Current Issues

Lampaui Filipina, Indonesia Jadi Negara Dengan Kasus Tertinggi di Asia Tenggara

Dwiwa

Posted on October 16th 2020

 

Penambahan kasus Covid-19 pada Kamis (15/10) sebanyak 4.441 telah membuat Indonesia meraih gelar sebagai negara dengan kasus terbanyak di Asia Tenggara. Indonesia bahkan telah melampui Filipina yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi hotspot pandemi Covid-19 di Asia Tenggara.

Secara total, Indonesia telah mencatat 349.160 kasus pada Kamis dengan kematian sebanyak 12.286 yang juga tertinggi di Asia Tenggara. Jumlah ini sedikit berada di atas kasus Covid-19 Filipina yang sudah mencapai 348.698.

Dilansir dari The Straits Times Ini bukan kali pertama kasus Covid-19 di Indonesia tercatat sebagai yang tertinggi di Asia Tenggara. Pada 17 Juni hingga 6 Agustus, Indonesia sudah pernah mendapatkan gelar ini sebelum akhirnya diambil alih Filipina.

Negara dengan penduduk terpadat keempat didunia ini mengalami pertumbuhan infeksi yang begitu cepat dalam beberapa bulan terakhir. Pelonggaran pembatasan berskala besar (PSBB) sebagai upaya pemulihan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia tampaknya menjadi salah satu penyebabnya.

Jakarta sebagai ibu kota negara telah melakukan kembali PSBB ketat pada 14 September sebagai upaya untuk menghentikan laju pertumbuhan kasus yang semakin tidak terkendali. Tetapi pada Senin (12/10), aturan ini mulai dilonggarkan.

Pemerintah sendiri menyalahkan orang-orang yang gagal dalam mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker saat di luar rumah dan menjaga jarak dari orang lain. Tetapi para kritikus mengatakan jika pihak berwenang lebih memprioritaskan ekonomi dibanding mengatasi pandemi dengan benar.

Adanya penurunan kasus di Filipina juga telah membuat negara tersebut mulai melonggarkan pembatasan karantina untuk membuka kembali ekonomi yang sudah mengalami resesi. Tetapi para ahli memperingatkan jika ini akan menyebabkan terjadinya lonjakan infeksi kembali.

Kepala satuan tugas Covid-19 Filipina Carlito Galvez mencatat jika penurunan kasus di Filipina dikarenakan adanya perubahan perilaku penduduk setempat. Ini merujuk pada konsistensi mereka dalam mengenakan masker dan face shield sekaligus menjaga jarak saat berada di luar rumah.

Meski begitu, ahli dari tim peneliti Octa-UP di Universitas Filipina menyuarakan kekhawatiran jika kasus di Metro Manila, wilayah ibu kota, dan tuju provinsi baru-baru ini meningkat tajam. Mereka memperingatkan jika lonjakan tidak terhindarkan.

“Karena pemerintah nasional memutuskan untuk memperluas aktivitas ekonomi di seluruh negeri, kenyataan lonjakan penularan virus tidak akan mempertanyakan tentang apakah, tetapi kapan dan berapa banyak,” ujar para peneliti dalam sebuah laporan.

Sementara di Indonesia, pihak berwenang lebih meningkatkan upaya untuk mengamankan vaksin dalam mengatasi pandemi. Menteri Luar Negeri memastikan jika perusahaan farmasi Inggris AstraZeneca telah berkomitmen menyediakan 100 juta dosis vaksin Covid-19 untuk Indonesia.

Upaya pengamanan vaksin Covid-19 untuk penduduk Indonesia ini direncanakan akan menjangkau 160 juta dari hampir 270 populasi total pada akhir tahun depan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pada 2 Oktober jika prioritas akan diberikan pada orang berusia 19-59 tahun dan pekerja garis depan seperti tenaga kesehatan, polisi, dan TNI.

Sementara itu, vaksin hasil kerja sama antara perusahaan farmasi Indonesia Bio Farma dengan perusahaan farmasi Tiongkok Sinovac Biotech sedang dalam tahap akhir uji klinis. Dikatakan akan mulai memproduksi vaksin pada bulan Januari.

Sementara kerja sama Kalbe Farma dengan perusahaan farmasi Korea Selatan Genexin untuk kandidat vaksin berbeda, akan melakukan uji coba tahap kedua  untuk kemanjuran dan ukuran dosis di Indonesia pada bulan depan.

Akan tetapi, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Dr Pandu Riono mempertanyakan sikap pemerintah yang memilih mengamankan vaksin untuk mengatasi pandemi. Menurut Pandu, vaksin harusnya menjadi solusi jangka panjang dan menjadi bagian dari rencana strategis dalam menangani pandemi dan dampaknya selama lima tahun ke depan.

Sementara itu, pemerintah seharusnya tetap fokus pada menurunkan angka kasus dengan memperkuat surveilans, termasuk pelacakan kontak dan mengubah perilaku masyarakat seperti yang dilakukan oleh negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.

“Pandemi ini banyak menyerang daerah di Jawa dan kota-kota besar seperti Jakarta. Kalau (metode) bisa diterapkan dengan baik, kita dapat menekan angka penularan,” ujarnya. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Covid-19 Dapat Mengambang di Udara, Jaga Jarak 1,8 Meter Saja Tak Cukup

Current Issues
Ternyata Cewek Lebih Patuh Protokol Covid-19 Daripada Cowok

Current Issues
Jaga Jarak 1,8 Meter Mungkin Tak Cukup untuk Melindungimu dari Covid-19