Lifestyle

Hari Kesehatan Mental Dunia, Ini 6 Cara Melawan Stigma Negatif Penyakit Mental

10 Oktober 2020: “Mental Health for All: Greater Investment – Greater Access”

Kezia Kevina Harmoko

Posted on October 10th 2020

(Anna Golde via Icons8)

Selamat hari kesehatan mental dunia! Tahu nggak sih kalau hari ini, kita punya perayaan penting untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental kita.

Berawal dari tahun 1992, sebuah kegiatan tahunan dimulai oleh Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH), rutin setiap 10 Oktober. Jadi lah tanggal itu dijadikan hari perayaan khusus!

Tema perayaan tahun ini adalah “Mental Health for All: Greater Investment – Greater Access”. Kita tahu dong kalau kesehatan mental sering kali tidak dipandang penting layaknya kesehatan fisik. Orang dengan penyakit mental dipandang aneh bahkan dikucilkan. Ini makin buruk karena akses untuk kesehatan mental juga terhitung sedikit.

Masalah utamanya adalah stigma. Pandangan terhadap penyakit mental atau seseorang yang memiliki masalah mental cenderung negatif. Mungkin karena memang kita masih kurang sadar kalau penyakit mental adalah hal yang natural karena kita adalah manusia.

Atau karena takut untuk mengalami penyakit yang sama, jadi lebih baik dianggap tidak ada atau dihindari.

Atau karena rasa sakit yang dialami seseorang nggak terlihat di mata orang lain, sehingga dianggap mengada-ada.

Buat kamu yang menjadi korban dari stigma ini, be strong. Ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk sedikit demi sedikit melawan pandangan negatif tersebut, seperti yang dijabarkan oleh Toni Bernhard, penulis deretan buku self-help.

1. Jelaskan pada orang di sekitar bagaimana hidup kita sebenarnya

Memang risky karena kita hidup di dunia yang judgemental. Tapi, patut dicoba karena dengan ini kita dan orang lain yang mengalami hal yang sama bisa lebih dimengerti.

Deskripsikan bagaimana perasaanmu, betapa sulit untuk survive dari rasa sakit atau penyakit yang kita miliki. Bagaimana hari-hari di mana kita nggak punya energi untuk sekadar mengangkat telepon apalagi meet-up hingga akhirnya menghindari banyak interaksi sosial. Jelaskan bagaimana ketika hari buruk dan juga hari baik terjadi.

Tapi ingat, hindari untuk mengeluh. Cukup deskripsikan aja apa yang kamu alami. Kalau usaha kamu menjelaskan ini gagal memberikan dampak yang diharapkan, hargai dirimu sendiri karena sudah mencoba!

2. Rekasi orang-orang = rasa khawatir dan takut yang mereka rasakan

Seringkali, stigma adalah bentuk kekhawatiran atau ketakutan kalau mereka akan mengalami kondisi tersebut. Kita tahu kalau sakit adalah hal yang normal dialami setiap makhluk hidup dan pasti ada suatu saat penyakit menghampiri.

Reaksi seseorang terhadap apa yang kita alami sebenarnya ditujukan untuk mereka sendiri ketika mereka merasakan hal yang sama. Jadi, nggak perlu kita ambil dan tetap teguh aja kalau sakit itu normal kok.

3. Melatih self-compassion

Self-compassion adalah tindakan untuk menyayangi diri kita sendiri, dalam keadaan apapun. Salah satu caranya adalah mendeskripsikan perasaan kita sendiri ketika menerima reaksi negatif karena apa yang kita rasakan. Misalnya, “Aku sedih teman-temanku menatap aku aneh karena aku sakit” atau deskripsi lainnya. Ulang-ulang secara perlahan.

Ketika kita memberi suara pada suatu perasaan, kita memberi kepedulian terhadap diri sendiri. Kepedulian ini bisa mengikis rasa sakit karena stigma tadi.

4. “Drop It”

 Ketika kita merasa marah karena menjadi korban stigma, sering kali pikiran kita malah menjadi liar dengan membayangkan hal-hal buruk yang menjadi penyebab lahirnya stigma. Kalau sudah begini, kita justru merasa lebih buruk.

Toni Bernhard mengenalkan metode bernama “Drop It”. Kalau pikiran kita sudah mulai ke mana-mana, langsung tegaskan diri kita untuk “berhenti!” dan segera mengalihkan perhatian ke kegiatan yang melibatkan indera. Entah itu melihat dan memerhatikan sesuatu, meraba tekstur, mendengarkan sesuatu, atau merasakan setiap embusan nafas.

5. “It is just it is

Apa sih yang baru dari orang-orang yang memandang negatif terhadap penderita penyakit mental? Bukan berarti kita harus pasrah terus-terusan jadi korban stigma, tapi sadari dengan ikhlas kalau memang ketika hidup pasti ada aja orang yang nggak sepaham sama kita tapi ada juga yang paham dan memberikan dukungan.

Berharap orang-orang bisa berubah dan menjadi sesuai dengan yang kamu mau cuma bakal bikin perasaan makin buruk. It is just it is. Kalau kita sudah berusaha sesuai kapasitas kita untuk mengedukasi tapi belum bisa berdampak, ya sudah.

6. Fokus ke orang-orang yang mendukung, hilangkan orang-orang toxic

Mungkin susah untuk memutuskan hubungan dengan orang yang dekat namun terus-menerus memandang kita dengan stigma. Entah itu pandangan “Kamu terlalu muda buat punya penyakit atau kondisi seperti itu” atau “Kan keluargamu bahagia dan cukup, kok bisa kamu sakit mental? Kurang bersyukur ya?” dan lain-lain.

Kalau kita nggak menemukan apa yang kita perlu seperti dukungan, kepedulian, dan lain-lain, mungkin selama ini kita mencari di tempat yang salah.

Coba juga untuk berhubungan lagi dengan teman lama. Bisa jadi mereka merasakan hal yang sama seperti yang kamu alami dan bisa relate dan mendukung ketika diajak bicara. (*)

Related Articles
Entertainment
Olivia Rodrigo Ungkap Pengalaman Konsultasi Psikologis, Semua Perasaan Itu Valid

Lifestyle
Ayo Move On! Ini 5 Langkah yang Bisa Kamu Lakukan

Portrait
Becky G, Musisi Muda Inspiratif yang Vokal tentang Isu-isu Sosial