Current Issues

Penelitian WHO: Remdisivir Nyaris Tidak Berguna Cegah Kematian Akibat Covid-19

Dwiwa

Posted on October 17th 2020

 

Sebuah penelitian yang dikoordinasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menemukan bahwa remdesivir dan tiga obat potensial lainnya untuk virus corona memiliki sedikit atau bahkan sama sekali tidak berdampak pada penurunan kematian pasien yang dirawat di rumah sakit.

Dilansir dari CNBC, ini merupakan hasil sementara yang didapat dari Uji Coba Terapi Solidaritas WHO. Sebuah uji coba terkontrol acak yang disebut sebagai yang terbesar di dunia untuk perawatan virus corona.

Hasil yang diterbitkan pada kamis (15/10) menunjukkan jika resimen pengobatan remdesivir, hydroxychloroquine, lopinavir/ritonavir dan interferon tampaknya hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak dapat mengurangi kematian pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Penelitian ini dilakukan di 405 rumah sakit di 30 negara pada 11.266 pasien, dengan 2750 diberikan remdisivir.

Uji coba terkontrol acak telah dianggap sebagai “gold standard” dari penelitian klinis karena ini lebih efektif dalam mengeliminasi bias. Meski begitu penelitian WHO ini masih belum dilakukan peer review, artinya belum dievaluasi secara independen oleh pakar lain.

Temuan WHO ini muncul seminggu setelah pembuat obat Gilead Sciences mempublikasikan data final terkait uji coba remdesivir skala besar milik mereka sendiri. Obat ini pada awalnya dikembangkan Gilead untuk mengatasi virus Ebola.

Penelitian Gilead dilakukan pada 1.060 pasien yang dirawat di rumah sakit akibat Covid-19. Hasilnya, remdesivir berkontribusi pada penurunan angka kematian secara signifikan di antara pasien yang berada pada tahap awal membutuhkan bantuan oksigen.

Tetapi, tidak ditemukan adanya penurunan signifikan secara statistik dalam tingkat kematian di seluruh pasien yang dirawat dalam penelitian tersebut.

CEO Gilead Science Daniel O’Day mengatakan pada CNBC bahwa obat ini juga diketahui dapat mencegah orang lebih sakit dan dari kondisi lebih banyak membutuhkan bantuan oksigen. Penelitian tersebut juga menggunakan metode acak terkontrol dan sudah dilakukan peer review. Gilead Science sendiri belum memberikan komentar terkait temuan WHO .

Remdesivir sudah mulai banyak digunakan di berbagai negara sebagai salah satu obat untuk pasien Covid-19. Di Indonesia sendiri, remdesivir mulai digunakan pada awal Oktober lalu setelelah mendapat ijin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Ketertarikan terhadap obat untuk melawan virus corona semakin meningkat seiring bertambah banyaknya kasus positif terkonfirmasi. Selain obat, para ilmuwan di seluruh dunia juga sedang dikejar target untuk mendapatkan vaksin Covid-19 yang manjur.

Ngozi Okonjo-Iweala, ketua dewan Vaksin Alliance, yang dikenal sebagai GAVI, mengatakan pada hari Kamis bahwa masih ada harapan untuk bisa mendapatkan vaksin pada kuartal pertama hingga pertengahan tahun depan.

“Tentu saja, vaksin bukanlah peluru ajaib dan kami tidak dapat menjamin,tetapi sejauh ini hasilnya cukup menjanjikan ,” ujarnya dalam panel CNBC tentang ekonomi global pada Kamis. (*)

Related Articles
Current Issues
Meski Ada Vaksin Covid-19, Kehidupan Diperkirakan Baru Akan Normal Pada 2022

Current Issues
Vaksin Covid-19 Eksperimental Tiongkok Lolos Uji Klinis Tahap Awal

Current Issues
Waduh, Cuma 50 Persen Warga Amerika Serikat yang Mau Divaksin