Current Issues

Gangguan Tidur Jadi Salah Satu Dampak Jangka Panjang Covid-19

Dwiwa

Posted on October 27th 2020

Setelah berbulan-bulan Covid-19 mengacaukan dunia, dampak jangka panjang dari penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini masih belum diketahui dengan jelas. Beberapa orang sembuh dengan cepat sementara beberapa lainnya mengalami kerusakan organ dan gejala yang menetap selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Pasien yang berhasil selamat dari virus ini telah melaporkan adanya masalah yang menetap mulai dari sesak napas hingga kerontokan rambut. Dan terbaru, ada keluhan dari para penyintas, bahkan yang hanya mengalami Covid ringan. Mereka mengatakan mengalami insomnia.

“Saat aku mulai tertidur, rasanya seperti aku berhenti bernapas dan aku akan terbangun dan terengah-engah. Rasanya seperti tenggelam, ini menakutkan,” ujar Franco, seorang penyintas Covid anonim berusia 37 tahun, kepada Today.

Dilansir dari Bestlife, setengah dari pasien yang sembuh dari Covid telah melaporkan adanya kesulitan tidur sebagai efek jangka panjang dari virus. Hal ini didasarkan pada survei yang dilakukan pada lebihdari 1.500 orang di Grup Facebook Survivor Corps, grup para penyintas Covid yang beranggotakan hampir 113 ribu orang.

Tetapi ini bukan sekadar masalah kesulitan menutup mata dan beristirahat. Patrick Hobart, yang terpapar Covid pada Maret, juga memberitahu Today jika dia masih merasakan kecemasan soal tidur, bahkan berbulan-bulan setelah pulih.

Dan kabar buruknya, baik Franco maupun Patrick tidak mengalami sakit parah saat terpapar sehingga tidak perlu mendapat perawatan rumah sakit.

Dokter Meir Kryger, peneliti ridur dan profesor di Yale School of Medicine mengatakan kepada Today jika dia melihat banyak pasien dengan berbagai jenis gejala jangka panjang yang sangat signifikan terkait tidur, termasuk insomnia.

Gangguan tidur ini dapat membuat seseorang kesulitan untuk tidur, tertidur, atau tidur terlalu lama. Keparahan dari gangguan ini pun berbeda-beda.

Kryger mengatakan perkembangan insomnia ini kemungkinan besar berasal dari masalah psikologis seperti post-traumatic stress disorder (PTSD). Dia mencatat bahwa salah satu pasiennya bahkan berakhir dengan depresi berat setelah Covid karena dia mengalami ketakutan akan kematian saat tidur akibat sesak napas.

Tetapi Kryger mangatakan, tentu saja sama seperti Covid-19 yang masih baru, masalah kesulitan tidur yang berhubungan dengan penyakit ini juga masih perlu lebih banyak diteliti. Dan tentu saja, selain insomnia masih ada beberapa gejala lain yang dirasakan menetap oleh para penyintas.

Survei dari Grup Facebook Survivor Corps menemukan jika 57,56 persen mengalami sakit kepala, 58,56 persen tidak mampu berolahraga atau aktif, 58,97 persen kesulitan fokus dan konsentrasi, 65,10 persen sesak napas atau kesulitan bernapas, 66,75 persen nyeri otot, dan 100 persen mengatakan mengalami kelelahan.

Aduh, serem juga ya dampak jangka panjangnya. Meski kelihatannya gejala ini ringan, tetapi jelas sangat mengganggu dalam aktivitas sehari-hari. Apalagi untuk seusia kita nih yang masih muda dan memiliki banyak aktivitas.

Jadi, daripada menyesal di belakang, mulai sekarang kita terapkan protokol kesehatan 3 M dengan benar yuk. Gunakan masker saat keluar rumah, menjaga jarak minimal 2 meter, rutin mencuci tangan, serta hindari kerumunan dan ruang tertutup untuk sementara waktu.  (*)

 

Related Articles
Current Issues
Apa Dampak Jangka Panjang Jika Terinfeksi Covid-19?

Current Issues
Jangan Sembrono, Covid-19 Juga Bisa Berdampak Serius untuk Kaum Muda

Current Issues
Pedoman Baru CDC Akui Covid-19 Menular Melalui Udara