Interest

Perlu Sistem Peringatan Dini Lebih Baik untuk Hadapi Cuaca Ekstrim

Dwiwa

Posted on October 15th 2020

 

Dalam 50 tahun terakhir, bencana yang dicatat telah mengalami peningkatan hingga lima kali lipat, sebagian akibat terjadinya perubahan iklim. Dilansir dari BBC, sebuah laporan dari 2020 State of Climate Service mengatakan dunia perlu meningkatkan investasi dalam peringatan dini untuk kejadian cuaca ekstrim.

Menurut laporan dari 16 lembaga internasional yang dikoordinasi oleh World Meteorological Organization (WMO), lembaga khusus PBB untuk meteorologi,  sekitar 11 ribu bencana yang melibatkan cuaca, iklim, dan bahaya terkait air telah terjadi dan merenggut dua juta jiwa dengan kerugian ekonomi lebih dari USD 3,5 triliun.

Pada 2018, sekitar 108 juta orang mencari bantuan dari lembaga internasional untuk mengatasi bencana alam. Penulis laporan tersebut mengatakan bahwa pada 2030 jumlah ini dapat meningkat hingga 50 persen dan menghabiskan biaya sekita USD 20 miliar dalam setahun.

Menurut penelitian tersebut, sistem peringatan dini yang efektif adalah kuncinya. Mereka juga menyerukan adanya perubahan dari yang sekadar menitikberatkan pada meramal bagaimana cuaca ini di masa depan menjadi bagaimana dampak dari cuaca tersebut, sehingga orang dan bisnis bisa bertindak lebih awal berdasarkan sistem peringatan.

Sistem peringatan yang berkualitas baik sangat dibutuhkan, terutama di negara kurang berkembang dan negara pulau yang kecil. Negara-negara ini telah kehilangan miliaran dolar karena cuaca dan bencana terkait iklim selama lima dekade terakhir.

Sekitar 70 persen kematian terkait bencana ini terjadi di negara-negara termiskin, seperti di benua Afrika. Menurut WMO, hanya 26 persen dari jaringan pengamatan cuaca di Afrika yang memenuhi standar mereka.

Laporan tersebut juga menyebut kehadiran Covid-19 telah membuat pembangunan sistem peringatan dini menjadi lebih sulit. Meski begitu, ini seharusnya tidak mengalihkan dari kebutuhan untuk membantu orang-orang miskin untuk mengatasi bencana alam yang diperburuk oleh perubahan iklim.

“Bersiap dan mampu bereaksi di waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dapat menyelamatkan banyak nyawa dan melindungi mata pencaharian masyarakat di manapun,” ujar sekretaris Jenderal WMO Prof Petteri Taalas.

Dia menambahk meskipun Covid-19 menimbulkan krisis kesehatan dan ekonomi internasional yang butuh bertahun-tahun untuk pulih, perlu diingat jika perubahan iklim akan terus menimbulkan ancaman yang berkelanjutan.

Selain itu, seiring berjalannya waktu, ini akan meningkatkan ancaman pada kehidupan manusia, ekosistem, ekonomi, dan masyarakat untuk berabad-abad yang akan datang.

Sementara itu, Mami Mizutori, perwakilan khusus sekretaris Jenderal PBB untuk pengurangan risiko bencana menyebut jika Covid-19 telah membuat semua bisnis berisiko. “Kita harus membawa pemahaman dan momentum ini ke dalam perjuangan yang lebih besar untuk planet kita melawan keadaan darurat iklim yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih menghancurkan,” ujarnya. (*)

Related Articles
Current Issues
Perubahan Iklim dan Covid-19: Apakah Global Warming Menyebabkan Pandemi?

Interest
Imigran Afrika Gotong Royong Kumpulkan Makanan Sehat untuk Warga Italia

Interest
Belajar Dari “Drama” Masker Saat Pandemi Influenza 1918 di Amerika Serikat