Current Issues

Bukan Hanya Covid-19, Indonesia Juga Masih Berjuang Melawan Malaria

Dwiwa

Posted on October 13th 2020

Penyebaran Covid-19 di Indonesia masih terus meluas. Tidak hanya kota-kota besar, penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini bahkan sudah menyebar hingga ke wilayah-wilayah endemis malaria seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Dilansir dari The Jakarta Post, kondisi ini telah membuat otoritas setempat meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya beban ganda dari penyakit tersebut. Plasmodium -parasit yang menyebabkan malaria- dapat merusak sistem imun, itulah mengapa pasien malaria rentan terhadap infeksi lain, termasuk covid-19.

Menurut data Kementerian Kesehatan pada April, terjadi tren peningkatan malaria di Indonesia dan peningkatan jumlah daerah endemisitas malaria yang tinggi. Tentu ini membutuhkan upaya, waktu, dan tenaga lebih banyak untuk mengatasi malaria di tengah pandemi Covid-19 yang telah membebani sistem perawatan kesehatan.

Dengan kondisi saat ini dimana semua sumber daya dipusatkan pada Covid-19, pertanyaannya adalah bisakah Indonesia berhasil menyingkirkan malaria sepenuhnya pada 2030 mendatang?

Menurut data Annual Parasite Incidence (API) ada penurunan kasus signifikan dari 2010 ke 2014. Tetapi dari 2014 hingga 2019, pengendalian tampaknya hanya disitu-situ saja. Kemajuan dalam mencapai target pengendalian malaria terhenti di beberapa wilayah seperti Papua, dimana dilaporkan adanya peningkatan kasus.

Data API juga menunjukkan kasus malaria masih terpusat di wilayah timur Indonesia dengan Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur menjadi sarang penularan malaria. Diperkirakan ada 250.644 kasus malaria terjadi di Indonesia dan 86 persen diantaranya di Papua.

Selain itu, wilayah Kalimantan Utara juga tercatat memiliki endemitas malaria yang relatif tinggi, terutama di Penajam Paser Utara. Tingkat endemitas malaria di beberapa daerah menjadi perhatian terutama karena masih belum ada tanda-tanda Covid-19 berakhir.

Saat ini, ada sekitar 4 persen atau 23 kabupaten dan kota di Indonesia yang masih dalam kategori daerah endemisitas tinggi. Hal ini juga berarti ada sekitar 1,1 persen atau 2,9 juta orang Indonesia yang tinggal di wilayah dengan potensi infeksi malaria tinggi.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Didik Budijanto, mengakui jika Covid-19 menjadi tantangan besar untuk program pengendalian dan pencegahan malaria.

Dia mengatakan ini terjadi karena banyak petugas kesegatan khawatir akan tertular Covid-19 jika mereka melanjutkan pekerjaan di lapangan. Begitu juga dengan masyarakat umum yang enggan mencari pelayana kesehatan dengan alasan yang sama.

“Malaria bisa menjadi komorbid atau koinfeksi dari Covid-19. Seseorang bisa menjadi sakit parah jika mereka terserang malaria sekaligus terinfeksi Covid-19,” ujar Didik kepada The Jakarta Post dalam wawancara email pada Jumat.

Sejumlah pedoman, protokol hingga regulasi adaptasi normal baru pun sudah dibuat oleh pemerintah untuk mengatasi tantangan ini. Menurut Didik, inovasi menjadi hal penting dalam pengendalian malaria saat ini. Mulai dari pendistribusian jaring insektisida tahan lama, investigasi epidemiologi dan pengendalian vektor, harus bisa berlangsung dengan tetep menerapkan protokol Covid-19.

Sejalan dengan Didik, Direktur Senior Asia-Pasific Malaria Elimination Network (APMEN) Amita Chebbi mengatakan Covid-19 telah mengakibatkan gangguan signifikan pada program malaria nasiolan untuk memberikan layanan secara efektif kepada masyarakat yang membutuhkan.

Adanya pembatasan pergerakan yang dilakukan pemerintah baik antar wilayah maupun negara untuk menghentikan penyebaran Covid-19 telah membuat distribusi peralatan, obat-obatan, dan alat tes diagnostik terpengaruh.

“Tidak adanya informasi yang jelas tentang Covid-19 telah membuat kepanikan di masyarakat, mempengaruhi pemberian pelayanan oleh petugas kesehatan garis depan yang mendapat stigma ketika menjangkau populasi berisiko ini,” jelas Chebbi.

Waktu yang tersisa bagia Asia-Pasifik untuk mencapai tujuan mengeliminasi malaria hanya satu abad. Hal ini tampaknya membuat negara-negara harus mengambil langkah baru yang belum pernah dilakukan untuk memastikan pelayanan malaria seperti penemuan kasus dan perawatan bisa berlanjut.

Karena malaria menyebar melintasi perbatasan, pemberantasan malaria jelas membutuhkan komitmen nasional, regional dan global. Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan target regional dan subregional yang bertujuan melenyapkan malaria di seluruh kabupaten dan kota secara bertahap agar bisa mencapai target bebas malaria pada 2030. (*)

Related Articles
Current Issues
Studi: Kasus Covid-19 di Indonesia Jauh Lebih Banyak dari Data Pemerintah

Current Issues
Virus Corona Ternyata Bisa Bertahan 9 Jam di Kulit, Yuk Rajin Cuci Tangan

Current Issues
Kasus Terus Melonjak Meski Jakarta Terapkan PSBB Ketat