Current Issues

Covid-19 Bikin Kemajuan Penanganan TBC Jadi Terganggu

Dwiwa

Posted on October 15th 2020

Pandemi Covid-19 telah menyita begitu banyak perhatian sektor kesehatan di seluruh dunia. Dengan jumlah kasus yang kini telah mencapai lebih dari 37 juta dan kematian di atas 1 juta jiwa, berbagai program kesehatan yang selama ini telah berjalan baik pun mulai terancam.

Dilansir dari Reuters, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan jika upaya global dalam mengataasi tuberkulosis (TBC), penyakit menular paling mematikan di dunia, telah terganggu akibat pandemi. Mereka memperkirakan kasus akan meningkat jika tidak tindakan dan investasi yang segera dilakukan.

Berdasarkan laporan TBC tahunan WHO, penyakit ini telah membunuh sekitar 1,4 juta orang pada 2019, hanya berubah sedikit dari 1,5 juta kematian pada 2018. Ini menjadi peringatan bahwa banyak negara berada di jalur yang salah dalam mencapai target keberhasilan diagnosis dan pengobatan untuk menghentikan penyebaran penyakit ini.

Menurut laporan tersebut, gangguan dalam pelayanan yang disebabkan oleh Covid-19 telah membuat kemunduran besar pada program TBC. Di banyak negara, sumber daya manusia, keuangan, dan sumber daya lainnya telah dialokasikan dari TBC ke respon Covid-19.

“Tindakan yang dipercepat sangat diperlukan di seluruh dunia jika kita ingin memenuhi target,” ujar Direktur jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan di laporan tersebut.

Pakar Kebijakan TBC di badan amal kesehatan global Medecine Sans Frontieres (MSF) Sharonann Lynch mengatakan kemajuan dalam melawan penyakit mematikan ini sangat lambat. “Sangat mengecewakan melihat bahwa pemerintah tidak berada di jalur yang benar,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Sebelum pandemi Covid-19, laporan WHO mengatakan banyak negara telah membuat kemajuan yang stabil melawan TBC. Terjadi penurunan insiden 9 persen antara 2015 hingga 2019 dan penurunan kematian 14 persen dalam periode yang sama.

Strategi Mengakhiri TBC milikWHO bertujuan untuk mengurangi kematian akibat TBC hingga 90 persen dan mengurangi tingkat kejadian hingga 80 persen pada 2030 dibandingkan dengan baseline pada tahun 2015. Target sementara untuk 2020 mengurangi tingkat insiden hingga 20 persen dan kematian 35 persen.

Dalam laporan WHO, Indonesia sendiri menjadi negara kedua penyumbang kasus TBC terbanyak dengan total mencapai 8,5 persen pada 2019. Sementara dalam catatan tbindonsia.or.id, data per 1 Mei 2019 memperlihatkan pada 2018 ada 842 ribu kasus.

Sebagai informasi, TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit yang menyerang paru-paru ini sangat mudah menular melalui droplet yang dikeluarkan saat seseorang batuk bahkan bisa menular melalui udara. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Dirjen WHO: Herd Immunity Respon Pendekatan Pandemi yang Tak Etis

Current Issues
Covid-19 Makin Merebak, Kepala WHO : Negara-negara Berada di Jalur Berbahaya

Current Issues
Anak Muda Harus Sabar, Jatah Vaksin Covid-19 Mungkin Baru Didapat Pada 2022