Interest

Dua Ilmuwan Jadi Perempuan Pertama Peraih Nobel Kimia Berkat Pengeditan Genom

Dwiwa

Posted on October 9th 2020

(Jennifer A. Doudna (kiri) dan Emmanuelle Charpentier. Alexander Heinl—picture alliance/Getty Images via Times)

Jennifer Doudna sempat tidak percaya saat sebuah telepon dari reporter membangunkannya pada dini hari untuk menanyakan reaksinya terkait memenangi hadiah Nobel Kimia 2020 yang diumumkan pada Rabu (7/10). Penghargaan itu didapat berkat temuannya bersama Emmanuelle Charpentier soal metode pengeditan genom.

Dilansir dari Time, Doudna dan Charpentier berhasil menemukan apa yang disebut sebagai CRISPR-Cas9, sebuah teknologi pengeditan genom yang memungkinkan ilmuwan mengedit DNA dari hampir semua makhluk hidup dengan presisi dan kemudahan yang belum pernah dilakukan.

Semenjak mereka menggambarkan teknologi ini pada 2012, mereka dan para peneliti lain mempelajari CRISPR untuk kemungkinan digunakan dalam pengobatan penyakit manusia mulai dari kanker hingga HIV serta dalam pertanian untuk membuat tanamanan bisa bertahan di musim kemarau dan hama.

Doudna dan Charpentier pun menjadi perempuan pertama yang berhasil memenangkan Nobel Kimia. Doudna juga menjadi perempuan pertama dari Universitas California, Berkeley, yang berhasil meraih penghargaan tersebut.

Seorang kolega di Universitas California, Berkeley yang pertama memperkenalkan Doudna pada kemampuan aneh bakteri yang bisa secara rapi memotong gen yang disisipkan virus secara kasar ke dalam genom bakteri.

Karena virus tidak bisa menyalin genom mereka sendiri, mereka membutuhkan bantuan organisme lain termasuk vakteri untuk membantu. Karena penasaran, Doudna mulai menyelidiki fenomena tersebut hingga akhirnya bertemu dengan Charpentier.

Hanya dalam setahun, tepatnya pada 2012, Doudna dan Charpentier telah mempublikasikan makalah terobosan mereka menggambarkan CRISPR-Cas9, sebuah sistem yang memberi peneliti “gunting” molekuler untuk memotong DNA secara tepat dimana pun mereka inginkan.

“Saya suka menyebutnya sebagai teknologi demokratisasi, yang tersedia secara luas dan dapat diakses oleh para ilmuwan secara global, dan tidak mahal untuk mendapatkannya,” ujar Doudna. “Ini benar-benar membuka pintu untuk semua jenis penelitian dan sebaliknya meningkatkan aplikasi pada yang tidak mungkin.”

Ilmuwan pun terus melakukan penelitian untuk menemukan cara baru dan inovatif untuk menerapkan teknologi ini dan banyak perusahaan rintisan bermunculan untuk mengeksploitasi potensi tersebut. Perebutan hak paten pun telah terjadi selama bertahun-tahun antara Universitas California, Berkeley, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Feng Zhang dari MIT merupakan orang pertama yang menggambarkan CRISPR dalam apa yang disebut sel eukariotik yang mencakup pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Meski begitu, temuannya baru diterbitkan beberapa bulan setelah Doudna dan Charpentier, yang klaim patennya mencakup tekonologi secara lebih luas.

Dalam delapan tahun terakhir, ilmuwan yang mengeksploitasi CRISPR menemukan bagaimana menggunakannya untuk mengedit gen HIV pada sel manusia, memotong gen yang bertanggung jawab atas kondisi jantung bawaan dan mencari cara untuk menghapus gen penyebab kanker, mengarah pada terapi baru yang menyelamatkan nyawa dan sangat dicari.

“Bidang ini dalam banyak hal telah siap untuk teknologi yang memungkinkan manipulasi DNA dengan mudah dan tepat, persis seperti yang dilakukan CRISPR,” kata Doudna. Tidak diperlukan latihan atau alat khusus untuk menggunakan teknologi ini, kalian hanya perlu melisensikannya. (*)

Related Articles
Tech
Ilmuwan Ciptakan Embrio Hasil Hibrid Sel Manusia dan Sel Tikus

Korea
Jadi yang Pertama, Ini Berbagai Fakta MV "DNA" BTS yang Capai 1 Miliar Views

Current Issues
Vaksin Covid-19 Buatan Tiongkok Baru Siap untuk Publik Tahun Depan