinion
Ada Yang Baru di Tahun Ajaran Baru