Current Issues

Ternyata Cewek Lebih Patuh Protokol Covid-19 Daripada Cowok

Dwiwa

Posted on October 11th 2020

Pandemi Covid-19 masih belum ada tanda-tanda mereda. Jumlahnya bahkan terus meningkat di berbagai belahan bumi. Beberapa wilayah yang sempat berhasil menekan angka penularan bahkan telah mengalami gelombang kedua.

Sementara penyebaran masih begitu masif, obat dan vaksin untuk penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini masih dalam tahap pengembangan. Satu-satunya yang bisa dilakukan saat ini adalah mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker, jaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Meski masih belum semua orang menjalankan protokol kesehatan ini, tetapi beberapa penelitian mengungkap jika jumlahnya mengalami peningkatan dibanding awal pandemi. Dan ternyata, perempuan menjadi kelompok yang lebih patuh terhadap protokol kesehatan loh.

Dilansir dari CNN, para peneliti di Universitas New York dan Universitas Yale melakukan pemeriksaan terhadap data survei, observasi jalan, dan menganalisa pergerakan smartphone untuk bisa mengambil kesimpulan ini.

Perempuan tampaknya tidak hanya lebih baik dalam melakukan tindakan pencegahan. Temuan mereka juga mengungkap jika perempuan lebih mendengarkan apa kata ahli dan menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan sebagai respon terhadap Covid-19.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Behavioral Science and Policy ini melakukan survei pada 800 orang dan menemukan jika dibanding pria, perempuan cenderung mengatakan mereka lebih menjaga jarak, tinggal di rumah, rutin mencuci tangan, dan mengurangi pergaulan bersama keluarga dan teman.

Tetapi, perilaku yang dilaporkan sendiri tidak selalu mewakili perilaku sebenarnya secara akurat. Karena itu mereka juga melihat para pejalan kaki dan penggunaan masker di tiga lokasi berbeda di Amerika Serikat - Kota New York, New Haven, Connecticut dan New Brunswick, New Jersey – untuk melihat berapa banyak yang memakai masker.

Hasilnya, 55 persen perempuan menggunakan masker dengan benar dibanding dengan laki-laki yang hanya 38 persen, meskipun distribusi jenis kelamin di wilayah tersebut kurang lebih hampir sama. Setidaknya ada 127 wanita dan 173 laki-laki yang diamati pada 4-5 Mei.

Kemudian mereka juga melihat bagaimana penerapan jaga jarak pada populasi Amerika Serikat secara lebih luas dengan menggunakan data GPS dari 15 juta smartphone. Data itu digunakan untuk melacak pergerakan dan kunjungan pada toko tidak penting seperti spa, toko bunga, dan gym antara 9 maret dan 29 Mei.

Mereka menemukan jika wilayah yang memiliki jumlah laki-laki lebih banyak memiliki penerapan jarak sosial yang lebih rendah. Perbedaan ini bahkan masih tetap ditemukan setelah memperhitungkan kasus Covid-19 per kapita di negara tersebut.

Keberadaan anjuran untuk tinggal di rumah, karakteristik demografis – seperti pendapatan, pendidikan dan profesi – menjadi hal yang dapat mempengaruhi apakah orang bekerja dari rumah atau bekerja di sektor yang dianggap penting.Temuan ini rupanya bukan hal yang mengejutkan bagi para peneliti.

Sebab perempuan memang telah sejak lama lebih rajin mencuci tangan dibanding laki-laki. Pada tinjaun di tahun 2016 yang mengamati lusinan negara menemukan jika perempuan 50 persen lebih mungkin untuk mempraktikkan, atau meningkatkan perilaku perlindungan seperti mencuci tangan dengan benar, memakai masker dan memberishkan permukaan dalam konteks epidemi seperti flu.

“Penelitian sebelumnya sebelum pandemi menunjukkan jika perempuan lebih sering mengunjungi dokter dalam keseharian mereka dan mengikuti anjuran dibanding pria,” ujar Irmak Olcaysoy Okten, seorang peneliti postdoctoral di Departemen Psikologi Universitas New York dan penulis utama makalah tersebut dalam sebuah pernyataan.

Selain itu, Okten mengatakan jika perempuan lebih memperhatikan kebutuhan terkait kesehatan orang lain. Jadi bukan hal yang mengejutkan jika kecenderungan ini diterjemahkan menjadi upaya yang lebih besar oleh perempuan dalam mencegah penyebaran pandemi.

Dia pun menyarankan agar melakukan penyelarasan pesan kesehatan yang lebih banyak menargetkan pria dapat menjadi strategi yang lebih efektif untuk menurunkan penyebaran virus.

“Pembuat kebijakan dapat menargetkan ilusi laki-laki tentang kekebalan... dan mengingatkan mereka soal tanggung jawab terhadap orang lain dan diri sendiri selama periode kritis. Menyebarkan pesan pencegahan di tempat dimana pria sering berkumpul bisa menjadi strategi efektif,” saran penelitian itu.(*)

Related Articles
Current Issues
Musim Hujan Datang, Wajib Makin Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Current Issues
Seminggu Cetak 3 Kali Rekor! Yuk Makin Disiplin Protokol Covid-19

Current Issues
Ingin Survive Saat Pandemi, Perbanyak Diam