Current Issues

Jangan Salahkan Kelelawar, Manusia Juga Punya Andil Dalam Munculnya Wabah Baru

Dwiwa

Posted on October 14th 2020

Semakin meluasnya infeksi virus SARS-Cov-2 di berbagai belahan dunia membuat kelelawar seolah menjadi tersangka utama dari penyakit mematikan ini. Banyak yang menuding mamalia terbang ini sebagai biang keladi dari penyakit Covid-19 yang telah menginfeksi lebih dari 37 juta orang di dunia.

Tetapi benarkah semua ini semata-mata adalah salah kelelawar? Atau justru sebenarnya ini adalah bumerang dari hasil perbuatan kita sebagai manusia?

Melansir dari BBC, kelelawar sebenarnya tidak sejahat itu. Meski memang diakui jika hewan nokturnal ini, sama seperti banyak kelompok hewan lain, bisa menjadi inang bagi penyakit yang berpotensi berbahaya bagi manusia seperti Covid-19.

Tetapi dibalik itu, kelelawar juga memiliki manfaat yang tidak bisa disepelekan. Menurut Mathieu Bourgarel, seorang ahli ekologi, orang-orang di bumi ini telah salah paham terhadap kelelawar. Manusia ketakutan pada sesuatu yang sebenarnya tidak mereka ketahui.

Bagi Bourgarel yang merupakan seorang pemburu virus bagi lembaga penelitian Perancis, Cirad, hewan-hewan ini adalah makhluk yang indah dan luar biasa. Bekerja sama dengan para ilmuwan dari Universitas Zimbabwe, mereka meneliti materi genetik virus-virus yang dibawa oleh kelelawar.

Sejumlah virus corona yang berbeda-beda pun sudah mereka temukan, termasuk yang tergabung dalam keluarga SARS dan Covid-19. Apa yang mereka lakukan ini adalah upaya dunia untuk menyelidiki keragaman dan susunan genetik dari virus yang dibawa kelelawar dan mempersiapkan peralatan agar bisa cepat bertindak ketika ada orang yang mulai sakit.

Para pakar kelelawar sendiri telah meluncurkan kampanye Don’t Blame Bats atau Jangan Salahkan Kelelawar untuk menghilangkan ketakutan dan mitos tentang kelelawar, yang mengancam konservasi. Sejak lama mereka telah menjadi sasaran penghinaan, penganiayaan dan prasangka budaya dan disalahkan atas sejumlah kejadian buruk yang menimpa manusia.

Padahal sebenarnya, hewan ini juga memiliki manfaat bagi manusia. Beberapa penduduk lokal di Zimbabwe memanfaatkan kotorannya untuk pupuk.

Sedangkan menurut Bat Conservation International, ratusan spesies tanaman mengandalkan kelelawar untuk penyerbukan dan kelelawar pemakan serangga dapat menghemat USD 3,7 miliar setiap tahun bagi petani Amerika Serikat dengan mengurangi kerusakan tanaman.

Dan meskipun para ilmuwan sepakat bahwa virus penyebab malapetaka ini ditularkan dari hewan ke manusia, terutama kelelawar, tetapi itu bukan sepenuhnya salah mereka. Campur tangan kita terhadap makhluk-makhluk liar ini lah yang menjadi akar masalahnya.

Sudah banyak ahli yang mengungkap jika wabah penyakit yang merebak dikaitkan dengan kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia. Ketika hutan atua padang rumput dihancurkan untuk menggembalakan ternak ladang pertanian atau membangun jalan dan pemukiman, hewan liar dipaksa untuk berada lebih dekat dengan manusia dan ternak, memberi kesempatan virus untuk berpindah.

Para ilmuwan pun memperkirakan jika tiga dari setiap empat penyakit menular baru atau yang muncul pada manusia berasal dari hewan. Pada 2002 muncul penyakit misterius SARS di Tiongkok dan menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia.

Kemudian pada 2017, peneliti mengidentifikasi kelelawar tapal kuda yang hidup di gua terpencil di Provinsi Yunnan menyimpan potongan genetik virus SARS manusia. Mereka pun mengingatkan penyakit serupa bisa saja terjadi dan itu terbukti.

Tetapi menurut Ricardo Rocha dari Universitas Porto, Portugal ini tidak berarti kita harus menyalahkan satu spesies tertentu. Alih-alih, kita harus memperbaiki hubungan dengan alam. Rocha pun menekankan jika kelelawar sangat penting untuk ekosistem yang sehat dan kesejahteraan manusia.

Dr David Robertson dari Universitas Glasgow mengatakan jika akan mengesikan jika kelelawar dimusnahkan, karena penyebaran penyakit dari hewan ke manusia lebih banyak diakibatkan oleh manusia yang menjajah wilayah mereka dibanding sebaliknya.

Dia pun menyebut jika anteseden Sars-Cov-2 kemungkinan telah berada di kelelawar selama berpuluh-puluh tahuun dengan kemampuan untuk menginfeksi spesies hewan lain juga.

Ada laporan terpisah tentang reaksi terkait Covid-19 terhadap kelelawar, termasuk pembunuhan yang disengaja di Peru, India, Australia, Tiongkok, dan Indonesia. Para ilmuwan memperingatkan jika beberapa tindakan yang salah dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi spesies kelelawar dan bahkan meningkatkan risiko penyebaran penyakit. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Ahli Temukan 24 Jenis Virus Corona Kelelawar, Salah Satunya Mirip SARS-Cov-2

Current Issues
Studi: Mayoritas Orang Mungkin Tidak Perlu Dosis Vaksin Covid-19 Keempat

Current Issues
Ilmuwan Temukan Virus Lain Mirip SARS-CoV-2 pada Kelelawar