Tech

Ulang Tahun ke-10, Konten Instagram Tidak Lagi Sekadar Gambar-Gambar Menghibur

Dwiwa

Posted on October 4th 2020

Sejak ditemukan pertama kali oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger pada 2010, Instagram telah berkembang menjadi aplikasi yang sangat populer. Dalam dua tahun, aplikasi ini berhasil menarik 2 miliar pengguna dan terus bertambah.

Aplikasi ini berhasil menarik perhatian publik lewat filter gambar, kemudahan mengedit foto dan berbagi yang begitu gampang. Dilansir dari Yahoo News!, AFP mengungkap jika gambar-gambar menyenangkan yang dulu identik dengan Instagram mulai ditantang oleh berbagai aktivis konten.

Apalagi di tengah pandemi dimana banyak orang kehilangan pekerjaan, sakit, terisolasi dan depresi, dan bahkan protes terkait Black Live Matter dan segala hal yang berhubungan dengan pemilu Amerika Serikat.

Rebecca Davis menjadi salah satu orang yang menyumbang konten-konten aktivis dengan membuat Rallyandrise pada 2016. Ini merupakan akun yang ditujukan untuk membantu orang-orang terlibat dengan politik.

“Bukan karena tidak ada waktu dan tempat untuk foto-foto cantik, tetapi mungkin orang ingin menemukan keseimbangan,” ujar Rebecca. Jumlah subscriber di akun milik penduduk New York ini bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 24 ribu dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Mei, protes meledak di seluruh Amerika Serikat setelah sebuah video yang memperlihatkan seorang pria berkulit hitam yang diborgol bernama George Floyd sekarat dan seorang petugas polisi berlutut di lehernya lebih dari lima menit menyebar di media sosial.

Secara bersamaan, pandemi juga telah membuat orang-orang tertahan di rumah dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk online dibanding sebelumnya. Apalagi ditambah dengan adanya pemilihan presiden AS pada November mendatang.

“Orang-orang sangat membutuhkan nasihat dan petunjuk untuk melakukan sesuatu,” ujar Rebecca. Petisi online, penggalangan dana, dan pengorganisasian telah menjadi standar dan Instagram menjadi media utama untuk tren ini.

Beberapa orang terkenal seperti mantan calon persiden AS Hillary Clinton dan selebritis Kourtney Kardashian telah menggunakan Instagram untuk menyoroti terkait isu ras dengan menyerahkan akun mereka kepada orang Afrika-Amerika terkemuka selama 24 jam.

Instagram adalah platform tertinggi kami, paling efektif dalam hal membuat pengguna untuk mengikuti melalui gerakan penghubung,” ujar manajer media American Civil Liberties Union (ACLU) Emily Patterson.

Dia merujuk pada membuat orang menandatangani petisi, mengelola protes, atau menghubungi anggota Kongres. “Ini memiliki peserta yang ingin kami jangkau,” lanjutnya.

Fitur Instagram Stories juga memungkinkan pengguna untuk menampilkan koleksi gambar seperti saat demo. Dan aplikasi tersebut juga terus meningkatkan berbagai rangkaian alat untuk berbagi.

Bagi gerakan politik, Instagram memiliki para penonton berusia dewasa muda. Mulai dari remaja hingga orang-orang berusia 30-an, terhubung dengan teman dan rekan-rekan sebayanya.

“Di Facebook ini bukan hanya berisi teman dan komunitas yang dipilih, tetapi juga orang tua kalian, teman sekamar, mantan mitra – koleksi dari orang-orang yang pernah kita kenal. Jadi orang-orang tidak ke sana untuk sesuatu yang sangat penting bagi mereka,” ujar Patterson.

Lagipula, Instagram adalah tempat dimana orang paling banyak menghabiskan waktu, yang membuatnya tepat untuk aktivisme. Dan menurut Patterson, hasilnya terbukti.

Patterson mengungkap ACLU telah mendapat banyak keluhan dari pengacara AS tentang betapa mereka membenci orang-orang yang di media sosial yang membahas pemisahan anak imigran dari orang tua mereka di perbatasan Meksiko. Sebagian besar datang dari akun dari Instagram.

Contoh lain adalah apa yang dilakukan oleh aktivis krisis iklim yang masih remaja Greta Thunberg. Melalui Instagram, dia mengajak kaum muda di seluruh dunia untuk lebih peduli dengan krisis iklim yang saat ini sedang terjadi.

Aktivis lingkungan memang sangat cocok dengan aplikasi yang berfokus pada gambar, membuat orang-orang tergerak untuk berbuat sesuatu dengan foto-foto yang menyayat hati seperti koala yang terbakar di kebakaran di Australia.

Seorang imunologis Dr Noc menyebut jika hanya sedikit orang yang menggunakan Instagram untuk pendidikan, jadi harus ada kejutan untuk mereka terkait pengetahuan.

“Orang-orang lebih senang dengan informasi kecil lewat caption, ini lebih mudah dicerna dan juga menghibur,” ujar Noc yang menggunakan akunnya untuk menjelaskan Covid-19 dan pandemi yang sedang berlangsung.

Di dunia teknologi yang kini berkembang semakin cepat, perayaan ulang tahun ke-10 Instagram ditandai dengan sisi politik baru yang berada di bawah ancaman para pemula yang lebih muda. (*)

Artikel Terkait
Tech
Salip Facebook, TikTok Jadi Aplikasi Paling Banyak Diunduh Sepanjang 2020

Tech
Instagram Uji Coba Fitur Self Fundraising di Beberapa Negara

Tech
Permudah Pengusaha, Facebook dan Instagram Uji Coba Fitur Shops