Interest

Greenland Bisa Kehilangan Es Lebih Banyak Abad Ini Dibanding 12.000 Tahun Lalu

Dwiwa

Posted on October 2nd 2020

 

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature baru-baru ini mengungkap bukti baru jika lapisan es paling utara Bumi yang mengandung cukup banyak air beku yang mampu menaikkan permukaan laut global hingga 24 kaki (7,3152 meter), telah memasuki periode pencairan yang cepat.

Dilansir dari National Geographic, bukti ini juga menyingkirkan anggapan bahwa kerusakan yang terjadi di Greenland akhir-akhir ini merupakan bagian dari siklus alam, dengan menunjukkan betapa cepatnya pencairan saat ini dibandingkan dengan  naik turunnya masa geologis.

“Kami sekarang yakin bahwa abad ini akan menjadi unik dalam konteks variabilitas alami selama 12 ribu tahun terakhir,” jelas penulis utama penelitian Jason Briner, seorang glasiologi di Universitas di Buffalo.

Dalam 40 tahun terakhir, pemanasan Arktik yang cepat telah menyebabkan Greenland kehilangan es dengan cepat. Tetapi untuk menempatkan tren ini dalam konteks jangka panjang, ilmuwan masih memerlukan catatan pertumbuhan dan penurunan lapisan es selama ribuan tahun.

Perubahan ukuran lapisan es Greenland sebelumnya sudah pernah coba direkontruksi selama periode Holosen dnegan menggunakan isotop oksigen-18 di dalam inti es, yang mengindikasikan suhu masa lalu. Tetapi kebanyakan analisis tersebut memperkirakan kondisi iklim di seluruh Greenland daru satu inti es, membuat ketidakpastian yang signifikan pada rekontruksi.

“Orang-orang telah membuat model lapisan es Greenland di masa lalu dan membuat model di masa depan. Belum ada satu studi pun yang menggunakan model yang sama, metode sama, dan menggabungkan seluruh peristiwa dari masa lalu hingga masa depan,” ujar Briner.

Briner bersama rekan-rekannya telah mengkombinasikan model lapisan es dengan data suhu dan salju dari serangkaian inti es yang dikumpulkan di seluruh Greenland. Mereka kemudian memperluas informasi ini ke seluruh lapisan es menggunakan model iklim dari 12 ribu tahun lalu hingga tahun 2100 M.

Hasilnya menunjukkan jika pencairan Greenland saat ini sama ekstrimnya dengan apa pun yang pernah terjadi selama periode Holosen. Skeitar 10 ribu hingga 7 ribu tahun lalu, pemanasan yang dikenal sebagai panas maksimum Holosen menyebabkan lapisan es Greenland runtuh secara dramatis.

Selama satu abad ekstrim, sekitar 6.000 miliar ton es mencair –dibandingkan dengan 6.100 miliar ton es Greenland yang bisa hilang pada abad ini jika laju pencairan rata-rata dari tahun 2000 hingga 2018 dijadikan prediksi untuk masa depan.

Tetapi angka 6.100 miliar ton ini adalah perkiraan yang konservatif terkait seberapa banyak es yang akan hilang di Greenland. Ketika karbon terus menumpuk di atmosfer, planet akan terus memanas dan laju pencairan rata-rata akan terus meningkat.

Dalam skenario optimis dimana manusia dengan cepat menurunkan emisi karbon global pun, model yang digunakan Briner menunjukkan Greenland akan kehilangan sekitar 9.700 miliar ton es pada abad ini.

Tetapi jika kita terus membakar bahan bakar fosil dan mengabaikannya, Grennland dapat kehilangan hampir 21.000 miliar ton es pada abad ini, dengan tingkat pencairan kira-kira empat kali lebih tinggi daripada perkiraan model tertinggi selama 12 ribu tahun terakhir.

Hilangnya es yang disimpulkan oleh par apeneliti dari model mereka mirip dengan data pengamatan selama 40 tahun terakhir, memberikan dukungan terkait temuan itu.

Meski begitu, penelitian ini baru dilakukan di wilayah Greenland barat daya yang menunjukkan pencairan paling tinggi selama beberapa tahun terakhir. Para peneliti sedang merencanakan untuk menerapkan model ini ke seluruh Greenland dan menggabungkan proses tambahan yang mencairkan dan memecah es.

Ted Scambos, seorang glasiologi di National Snow and Ice Data Center yang tidak terlibat dalam penelitian menyebut ini bisa menjadi jawaban bagi orang-orang yang mengabaikan efek perubahan iklim pada bumi.

Dia juga menyebut jika pada titik ini, komunitas ilmuwan telah memiliki cukup bukti untuk mengatakan dengan keyakinan bahwa Greenland –seperti iklim bumi secara umum, akan secara dramatis berubah kecuali manusia melakukan perubahan yang berarti. (*)

 

Related Articles
Interest
Kini Es di Bumi Mencair Jauh Lebih Cepat Dibanding Pertengahan 1990-an

Current Issues
Perubahan Iklim dan Covid-19: Apakah Global Warming Menyebabkan Pandemi?

Interest
Perlu Sistem Peringatan Dini Lebih Baik untuk Hadapi Cuaca Ekstrim