Current Issues

Naiknya Kasus Bunuh Diri, Overdosis, dan KDRT di AS Selama Pandemi Covid-19

Dwiwa

Posted on November 1st 2020

Anjuran untuk di rumah aja pada awal pandemi Covid-19 bertujuan untuk menahan penyebaran virus SARS-Cov-2 agar tidak meluas. Tetapi di sisi lain, para ahli kesehatan di Amerika Serikat  masyarakat juga khawatir akan terjadi peningkatan dalam kasus bunuh diri, overdosis narkoba dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sembilan bulan kemudian, kekhawatiran para ahli kesehatan tersebut menjadi nyata. “Ada gelombang kesehatan mental dalam pandemi ini. Kita sebagai spesies tidak cocok dengan ketidakpastian,” ujar dr Ken Duckworth, kepala petugas medis National Alliance for Mental Illness kepada ABC News.

Dilansir dari ABC News, psikiater Thomas Holmes dan Richard Rahe menyebut jika bagi orang Amerika pandemi ini memperburuk skenario yang sudah membuat stres – kematian orang yang dicintai, penyakit, hingga kehilangan pendapatan.

Ditambah lagi, adanya anjuran tinggal di rumah dan sekolah ditutup sebagai upaya mengekang penyebaran virus, menciptakan konsekuensi seperti isolasi mandiri, mengikis jaringan support dan menambah beban keuangan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, kondisi ini memicu lebih banyak bunuh diri, overdosis dan kekerasan. Para ahli memperingatkan jika pandemi kesehatan mental dalam pandemi Covid ini juga mempengaruhi orang kulit hitam, Hispanik, orang tua, orang berpendapatan rendah dan petugas kesehatan secara tidak proporsional.

Bahkan sebelum Covid datang, krisis kesehatan masyarakat ini memang sudah buruk. Pada 2018, AS memiliki tingkat bunuh diri yang disesuiakan dengan usia tertinggi sejak 1941.

Pada Juni, survei CDC pada 5.470 orang dewasa AS menemukan satu dari tiga orang melaporkan gejala kecemasan  dan depresi. Sekitar 10 persen mengatakan mereka memikirkan bunuh diri dalam sebulan terakhir dan pikiran bunuh diri tertinggi ditemukan pada pengasuh yang tidak dibayar, pekerja esensial, Hispanik atau orang kulit hitam dan dewasa muda.

Menurut Duckworth, orang-orang berusia 18 hingga 25 tahun mungkin menjadi kelompok yang paling terdampak. “Kami perlu melihat dampak pada usia. Di usia dimana identitas diri berkembang, orang dewasa muda melewatkan kuliah,” ujar Duckworth.

Epidemi opioid, yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman terbesar kesehatan masyarakat AS juga memburuk sejak pandemi. Setelah kematian akibat overdosis sempat stabil pada 2017, kematian mulai meningkat lagi karena adanya obat sintetis ilegal seperti fentanyl.

Menurut dr Harshal Kirane, direktur medisPerawatan dan Penelitian Kecanduan Wellbridge, mereka telah membuat beberapa kemajuan dalam pilihan perawatan kecanduan sebelum pandemi. Tetapi masih ada gap besar yang semakin memburuk karena pandemi.

Menurut American Medical Association, lebih dari 40 negara bagian telah melaporkan peningkatan kematian terkait opioid sejak pandemi. Overdosis, baik fatal dan tidak, telah meningkat 20 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019, menurut Program Aplikasi Pemetaan Deteksi Overdosis.

“Insiden pengguna pertama juga meningkat. Isolasi, tekanan ekonomi dan konflik keluarga selama karantina menjadi faktor pemicunya,” ujar Kirane.

Laporan KDR juga meningkat dan banyak ahli khawatir kasus yang dilaporkan hanyalah sebagian kecil. Direktur eksekutif  Kantor Negara Bagian New York untuk Pencegahan KDRT, terjadi peningkatan substansial  pada telepon di hotline KDRT.

“Panggilan ke hotline menurun pada minggu pertama pandemi, meningkat 30 persen pada April dan meningkat 76 persen pada Agustus. Jumlah tersebut terus meningkat hingga September,” tambahnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan jika pandemi mungkin aka merusak upaya untuk mengakhiri kekerasan berbasis gender secara global, sementara perintah tinggal di rumah dan jaga jarak membuat pelaku kekerasan dan korban terjebak bersama.

Spesialis kesehatan masyarakat dan pembuat kebijakan sedang mengambil langkah untuk mencoba menangani tren yang mengkhawatirkan ini. Contohnya, banyak negara telah melonggarkan pembatasan untuk telehealth, membuat orang lebih mudah mengakses jaringan medis selama krisis.

Selama musim panas, CDC merilis panduan untuk orang yang mengalami kekerasan dan mereka yang menghadapi stres ekstrim selama pandemi. CDC merekomendasikan untuk membuat rencana jika kalian tinggal di rumah yang tidak aman, menerapkan perawatan diri sebanyak mungkin dan mencoba mempertahankan hubungan sosial secara virtual dengan orang di luar rumah.

Solusi untuk tingkat komunitas harus memprioritaskan dewasa muda, etnik dan ras minoritas, pekerja esensial dan pengasuh dewasa. CDC mengatakan upaya ini harus mencakup dukungan ekonomi, upaya untuk menurunkan stres terkait diskriminasi ras, mempromosikan hubungan sosial komunitas dan kepedulian pada mereka yang berisiko bunuh diri.

“Pandemi ini tidak akan kemana-mana. Saranku adalah, turunkan ekspektasi, tetap terhubung dengan orang, cari bantuan profesional jika dibutuhkan, jangan lewatkan vaksin flu dan tetaplah aktif secara fisik,” kata Duckworth.(*)

Related Articles
Current Issues
Menganggur di Tengah Pandemi? Lakukan Hal Ini Biar Nggak Stress

Current Issues
Beda Dengan Flu, Covid-19 5 Kali Lebih Mematikan Bagi Pasien yang Dirawat di RS

Current Issues
Jangan cuma Rebahan, Gerak Yuk. Kata WHO, Segini Minimal Waktu Aktivitas Fisik